Home / BERITA / MANACANEGARA / POLITIK

Rabu, 2 September 2026 - 23:43 WIB

Xi Jinping Dekati Mesir di Tengah Gejolak Timur Tengah, China Perluas Pengaruh dan Tantang Dominasi AS

Presiden Amerika Serikat: Donald J. Trump (Kiri) dan Presiden China Xi Jinping (Kanan)

MEDIALITERASI.ID | KAIRO – Presiden China Xi Jinping memperkuat hubungan strategis dengan Mesir di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kunjungan Xi ke Kairo tidak hanya menjadi agenda diplomatik biasa, tetapi juga mencerminkan upaya Beijing memperluas pengaruhnya di kawasan yang selama puluhan tahun menjadi salah satu wilayah strategis Amerika Serikat.

Xi tiba di Bandara Kairo pada Selasa (1/9/2026) dan disambut Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sissi serta pasukan kehormatan melalui upacara karpet merah.

Kunjungan tersebut menjadi lawatan pertama Xi ke Mesir dalam satu dekade. Pertemuan berlangsung ketika kawasan Timur Tengah tengah menghadapi perubahan besar akibat konflik dan meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, serta sejumlah negara sekutu Washington.

China berusaha menampilkan diri sebagai kekuatan yang dapat berperan sebagai penstabil kawasan sekaligus menawarkan pendekatan berbeda dari Amerika Serikat yang selama puluhan tahun memiliki keterlibatan militer dan politik yang kuat di Timur Tengah.

China Perkuat Posisi di Timur Tengah

Dalam pembicaraan dengan el-Sissi pada Rabu (2/9/2026), Xi menyerukan agar China dan Mesir bersama-sama menentang apa yang disebutnya sebagai “unilateralisme dan tindakan intimidasi”.

Menurut kantor berita pemerintah China, Xinhua, Xi juga mendorong kedua negara bekerja sama mewujudkan sistem tata kelola global yang lebih adil dan setara.

Pertemuan tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan 70 tahun hubungan diplomatik China-Mesir.

Kedua pemimpin sebelumnya juga menegaskan pentingnya memperluas kerja sama praktis di berbagai bidang pembangunan. El-Sissi memuji investasi China di Mesir dan kembali menegaskan dukungan Kairo terhadap posisi Beijing yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah China.

Bagi Mesir, semakin dekat dengan China menjadi salah satu cara untuk memperluas dan mendiversifikasi hubungan strategisnya sehingga tidak terlalu bergantung pada satu kekuatan global.

Mesir Punya Posisi Strategis

Mesir memiliki posisi penting dalam geopolitik Timur Tengah dan Afrika. Negara tersebut menguasai Terusan Suez, salah satu jalur pelayaran paling strategis dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mediterania.

Baca Juga  Polres Aceh Timur Gelar Perkara Kasus Dugaan Penganiayaan Pelajar SMP di Idi Tunong, Status Hukum AS Ditentukan Jumat

Posisi tersebut semakin penting di tengah terganggunya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz akibat konflik Iran.

Pakar Timur Tengah dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Muhammad Zulfikar Rakhmat, menilai China memiliki alasan kuat untuk mempererat hubungan dengan Mesir karena negara tersebut mengendalikan salah satu jalur perdagangan yang masih terbuka bagi arus energi dari kawasan.

“China memiliki alasan kuat untuk memperkuat hubungan dengan negara yang mengendalikan jalur yang masih terbuka,” kata Zulfikar.

Menurut dia, Beijing juga melihat Mesir sebagai pintu masuk untuk memperluas jangkauan pengaruh China ke dunia Arab dan Afrika, terutama ketika perhatian Amerika Serikat terhadap kawasan tersebut dinilai mulai berkurang.

China Pernah Menjadi Mediator Iran-Saudi

Upaya China memperluas pengaruh di Timur Tengah sebenarnya bukan hal baru.

Pada 2023, Beijing berhasil memediasi kesepakatan pemulihan hubungan diplomatik antara Iran dan Arab Saudi. Kesepakatan tersebut menjadi salah satu bukti ambisi China untuk memainkan peran yang lebih besar sebagai mediator dalam konflik dan persaingan geopolitik di Timur Tengah.

