Home / OPINI

Jumat, 24 Februari 2023 - 22:17 WIB

Pendidikan Sebagai Perekat Rasa Nasionalisme

Oleh :
Dr. Drs. T.M. Jamil TA, M.Si
Guru pada Sekolah Pascasarjana
Universitas Syiah Kuala.

KETIKA Masih di Sekolah Madrasah, saya punya guru yang sangat baik. Perilakunya santun, sayang dengan murid-muridnya, pandai, sabar dan humoris, tetapi juga disiplin. Semua siswa di sekolah itu menjadikan beliau sebagai guru paling favorit. Kendati tempat tinggalnya jauh dari sekolah tempat mengajar, beliau tidak pernah terlambat dan justru datang paling awal dibanding guru-guru yang lain. Berpakaian rapi, rambut mengkilap dan tersisir rapi, bajunya selalu dimasukkan ke celana dengan tas ransel di belakang sepeda pancalnya, beliau tampak sebagai sosok guru yang diidolakan. Pakaian kesukaannya berwarna putih lengan panjang. Jika suatu kali beliau absen, para siswa pada bertanya di mana pak guru yang dicintai itu. Jangan-jangan sakit.

Jika ada kelas kosong karena ada guru yang tidak masuk, beliau masuki kelas itu dengan memberinya tugas untuk dikerjakan siswa. Selain agar tidak gaduh dan dapat mengganggu kelas yang lain, pemberian tugas dimaksudkan agar tidak ada waktu yang berlalu sia-sia tanpa pelajaran. Beliau bisa membagi perhatian dengan mengajar di beberapa kelas pada saat yang sama. Kadang-kadang siswa diberi dongeng, atau ceritera rakyat yang lucu-lucu tetapi penuh hikmah, di saat yang lain siswa diberi tugas untuk dikerjakan. Hebatnya, beliau menguasai banyak ilmu, mulai dari ilmu hitung (sekarang matematika), menyanyi (termasuk menyanyi lagu-lagu daerah), ilmu bumi, bahasa Indonesia, hingga bahasa Inggeris. Jika siswa kelihatan ngantuk atau capek karena pelajaran berlangsung di waktu siang, beliau ajak muridnya untuk menyanyi. Lagu kesukaannya berjudul “Desaku”. Sampai sekarang pun saya masih hafal benar lagu itu yang menggambarkan suasana pedesaan yang asri, jauh dari hiruk pikuk modernisasi, dan tempat orangtua serta handai taulan tinggal.

Selain memiliki kelebihan, beliau juga memiliki tanda yang khas. Kalau berbicara sering mengulang kata tertentu berkali-kali, yaitu kata “memang”. saya tidak tahu mengapa beliau suka sekali kata itu. Tak mengherankan kawan-kawan saya dengan sembunyi-sembunyi sering memanggilnya “Pak Memang”. Anehnya, beliau tahu kalau para siswa dengan sembunyi-sembunyi memanggilnya “Pak Memang”. Tapi beliau sama sekali tidak pernah marah, dan malah beliau selalu tersenyum atau tertawa.

Baca Juga  Bravo Polri : Panji Gumilang Tersangka !

Suatu kali ada gambar peta bumi di papan tulis, yang di dalamnya tentu ada peta Indonesia. Peta bumi itu belum dihapus oleh guru sebelumnya yang baru mengajar ilmu bumi. Beliau meminta para murid memerhatikan peta itu dan melarang menghapusnya. Ternyata Pak Guru itu menjelaskan lebih lanjut tentang peta bumi itu dengan sangat menarik. Beliau sangat menguasai semua bagian peta bumi berikut nama-nama negara, laut dan samudera yang mengitarinya. Subhanallah …

Beliau tunjukkan posisi dan peta Indonesia yang terletak di garis katulistiwa. Para siswa diminta untuk memperhatikan posisi Indonesia di dalam peta bumi itu. Beliau uraikan Indonesia yang terdiri atas beribu-ribu pulau yang terbentang mulai Sabang sampai Merauke. “Indonesia adalah negeri nan Indah bagaikan zamrut di katulistiwa”, begitu ujarnya. Itulah pertama kali saya mengenal istilah zamrut. Rasa nasionalismenya luar biasa, terlihat dari kebanggaannya menjelaskan keindahan, kekayaan alam dan budayanya serta posisi strategis Indonesia di antara negara-negara lain di dunia.

