Home / ACEH / BERITA

Selasa, 1 September 2026 - 21:23 WIB

Awal September Masih Kemarau, Aceh Masuk Zona Siaga Hujan Lebat dan Angin Kencang


MEDIALITERASI.ID
| BANDA ACEH
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan Aceh masuk kategori siaga potensi hujan lebat hingga sangat lebat pada 1–3 September 2026, disertai potensi angin kencang.

Peringatan tersebut menjadi perhatian karena secara umum kondisi kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Di tengah cuaca yang relatif panas dan kering, dinamika atmosfer di sekitar Aceh masih memungkinkan terbentuknya awan hujan dengan intensitas signifikan.

Dalam prakiraan BMKG periode 1–3 September 2026, cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat tetap berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.

Khusus Aceh, BMKG menetapkan kategori Siaga untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Selain hujan, Aceh juga masuk wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu mewaspadai dampak yang dapat muncul, terutama pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, serta sambaran petir.

MJO Aktif di Pesisir Utara Aceh

Potensi hujan di Aceh tidak terlepas dari dinamika atmosfer yang berkembang dalam sepekan ke depan.

BMKG memprakirakan Madden–Julian Oscillation (MJO) pada periode 31 Agustus–6 September 2026 aktif di wilayah pesisir utara Aceh dan Selat Malaka bagian utara.

Selain MJO, pembentukan daerah konvergensi dan konfluensi juga terpantau di sekitar Laut Andaman dan Selat Malaka bagian utara. Kondisi tersebut dapat mendukung pengumpulan dan pengangkatan massa udara sehingga memicu pertumbuhan awan hujan.

Peluang pertumbuhan awan dengan kategori sedang hingga tinggi juga masih dapat terjadi di sebagian Sumatra bagian utara.

Meski demikian, BMKG menilai hujan yang terjadi pada periode tersebut cenderung bersifat lokal atau sporadis dengan durasi relatif singkat karena kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.

Musim Kemarau dan Ancaman Karhutla Masih Mengintai

Di sisi lain, masyarakat Aceh juga perlu mewaspadai dampak musim kemarau yang masih berlangsung.

Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 pada 31 Agustus 2026 pukul 00.00 WIB, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia.

Konsentrasi titik panas terutama berada di Kalimantan, kemudian Sumatra, Papua, dan Maluku. Kondisi tersebut menunjukkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu menjadi perhatian, khususnya di wilayah dengan kondisi cuaca relatif kering.

Baca Juga  Kecurigaan Muncul atas Distribusi Bantuan UMKM di Aceh: Tim Pemenangan Mualem Desak Inspektorat dan BPKP Lakukan Penyidikan

Sebaran asap juga masih terpantau di beberapa wilayah dan berpotensi meluas ke daerah sekitar mengikuti arah pergerakan angin.

Minimnya tutupan awan selama musim kemarau, terutama pada pagi hingga siang hari, turut meningkatkan pemanasan permukaan dan dapat mendorong kenaikan suhu udara maksimum.

Pada periode 27–30 Agustus 2026, suhu maksimum bahkan tercatat melampaui 36 derajat Celsius di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Lampung.

Hujan Lebat Tetap Terjadi di Sejumlah Wilayah

Meskipun kemarau masih mendominasi, hujan dengan intensitas signifikan tetap terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.

Pada periode 27–30 Agustus 2026, curah hujan harian tertinggi tercatat di Riau sebesar 86 milimeter per hari, Sumatera Utara 83 milimeter, Papua 80 milimeter, dan Kepulauan Riau 63 milimeter.

BMKG menyebut kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi dinamika atmosfer regional dan faktor lokal.

Gelombang Kelvin terpantau aktif di sebagian Sumatra bagian tengah, disertai daerah belokan dan pertemuan angin yang mendukung pengumpulan massa udara.

Suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat dan utara Sumatra juga meningkatkan suplai uap air ke atmosfer.

Selain itu, pemanasan permukaan, kondisi topografi, serta interaksi angin darat dan laut turut mendukung proses pengangkatan massa udara dan pertumbuhan awan hujan.

Kemarau Diperkirakan Masih Berlanjut

Memasuki Dasarian III Agustus hingga Dasarian II September 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni sekitar 0–150 milimeter per dasarian.

Curah hujan rendah, atau kurang dari 50 milimeter per dasarian, diprakirakan masih mendominasi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua.

Pola tersebut sejalan dengan masih kuatnya pengaruh El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang secara umum membatasi suplai uap air dan mempertahankan kondisi relatif kering di berbagai wilayah Indonesia.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti hujan sepenuhnya tidak terjadi. Peluang hujan lokal masih terbuka, khususnya di sejumlah wilayah Sumatra bagian utara, termasuk Aceh.

Baca Juga  BMKG Aceh Himbau Waspadai Potensi Banjir

Aceh Kembali Waspada pada 4–7 September

Kewaspadaan terhadap cuaca di Aceh tidak berhenti pada 3 September. Untuk periode 4–7 September 2026, BMKG masih memprakirakan adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang di Aceh, selain Riau, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, dan Papua.

Pada periode tersebut, kategori siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat bergeser ke Papua Pegunungan. Namun, potensi angin kencang masih terdapat di sejumlah wilayah Indonesia.

Artinya, masyarakat Aceh tetap perlu mengikuti perkembangan prakiraan cuaca karena kondisi atmosfer dapat berubah dengan cepat.

BMKG Ingatkan Warga Tidak Abaikan Risiko Kemarau

BMKG mengimbau masyarakat tetap mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering.

Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan pelindung atau tabir surya serta menjaga kecukupan cairan tubuh untuk menghindari dehidrasi dan kelelahan akibat paparan panas.

Di tengah kondisi kering, masyarakat dan pemerintah daerah juga diminta menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla.

BMKG mengingatkan masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan.

Jika menemukan indikasi titik api atau hotspot, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak terkait.

Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu mewaspadai hujan yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang. Warga disarankan menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan yang rapuh ketika cuaca buruk terjadi.

BMKG mengimbau masyarakat terus memantau perkembangan prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, termasuk laman BMKG, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial resmi @infobmkg.

Dengan kondisi atmosfer yang dinamis, masyarakat Aceh menghadapi dua risiko cuaca sekaligus pada awal September: potensi hujan lebat dan angin kencang di satu sisi, serta ancaman kekeringan dan karhutla di sisi lain. Informasi ini mengacu pada pembaruan BMKG tanggal 31 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB. (EQ)

Share :

Baca Juga

BERITA

PSSI Aceh Cari Ketua Baru, Pendaftaran Bakal Calon Dibuka Hari Ini

BERITA

Tiga BBM Nonsubsidi Naik Mulai Hari Ini, Harga Pertalite dan Pertamax Tetap

ACEH

Potensi EBT Aceh Mulai Digarap, PLN Bangun 13 PLTS

ACEH

Abrasi Pantai Peukan Bada Buka Jejak Pemakaman Lama Pascatsunami, Tulang Belulang Muncul Saat Air Surut

BERITA

TNI Bantah Isu DOM Aceh, Nama Kompas.com Dicatut untuk Sebar Hoaks

BERITA

P2G Mendesak Pemerintah dan Panselnas Mengangkat Sekitar 200 Ribu Guru PPPK Paruh Waktu Menjadi PPPK Penuh

BERITA

Pendakian Ditutup di 9 Taman Nasional, Pemerintah Soroti Ancaman Karhutla

ACEH

Resmi Membuka PBAK, Rektor UIA Tekankan Integrasi Nilai Islam dan Akademik