Home / BERITA / FEATURE

Selasa, 19 Mei 2026 - 01:11 WIB

Air Hujan dan Air Mata Kerap Hadir Bersamaan di Rumah Reyot Murtala

MEDIALITERASI.ID | ACEH UTARA – Air hujan menetes dari sela-sela atap rumbia yang bolong, membasahi lantai tanah di rumah kecil milik Murtala. Di sudut ruangan yang remang, pria 47 tahun itu hanya bisa terdiam ketika hujan dan kesedihan datang bersamaan.

Malam bagi Murtala sering kali terasa lebih panjang saat hujan turun. Angin dingin masuk dari celah dinding kayu yang mulai terbuka, sementara aroma kayu lapuk bercampur tanah basah memenuhi ruangan sempit itu.

Saat hujan mulai deras, Murtala perlahan berdiri menuju sudut rumahnya. Tangannya mematikan arus listrik dari kWh meter sebelum membungkus bohlam lampu dengan plastik agar tidak terkena air. Setelah itu, ia mengambil sarung lusuh dan berjalan menuju pos jaga desa untuk melanjutkan istirahat malamnya.

“Kalau hujan deras, seluruh bagian rumah basah dan becek. Saya sering tidur di pos jaga untuk berteduh,” ujar Murtala saat ditemui di rumahnya di Desa Meunasah Kumbang, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Minggu, 17 Mei 2026.

Selama tiga tahun terakhir, Murtala bertahan tinggal seorang diri di rumah kayu berukuran 3 x 5 meter yang kondisinya rusak parah dan nyaris roboh. Rumah itu berdiri di atas pondasi bekas rumah almarhum neneknya.

Sebagian dinding rumah sudah hilang. Papan kayu tampak lapuk dimakan usia. Tiang rumah mulai miring, sementara atap rumbia dipenuhi lubang hingga air hujan bebas masuk hampir ke seluruh bagian rumah.

Di sudut yang dulunya menjadi ruang keluarga terlihat beberapa pakaian tergantung di dinding kayu yang mulai lapuk. Sebuah bohlam redup yang dibungkus plastik menggantung di tengah ruangan, sementara lantai tanah tampak basah akibat air hujan yang masuk dari berbagai sisi atap. Di dalam rumah itu juga hanya terlihat satu kasur Palembang usang yang sudah koyak serta sebuah bantal lusuh.

Baca Juga  PLN Aceh Tanpa Kecelakaan, UP3 Lhokseumawe Gelar Forum Keselamatan Ketenagalistrikan

Murtala tak lagi menaruh ember di sudut rumahnya saat hujan turun. Lubang di atap rumbia rumah itu sudah terlalu banyak, hingga air masuk hampir dari seluruh bagian rumah.

Kondisi lantai rumah yang masih berupa tanah membuat bagian dalam rumah berubah menjadi becek setiap hujan turun. Bohlam lampu di rumah tersebut juga kerap kemasukan air hingga rusak.

“Saya takut terjadi korsleting listrik kalau hujan malam,” katanya lirih sambil menatap atap rumahnya.

Namun bagi Murtala, bukan hanya rumahnya yang perlahan hancur. Kebersamaan keluarganya juga ikut tercerai oleh keadaan.

Sudah sekitar tiga tahun dirinya tinggal sendiri di rumah yang jauh dari kata layak huni. Anak laki-lakinya kini bekerja di salah satu warung kopi di Kabupaten Bireuen, sedangkan anak perempuannya tinggal di rumah tetangga karena rumah mereka dinilai tidak lagi aman ditempati.

“Kadang saya sendiri lupa kapan terakhir makan bersama anak-anak,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Sebagai seorang ayah, Murtala mengaku merasa gagal memberikan kenyamanan dan tempat tinggal yang layak bagi anak-anaknya.

Bagian Belakang Rumah dan Kamar Tidur yang sudah tidak ada atap

“Kalau lihat rumah orang lain terang saat hujan, saya sedih. Anak saya harus tinggal di rumah orang karena rumah kami bocor,” katanya pelan.

Murtala terdiam beberapa saat sebelum kembali berbicara.

