Home / BERANDA / BERITA / FEATURE / FIGURE / HUKUM / NASIONAL / POLITIK / SOSIAL

Jumat, 28 Agustus 2026 - 19:30 WIB

Wakil Ketua BEM UI: “Bangsaku” Bukan Vonis, Tapi Bentuk Tanggung Jawab Bersama

Fathimah Azzahra Wakil Ketua BEM UI kembali viral. Foto: YouTube

Medialiterasi.id | Jakarta — Wakil Ketua BEM UI 2026 Fathimah Azzahra mengajak publik menolak penyamarataan watak bangsa berdasarkan pengkhianatan yang dilakukan segelintir orang. Hal itu ia tulis dalam opini “Bangsaku” yang dimuat http://Kompas.com, Selasa (18/8/2026).

Dalam tulisannya, Fathimah merespons narasi yang menyimpulkan bahwa kezaliman di masa kolonial berasal dari “tabiat masyarakat kita yang sudah rusak sejak semula”. Ia tidak menyangkal adanya fakta sejarah tentang sebagian orang yang mengkhianati bangsanya sendiri.

“Yang saya tolak bukan fakta itu, melainkan lompatannya, dari ‘sebagian orang pernah melakukan kejahatan’ menjadi ‘itulah watak bangsa kita’,” tulis Fathimah.

Menurutnya, bangsa bukan individu yang bisa didiagnosis dari perbuatan sebagian anggotanya. Bangsa lebih tepat disebut sebagai ruang bersama tempat manusia dengan segala kemungkinannya hidup.

“Memilih hanya satu sisi untuk dijadikan cermin bangsa, bukan pembacaan sejarah yang adil,” ujarnya.

Fathimah menekankan, yang paling dirugikan dari vonis umum itu justru orang-orang yang telah mengabdikan hidupnya untuk negeri tanpa pernah menuntut pengakuan. Ia menilai menjadikan pengkhianatan sebagai potret sejati bangsa adalah bentuk pengkhianatan baru terhadap mereka yang membuktikan sebaliknya lewat tindakan.

Baca Juga  Banjir Landa Lapas Perempuan Sigli, Kakanwil Kemenkumham Aceh Tinjau Langsung Kelokasi

Rasa Memiliki dan Kritik

Mahasiswi UI itu mendefinisikan “bangsaku” sebagai bentuk kepemilikan yang melebur. Mirip seseorang menyebut tubuhnya sendiri, bukan karena berkuasa, tapi karena tidak bisa memisahkan diri.

“Justru karena rasa memiliki itulah saya bisa mengakui ketidak sempurnaan bangsa ini tanpa merasa sedang mengkhianatinya,” tulisnya.

Ia membedakan antara penonton dan orang yang merasa memiliki. Penonton cukup mengamati dan pergi. Sementara yang merasa memiliki tidak punya pilihan untuk pergi, sehingga kritik paling keras justru datang dari mereka yang paling tidak bisa meninggalkan negerinya.

Fathimah juga mengkritik sinisme yang berkembang di kalangan anak muda. Menurutnya, narasi “negeri ini memang begini adanya” terdengar seperti kecerdasan, padahal merupakan bentuk paling halus dari menyerah.

“Tidak Ada Tuan Rumah”

Dalam opininya, Fathimah mengutip diskusi dengan rekan kampusnya, Jason Sihite, tentang pertanyaan “siapa tuan rumahnya”. Ia berpendapat negeri ini bukan rumah milik siapa-siapa yang dipinjamkan kepada yang lain.

Baca Juga  UMKM Binaan Pupuk Iskandar Muda Go Global

“Tidak ada tuan rumah. Atau, kalau memang harus ada, kita semua adalah tuan rumah dan justru karena itu tidak seorang pun boleh menjadi tamu,” tulisnya.

Ia memperingatkan nasionalisme mudah tergelincir menjadi eksklusivisme ketika membutuhkan musuh untuk merasa dirinya ada. Padahal rasa memiliki yang sungguh justru merangkul perbedaan.

“Jika saya benar-benar mengatakan ‘bangsaku’, orang yang berbeda dari saya tetap termasuk di dalam kata itu. Menyingkirkannya berarti mengurangi sesuatu yang saya deklarasikan sebagai milik saya sendiri,” tegasnya.

Fathimah menutup tulisannya dengan keyakinan bahwa hak menyebut “bangsaku” tidak menunggu izin, jumlah, atau kekuasaan. Hak itu tumbuh dari kesediaan bertanggung jawab.

“Kemerdekaan bukan sekadar keadaan ketika tidak ada lagi yang menjajah kita. Ia adalah keadaan ketika tidak seorang pun di negeri ini perlu dipertanyakan untuk merasa memilikinya,” pungkasnya.(*)

Share :

Baca Juga

ACEH

Kapolres Aceh Timur Ancam Pidana 15 Tahun Bagi Pembakar Hutan dan Lahan

ACEH

Terima Audiensi Bulog, Bupati Al- Farlaky Bahas Soal Sinergi Distribusi Beras 

ACEH

Bupati Aceh Timur Tegas: Huntap Tak Sesuai Spesifikasi, Dana Tak Akan Dicairkan

BERITA

Wujudkan Kesetaraan, Meunasah Blang Jadi Pilot Project Gampong Sadar HAM

BERANDA

Botok Cs Pulang dari DPR, Klaim Rusuh Jakarta Rusak Skenario “Kambing Hitam”

BERANDA

Tembus DPR, Botok Cs Audiensi dan Desak Sahkan RUU Perampasan Aset serta Hukuman Mati Koruptor

BERITA

BPKN Desak Menteri BUMN Selesaikan Kasus Jiwasraya, Restrukturisasi Dinilai Rugikan Nasabah

BERITA

Polisi Ungkap Dugaan Pemerasan Berkedok Aparat di Tangerang, Enam Orang Diamankan