Tetapi beliau mengingatkan bahwa Indonesia yang terdiri atas gugusan pulau-pulau seperti ini rentan perpecahan dan konflik. Karena itu, tugas kita semua, apalagi para siswa sebagai calon penerus perjuangan bangsa, menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia. Kita juga patut bersyukur kepada Allah dan berterimakasih yang tak terhingga kepada para pahlawan yang telah berjuang tanpa mengenal lelah dengan mengorbankan segalanya, termasuk jiwa dan raganya. “Karena itu, anak-anakku cintailah dan bangunlah negeri ini, tempat kita dan nenek moyang kita lahir dan hidup. Hormatilah semua warga bangsa ini, dari manapun mereka berasal, apapun suku, bahasa, adat istiadatnya, bahkan agamanya. Jangan lupa “hormati guru dan orangtua”, begitu tandasnya. “Cintailah desa kalian, sebab suatu saat anda semua akan meninggalkannya dan suatu saat pula akan merindukannya untuk kembali”, tambahnya. Ya Allah, saat kalimat ini saya tuliskan airmata ini tak bisa terbendung. Saya sedih dan menangis, lebih-lebih jika mengingat nasib bangsaku saat ini.

Guruku itu memang hebat. Kendati hanya lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru), wawasannya tidak kalah dengan lulusan Sarjana S1 dan S2 saat ini. Penjelasan tentang peta dunia tadi sejatinya beliau ingin menegaskan betapa pentingya sikap nasionalisme sebagai bangsa Indonesia, yang ternyata saat ini merupakan persoalan serius. Apa yang beliau khawatirkan tentang rentannya negeri ini dari perpecahan dan konflik ternyata sekarang menjadi kenyataan. Keinginan beberapa daerah untuk memisahkan diri dari NKRI merupakan bukti. Terhadap gejala separatisme, pemerintah meresponnya dengan kebijakan otonomi daerah. Sungguh indah dan bijak, jika kita bangsa yang beradab.

Baca Juga  Prodi Migas dan TRKI PNL Raih Akreditasi Unggul

Hal lain yang tidak dapat saya lupakan sampai sekarang adalah beliau selalu mengajak para siswa untuk selalu berdo’a baik sebelum memulai maupun mengakhiri pelajaran. Padahal, beliau bukan guru agama. Jika sebelum pelajaran do’anya adalah agar siswa diberi kemudahan menerima pelajaran pada hari itu, maka sebelum mengakhiri pelajaran beliau berdo’a semoga ilmu yang diterima pada hari itu bermanfaat untuk mengisi kehidupan. Kendati do’anya disampaikan dalam bahasa Indonesia, tetapi suasana khusuk dan hening dapat kami rasakan. Ini karena ketulusannya. Bukankah Allah Swt menerima do’a hamba-hambanya yang tulus walau dengan berbagai bahasa?.

Suatu kali tepat di depan kelas beliau menepuk-nepuk bahu saya sambil berucap agar saya terus sekolah ke jenjang yang paling tinggi. Saya pun tidak menjawab apa-apa selain hanya senyum. Saya tidak tahu apa maksudnya dan mengapa beliau melakukan itu. Yang jelas harapannya telah saya laksanakan dan telah menjadi kenyataan, dan kini saya telah menjadi seorang pendidik yang bergelar “Doktor”. Sayang, saya tidak tahu di mana beliau sekarang berada. Andai saja beliau telah berpulang dan menghadap-Nya, saya berdo’a semoga semua amal ibadahnya diterima Allah dan kekhilafannya diampuni. Tetapi, jika beliau masih hidup, akan saya cari dan jika ketemu akan saya cium tangannya yang dulu pernah menepuk-nepuk bahu saya. Sampai sekarang saya masih bertanya “Guruku yang sangat mulia itu sekarang ada dimana?. Ya Allah, tolong pertemukan aku dengannya. Saya sangat takzim dan menghormatinya. Semoga, dan saya selalu berdo’a agar murid-murid atau mahasiswaku saat ini juga dapat merasakan dan memperlakukanku kelak dengan sopan ketika mereka telah sukses dan berhasil menjalani hidupnya. Jangan sampai murid atau mahasiswaku kelak menjadi manusia zhalim dan pengkhianat untuk bangsa dan orang-orang yang telah membesarkannya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Banda Aceh, 25 Pebruari 2023

Share :

Baca Juga

NASIONAL

Kartini Dikooptasi, Perempuan Ditinggalkan

EDUKASI

Menjaga Bahasa, Menata Laku: Jalan Sederhana Menuju Pendidikan Karakter yang Hakiki

OPINI

Desil yang Gagal : Ketika Kebijakan Elit Menyesatkan, Rakyat Kecil Dikorbankan

OPINI

Jumat Bukan Soal Terlihat Baik, Tapi Benar-Benar Menjadi Baik

OPINI

Ketika Kekuasaan Menguji Nurani: Menakar Integritas Pemimpin dalam Perspektif Islam

OPINI

Ketika Anggaran Membesar, Jaminan Kesehatan Dipersempit : Paradoks Kebijakan di Aceh

OPINI

JKA di Persimpangan: Efisiensi Anggaran atau Pengabaian Hak Kesehatan?

OPINI

Arogansi di Kursi Rakyat : Runtuhnya Etika Legislatif dan Krisis Legitimasi Demokrasi