Home / ACEH / BERITA

Rabu, 2 September 2026 - 23:14 WIB

55 Titik Panas Terdeteksi di Aceh, Seluruh Jalur Pendakian Gunung Leuser Ditutup

Gunung Lauser (Tripbucket)


MEDIALITERASI.ID
| BANDA ACEH
– Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Aceh meningkat di tengah kondisi kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 55 titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Aceh berdasarkan pemantauan satelit pada 1 September 2026.

Pada saat yang sama, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) menutup seluruh jalur pendakian di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Aceh, mulai 1 September 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah pencegahan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.

Data 55 titik panas tersebut disampaikan Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Nofrida, dalam laporan yang diterima RRI, Rabu (2/9/2026).

Menurut Nofrida, titik panas terdeteksi berdasarkan pemantauan sejak pukul 00.00 hingga 23.00 WIB pada 1 September 2026. Pemantauan dilakukan menggunakan sensor MODIS dari satelit Terra, Aqua, dan Suomi NPP serta NOAA20/VIIRS.

Aceh Barat Terbanyak

Dari 55 titik panas yang terdeteksi, Aceh Barat menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 25 titik. Sebarannya berada di Kecamatan Johan Pahlawan, Meureubo, Pante Ceureumen, Samatiga, dan Woyla Barat.

Selanjutnya, Aceh Selatan mencatat 12 titik panas yang tersebar di Kecamatan Bakongan, Bahagia, dan Trumon.

Sementara itu, Aceh Jaya terdeteksi empat titik panas di Kecamatan Panga dan Pasie Raya.

Titik panas lainnya terpantau di Aceh Singkil, Aceh Tengah, Aceh Utara, Gayo Lues, Lhokseumawe, serta Kota Subulussalam.

Baca Juga  Ratusan Perangkat Desa Se Kota Lhokseumawe Ke DPR RI

Di Subulussalam, BMKG mendeteksi enam titik panas yang tersebar di Kecamatan Longkib, Rundeng, dan Sultan Daulat.

BMKG menyebutkan mayoritas titik panas tersebut berada pada tingkat kepercayaan sedang, sementara sebagian lainnya memiliki tingkat kepercayaan rendah.

Namun, BMKG mengingatkan bahwa keberadaan hotspot tidak serta-merta menunjukkan telah terjadi kebakaran di setiap lokasi. Titik panas merupakan indikasi berdasarkan hasil deteksi satelit yang tetap membutuhkan verifikasi di lapangan.

Luas Karhutla Aceh Barat Capai 6,5 Hektare

Indikasi ancaman karhutla tersebut juga terlihat dari kejadian kebakaran yang terjadi di Aceh Barat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat mencatat luas lahan yang terbakar hingga 1 September 2026 mencapai sekitar 6,5 hektare di tiga kecamatan.

Kebakaran tersebut meliputi sekitar dua hektare di Gampong Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan, tiga hektare di Gampong Mesjid Baro, Kecamatan Samatiga, serta sekitar 1,5 hektare di Gampong Aron Tunong, Kecamatan Woyla.

Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, KPH IV Aceh, serta masyarakat dikerahkan untuk memadamkan api dan mencegah kobaran meluas ke permukiman maupun perkebunan.

Kondisi di lapangan diperburuk oleh angin kencang, keterbatasan sumber air, serta akses menuju sejumlah lokasi kebakaran yang cukup sulit.

BMKG: Aceh Masih Berada dalam Kondisi Kering

Ancaman karhutla juga berkaitan dengan kondisi cuaca yang masih didominasi periode musim kemarau.

Baca Juga  Alwi English Course Aceh Timur Pindah ke Gedung Baru, Ini Alamatnya

BMKG memprakirakan kondisi kering semakin meluas memasuki akhir Agustus hingga awal September 2026. Curah hujan pada periode tersebut secara umum berada pada kategori rendah hingga menengah, dengan kisaran sekitar 0–150 milimeter per dasarian di berbagai wilayah.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, khususnya dalam aktivitas pembukaan atau pembersihan lahan. Cuaca panas dan minimnya hujan dapat menyebabkan vegetasi menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar.

Seluruh Jalur Pendakian Gunung Leuser Ditutup

Dalam situasi tersebut, BBTNGL mengambil langkah pencegahan dengan menutup seluruh jalur pendakian di kawasan TNGL Aceh.

Penutupan mulai berlaku 1 September 2026 dan belum ditentukan kapan akan dibuka kembali.

Kebijakan itu tertuang dalam surat Nomor PG.546/BBTNGL/TU/08/2026 yang ditandatangani Kepala Balai Besar TNGL Subhan pada 31 Agustus 2026.

Penutupan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi musim kemarau 2026 serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah kawasan konservasi.

BBTNGL meminta masyarakat, calon pendaki, dan pelaku usaha wisata untuk mematuhi kebijakan tersebut serta menjadwalkan ulang kegiatan pendakian sampai jalur dinyatakan aman untuk kembali digunakan.

Penutupan jalur pendakian TNGL menjadi salah satu langkah antisipasi untuk mencegah aktivitas manusia memicu kebakaran di kawasan hutan konservasi.

Dengan terdeteksinya puluhan titik panas dan munculnya sejumlah kejadian karhutla di Aceh, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dinilai perlu ditingkatkan, terutama selama kondisi kering masih berlangsung. (EQ)

Share :

Baca Juga

BERITA

Xi Jinping Dekati Mesir di Tengah Gejolak Timur Tengah, China Perluas Pengaruh dan Tantang Dominasi AS

BERITA

Gunung Sinabung Naik Level III, 615 Warga Dievakuasi: Zona Bahaya Diperluas

BERITA

Pemerintah Buka Jalan bagi Rokok Ilegal Masuk Jalur Legal, Tolak Aturan Siap Diberantas

ACEH

129,5 Hektare Sawah di Aceh Timur Diserang Tikus, Distara Salurkan Pestisida

BERITA

Bukan Sekadar Pelayanan Publik, ASN Disbudpar Aceh Pelopori Aksi Kemanusiaan

ACEH

Awal September Masih Kemarau, Aceh Masuk Zona Siaga Hujan Lebat dan Angin Kencang

BERITA

PSSI Aceh Cari Ketua Baru, Pendaftaran Bakal Calon Dibuka Hari Ini

BERITA

Tiga BBM Nonsubsidi Naik Mulai Hari Ini, Harga Pertalite dan Pertamax Tetap