Home / BERITA / EKBIS / NASIONAL / POLITIK

Senin, 18 Mei 2026 - 09:51 WIB

Pidato “Dolar untuk Elite” Dinilai Tutupi Kerentanan Ekonomi Pemerintah

MEDIALITERASI.ID | JAKARTA – Pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kenaikan dolar hanya membuat pusing kalangan elite yang gemar bepergian ke luar negeri dinilai mengaburkan persoalan mendasar ekonomi Indonesia. Alih-alih menjelaskan langkah pemerintah menghadapi pelemahan rupiah, pernyataan itu justru menyempitkan persoalan menjadi lelucon gaya hidup.

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut masyarakat desa tidak memakai dolar. Ia menyebut nama Titiek Soeharto, Sakti Wahyu Trenggono, Rosan Roeslani, hingga Anindya Bakrie sebagai contoh orang yang “pusing” saat rupiah melemah. Ruangan pun tertawa.

Namun di balik humor itu, masalahnya menjadi jelas: pemerintah memindahkan fokus publik dari kerentanan fiskal ke gaya hidup segelintir orang. Padahal pengguna dolar terbesar di Indonesia bukan turis atau pejabat yang melancong, melainkan negara itu sendiri.

Negara membeli BBM, pangan, dan bahan baku industri dengan dolar. Negara membayar utang luar negeri dan menjaga cadangan devisa dalam dolar. Sebagian besar arus ekonomi global yang masuk ke APBN juga berjalan dalam irama dolar.

Baca Juga  Ketua DPRA Tinjau Rumah Tidak Layak Huni dan Tampung Permohonan Warga

Sejarawan ekonomi mencatat, trauma kurs pernah menghantam Indonesia pada 1998. Runtuhnya rupiah saat itu memicu ambruknya perbankan, melonjaknya utang, PHK massal, inflasi tinggi, hingga krisis politik yang meruntuhkan Orde Baru.

“Mei 1998 mengajarkan satu hal penting: ketika rupiah limbung, negara ikut goyah,” kata pengamat yang dikutip dalam analisis publik.

Pelemahan rupiah kini kembali menyentuh kehidupan rakyat melalui jalur sunyi. Harga pupuk, pakan ternak, minyak goreng, hingga mi instan bergerak seiring kenaikan dolar. Ekonomi modern membuat dampak kurs merambat ke desa maupun kota, terlepas dari apakah seseorang pernah memegang dolar atau tidak.

Masalahnya, semakin tinggi dolar, semakin berat beban pembayaran utang luar negeri dan impor energi. Ruang fiskal negara menyempit bahkan sebelum utang pokok dibayar. Beban itu jatuh pada APBN, yang berarti pada rakyat.

Baca Juga  Jernang Aceh Jadi Incaran Dipasar China

Di titik ini, pidato Prabowo dianggap problematik. Publik tidak mendapat penjelasan soal strategi meredam tekanan kurs. Yang muncul justru narasi bahwa keresahan dolar adalah urusan kelas atas yang hobi ke luar negeri.

“Pemerintah tampak belum mampu memberi rasa tenang terhadap tekanan rupiah, lalu memilih mengecilkan persoalan lewat panggung tawa,” tulis analisis yang beredar.

Kurs memang tidak pernah tertawa. Ia diam, lalu perlahan menaikkan harga barang. Ketika harga naik, daya beli turun. Dan dalam konteks itu, menjadikan nama-nama elite sebagai tameng humor dinilai tidak mengubah fakta: beban pelemahan rupiah pada akhirnya ditanggung publik. (AYD)

Share :

Baca Juga

ACEH

Hardikda 2026 Di Aceh Timur Khidmat  Bupati Al- Farlaky Galakkan Gerakan Guru Tanam 10.000 Pohon

BERITA

Xi Jinping Dekati Mesir di Tengah Gejolak Timur Tengah, China Perluas Pengaruh dan Tantang Dominasi AS

BERITA

Gunung Sinabung Naik Level III, 615 Warga Dievakuasi: Zona Bahaya Diperluas

BERITA

Pemerintah Buka Jalan bagi Rokok Ilegal Masuk Jalur Legal, Tolak Aturan Siap Diberantas

ACEH

55 Titik Panas Terdeteksi di Aceh, Seluruh Jalur Pendakian Gunung Leuser Ditutup

ACEH

129,5 Hektare Sawah di Aceh Timur Diserang Tikus, Distara Salurkan Pestisida

BERITA

Bukan Sekadar Pelayanan Publik, ASN Disbudpar Aceh Pelopori Aksi Kemanusiaan

ACEH

Awal September Masih Kemarau, Aceh Masuk Zona Siaga Hujan Lebat dan Angin Kencang