Medialiterasi.id | Jakarta — Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Supriyono alias Mas Botok menyatakan kepulangannya dari Jakarta pada Kamis (27/8/2026) justru menggagalkan skenario yang menempatkan kelompoknya sebagai “kambing hitam” kerusuhan.
Pernyataan itu disampaikan Botok setelah 14 perwakilan AMPB selesai beraudiensi dengan pimpinan DPR dan membubarkan diri dengan seruan “Dari Pati Pulang Dulu!”
Menurut Botok, timing kerusuhan yang terjadi setelah massa AMPB meninggalkan Jakarta menjadi kejanggalan. Ia menilai, jika kerusuhan pecah saat mereka masih di Kompleks Parlemen, kelompoknya akan langsung dituding sebagai otak kericuhan.
“Logikanya sederhana. Kami sudah pulang, kami sudah tidak di TKP. Jadi tidak bisa disalahkan,” kata Botok, Kamis malam.
Botok juga menyoroti pembekuan rekeningnya senilai Rp80,9 juta dan peretasan akun media sosial yang terjadi saat aksi di DPR berlangsung. Ia menduga itu bagian dari upaya membangun narasi “dana demo tidak jelas” terhadap AMPB.
Dalam analisisnya, Botok menyebut pihak yang diuntungkan dari kerusuhan setelah AMPB pulang adalah kelompok yang takut dengan desakan pengesahan RUU Perampasan Aset. Ia menduga ada upaya menyusupkan provokator setelah aktor utama aksi damai meninggalkan lokasi.
“Rusuh itu hanya merusak citra kami. Kami berangkat dari isu pemakzulan Bupati Pati. Kepentingan kami menjaga legitimasi gerakan,” ujarnya.
Botok secara khusus menyoroti keterlibatan sejumlah pelajar STM dalam kerusuhan. Ia menyebut ada tiga alasan pelajar mudah dijadikan sasaran: tidak memiliki agenda politik sehingga rentan diarahkan, citra tawuran yang sudah melekat di publik, dan status di bawah umur yang membuat proses hukumnya ringan.
“Kalau Botok yang rusuh, jejaknya jelas. Ada KTP, ada rumah, ada massa. Kalau anak STM, jejaknya putus,” kata Botok.
AMPB menegaskan aksi 27 Agustus di DPR berjalan damai dan fokus pada dua tuntutan: pengesahan RUU Perampasan Aset dan penerapan hukuman mati bagi koruptor. Botok menyebut kepulangan massa adalah bentuk strategi agar isu utama tidak tenggelam oleh narasi kerusuhan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari DPR, Polri, maupun pihak yang disebut Botok terkait dugaan skenario tersebut. Polri sebelumnya menyatakan masih melakukan penyelidikan penyebab dan pelaku kerusuhan di sejumlah titik Jakarta pada 27 Agustus 2026.
Botok menutup pernyataannya dengan menyebut kepulangan AMPB sebagai “bentuk perlawanan paling cerdas” untuk menghindari jebakan kriminalisasi gerakan. (*)







