
MEDIALITERASI.ID | ACEH TIMUR – Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distara) Kabupaten Aceh Timur menyalurkan bantuan pestisida kepada sejumlah kelompok tani yang terdampak serangan hama tikus. Langkah tersebut dilakukan menyusul serangan hama yang semakin meluas, terutama di Kecamatan Madat.
Selain menyalurkan bantuan yang tersedia, Distara Aceh Timur juga mengupayakan dukungan penanganan dari Pemerintah Aceh dan Kementerian Pertanian untuk mengatasi serangan hama tersebut.
Kepala Bidang Perlindungan Tanaman Distara Aceh Timur, Faisal Fahmi, mengatakan pihaknya telah menyalurkan pestisida kepada sejumlah kelompok tani terdampak.
“Bantuan pestisida sudah kami salurkan kepada kelompok tani yang terdampak,” kata Faisal di Aceh Timur, Selasa.
Menurut Faisal, keterbatasan persediaan pestisida menjadi salah satu kendala dalam penanganan serangan tikus. Sementara itu, luas lahan yang terdampak, khususnya di Kecamatan Madat, cukup besar.
Karena itu, Distara Aceh Timur mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.
“Kami memohon bantuan untuk penanganan serangan tikus ini dan mereka menanggapi agar dibuat permohonan,” ujarnya.
Bantuan Pestisida untuk Kelompok Tani
Selain mengupayakan bantuan dari pemerintah provinsi dan pusat, Distara Aceh Timur telah menyalurkan pestisida kepada sejumlah kelompok tani di wilayah terdampak.
Di Kecamatan Pante Bidari, pestisida jenis Kresnakom disalurkan kepada lima kelompok tani di Gampong Keupula Dua, yakni Kelompok Tani Mon Seudong, Hidup Baru, Mon Mane, Keupula Indah, dan Ingin Maju.
Masing-masing kelompok tani menerima delapan kilogram pestisida sehingga total bantuan mencapai 40 kilogram.
Sementara itu, bantuan juga disalurkan untuk penanganan serangan tikus di Kecamatan Madat, khususnya wilayah Ulee Ateung dan Rambong Lop. Salah satu penerima bantuan adalah Kelompok Tani Harapan Jaya dengan jumlah sekitar 20 kilogram pestisida.
Faisal mengatakan kelompok tani yang membutuhkan bantuan pengendalian hama dapat berkoordinasi dengan Distara melalui ketua kelompok tani.
“Bagi yang membutuhkan, ketua kelompok bisa datang dan berkoordinasi ke dinas,” katanya.
Pengendalian Harus Dilakukan Serentak
Karena serangan tikus di Kecamatan Madat cukup masif, sedangkan persediaan pestisida terbatas, Distara Aceh Timur juga berkoordinasi dengan laboratorium pertanian di Peureulak untuk membantu penanganan di lapangan.
“Kemudian mereka turut menyalurkan racun tikus jenis sidarat ke titik-titik serangan lainnya,” ujar Faisal.
Faisal menegaskan, pengendalian hama tikus tidak dapat hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Petani juga perlu melakukan pencegahan dan pengendalian secara mandiri sejak awal, termasuk sebelum tanaman padi ditanam.
“Dianjurkan dari awal sebelum ditanam dilakukan pengendalian secara mandiri. Kita berharap petani melakukan semampunya dulu karena bantuan yang tersedia terbatas,” ujarnya.
Menurut dia, salah satu langkah penting untuk mencegah penyebaran tikus ke lahan lain adalah melakukan pengendalian secara serentak dalam satu kawasan persawahan.
Petani juga diminta menjaga sanitasi lingkungan dengan membersihkan lahan, pematang, serta lokasi yang berpotensi menjadi sarang tikus.
“Lahannya harus bersih. Kemudian perlu penanaman secara serentak dan pengendalian massal bersama-sama,” katanya.
Faisal menjelaskan, pengendalian yang dilakukan secara sendiri-sendiri berpotensi membuat tikus berpindah dari satu lahan ke lahan lainnya. Karena itu, keterlibatan kelompok tani, perangkat desa, dan masyarakat diperlukan dalam pengendalian secara massal.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, petani juga diminta memperhatikan kondisi air di areal persawahan dan melakukan pengendalian sejak awal musim tanam.
Pertimbangkan Pemanfaatan Burung Hantu
Distara Aceh Timur juga tengah mencari informasi mengenai pemanfaatan burung hantu sebagai predator alami untuk membantu mengendalikan populasi tikus.
“Upaya menggunakan burung hantu sedang kita cari informasinya karena dinilai efektif untuk mengendalikan tikus,” ujar Faisal.
Selain itu, rotasi tanaman dapat diterapkan sebagai salah satu upaya memutus rantai ketersediaan makanan bagi tikus. Petani dapat menanam tanaman palawija pada waktu tertentu untuk mengurangi sumber makanan yang mendukung perkembangbiakan hama.
Metode lainnya adalah penggunaan perangkap tikus, sistem perangkap, serta pagar plastik yang diarahkan ke area perangkap.
Faisal berharap pengendalian dilakukan secara bersama-sama dan serentak sehingga serangan tikus tidak kembali meluas pada musim tanam berikutnya.
“Penanganannya harus bersama-sama dan serentak. Jangan sampai hanya satu lahan yang melakukan pengendalian sementara lahan di sekitarnya tidak, karena tikus bisa berpindah dan kembali menyerang,” katanya. (EQ)