Iran merupakan salah satu mitra regional penting China sekaligus pemasok minyak utama bagi Beijing. Di sisi lain, Arab Saudi merupakan sekutu lama Amerika Serikat.

Meski hubungan Teheran dan Riyadh kembali mengalami ketegangan setelah konflik terbaru di kawasan, China tetap berupaya mempertahankan posisinya sebagai kekuatan diplomatik yang dapat menjangkau berbagai pihak.

Beijing juga selama bertahun-tahun mendukung solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina.

Sesaat sebelum Hamas menyerang Israel pada 2023 dan perang di Gaza pecah, Xi menerima Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Beijing dan mengumumkan pembentukan “kemitraan strategis” dengan Otoritas Palestina.

Terusan Suez Semakin Penting

Konflik Iran juga memberikan dimensi ekonomi yang semakin besar terhadap hubungan China dan Mesir.

Baca Juga  KOSPI Melonjak 1,59 Persen, Sentimen Damai AS – Iran Dorong Bursa Asia

Gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz membuat Terusan Suez menjadi jalur alternatif penting bagi distribusi energi dari Timur Tengah.

Kondisi tersebut meningkatkan nilai strategis Mesir di mata China, terutama karena Beijing merupakan salah satu konsumen energi terbesar dunia.

China juga memiliki kepentingan ekonomi yang besar di Mesir melalui investasi dan proyek pembangunan.

Hubungan kedua negara bahkan telah berkembang ke bidang pertahanan.

Pada Agustus 2026, China dan Mesir menggelar latihan udara selama beberapa hari di sejumlah pangkalan militer Mesir. Latihan tersebut menjadi yang pertama melibatkan jet tempur J-16 milik China dan jet tempur Rafale buatan Prancis yang digunakan Mesir.

Langkah China di Tengah Tekanan AS

Kunjungan Xi ke Mesir juga berlangsung setelah dirinya menghadiri konferensi Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/SCO), organisasi politik dan keamanan yang kerap dipandang sebagai salah satu penyeimbang terhadap pengaruh global Amerika Serikat.

Konferensi tersebut dihadiri sejumlah pemimpin negara, termasuk Rusia, India, Pakistan, dan Iran.

Pada saat yang sama, pemerintahan Presiden Donald Trump meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui serangkaian sanksi yang bertujuan membatasi hubungan finansial Republik Islam tersebut dengan negara-negara lain.

China menjadi salah satu mitra ekonomi utama Iran. Beijing disebut membeli lebih dari 80 persen pengiriman minyak Iran, meskipun sebagian besar transaksi dilakukan melalui jalur tidak langsung.

Pemerintah China menyatakan perdagangan dengan Iran dilakukan sesuai dengan hukum internasional.

Dengan demikian, penguatan hubungan China-Mesir tidak hanya berkaitan dengan perdagangan dan investasi. Di tengah konflik Timur Tengah dan persaingan kekuatan besar, Beijing tampak semakin aktif membangun jaringan strategis yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Afrika.

Bagi China, Mesir bukan sekadar mitra ekonomi, melainkan salah satu pintu penting untuk memperluas pengaruh geopolitik di kawasan yang semakin menentukan arah politik dan ekonomi dunia. (EQ)

Share :

Baca Juga

BERITA

Gunung Sinabung Naik Level III, 615 Warga Dievakuasi: Zona Bahaya Diperluas

BERITA

Pemerintah Buka Jalan bagi Rokok Ilegal Masuk Jalur Legal, Tolak Aturan Siap Diberantas

ACEH

55 Titik Panas Terdeteksi di Aceh, Seluruh Jalur Pendakian Gunung Leuser Ditutup

ACEH

129,5 Hektare Sawah di Aceh Timur Diserang Tikus, Distara Salurkan Pestisida

BERITA

Bukan Sekadar Pelayanan Publik, ASN Disbudpar Aceh Pelopori Aksi Kemanusiaan

ACEH

Awal September Masih Kemarau, Aceh Masuk Zona Siaga Hujan Lebat dan Angin Kencang

BERITA

PSSI Aceh Cari Ketua Baru, Pendaftaran Bakal Calon Dibuka Hari Ini

BERITA

Tiga BBM Nonsubsidi Naik Mulai Hari Ini, Harga Pertalite dan Pertamax Tetap