“Saya cuma ingin anak-anak tetap punya rumah seperti anak-anak yang lain untuk pulang bersama keluarganya,” ujar Murtala sambil menahan air mata.

Sehari-hari, pria kelahiran 1 Maret 1979 itu bekerja sebagai tukang pangkas rambut di sebuah tempat pangkas di Kecamatan Kuta Makmur. Dari pekerjaan itu, ia memperoleh penghasilan yang tidak menentu.

Untuk sekali memangkas rambut pria dewasa, Murtala biasanya menerima upah Rp20 ribu, sedangkan untuk anak-anak Rp10 ribu. Namun dari penghasilan tersebut, dirinya masih harus menyetor biaya kepada pemilik tempat pangkas.

Baca Juga  Kementrian Koperasi dan UKM RI Kembali Bantu Pelaku Usaha Mikro

Untuk makan sehari-hari, Murtala mengandalkan penghasilannya dengan membeli nasi bungkus. Ia mengaku bukan tidak ingin memasak sendiri, namun selain tidak memiliki bahan makanan, sebagian besar peralatan dapurnya juga sudah rusak.

“Kadang beli nasi bungkus saja kalau ada uang,” katanya.

Dari hasil panen padi yang baru diperolehnya, Murtala akhirnya berhasil mengumpulkan uang Rp2 juta setelah membayar biaya sewa tanah sawah. Uang tersebut kini digunakan untuk memperbaiki rumahnya sedikit demi sedikit.

“Baru kali ini saya bisa kumpulkan uang Rp2 juta. Jadi saya nekat mulai memperbaiki rumah walaupun belum cukup,” ujarnya.

Menurut Murtala, hampir seluruh bagian rumah harus diperbaiki atau bahkan dibangun ulang. Namun ia tidak mengetahui berapa biaya yang dibutuhkan karena kerusakan rumah sudah terlalu parah.

Ia mengaku belum pernah menerima bantuan sosial maupun bantuan rumah layak huni. Meski demikian, dirinya pernah beberapa kali dimintai berkas pengajuan bantuan rumah oleh beberapa pihak. Namun hingga kini belum ada kepastian terkait bantuan tersebut.

Geuchik Desa Meunasah Kumbang, Abdul Munir, membenarkan bahwa Murtala merupakan salah satu warga kurang mampu di desanya dan dinilai layak mendapatkan bantuan rumah layak huni.

“Murtala memang warga miskin dan layak mendapatkan bantuan dari pihak manapun, baik dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara maupun Pemerintah Aceh melalui Baitul Mal,” ujar Abdul Munir.

Ia mengatakan pemerintah desa siap membantu melengkapi administrasi dan surat-menyurat apabila dibutuhkan dalam proses pengajuan bantuan rumah untuk Murtala.

Saat hujan kembali turun malam itu, Murtala perlahan mematikan listrik rumahnya sebelum berjalan menuju pos siskamling dengan sarung lusuh di tangan. Di belakangnya, rumah kecil yang nyaris roboh itu tetap berdiri sunyi, menyimpan harapan seorang ayah agar anak-anaknya suatu hari masih punya tempat untuk pulang.  (EQ)

Share :

Baca Juga

ACEH

Gubernur Aceh Cabut Pergub No 2 Tahun 2026, Layanan JKA Kembali Normal

ACEH

Pengacara Aceh Laporkan 3 Akun Medsos ke Polda atas Dugaan Pencemaran Nama Baik

BERITA

Usai Gelombang Protes, Pemerintah Aceh Resmi Cabut Pergub JKA

ACEH

Gubernur Aceh Cabut Pergub JKA, Masyarakat Bisa Berobat Seperti Biasa

BERITA

Polda Metro Jaya Gagalkan Peredaran 32 Kilogram Sabu Asal Malaysia

BERITA

Pidato “Dolar untuk Elite” Dinilai Tutupi Kerentanan Ekonomi Pemerintah

BERANDA

Kerja Sama Baitul Mal-EWIC Malaysia, Lahirkan Tenaga Ahli Pariwisata Aceh Bertaraf Internasional

BERITA

Brimob Polda Metro Jaya Sterilisasi Venue Konser One Ok Rock di Senayan