Home / ACEH / BERANDA / BERITA / OPINI

Selasa, 9 Juni 2026 - 08:36 WIB

SDA Aceh Disebut “Emas yang Tak Basi”: Perlukah Pemerintah Tahan Izin Tambang Demi Generasi Berikutnya?

Foto : IDEAS

MEDIALITERASI.ID | BANDAACEH – Wacana pengelolaan Sumber Daya Alam SDA Aceh kembali menghangat. Sebuah opini yang beredar menyebut emas dan mineral di perut bumi Aceh “tidak bisa basi dan tidak akan kedaluwarsa” jika tetap dibiarkan di dalam tanah. Pertanyaannya: mengapa pemerintah hari ini dinilai terburu-buru mengeluarkan izin tambang untuk investor luar?

Penulis opini mempertanyakan narasi “demi pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja”. Menurutnya, alasan itu sering jadi tameng bagi pembagian konsesi. “Ujung-ujungnya, investor bawa pulang triliunan, Aceh cuma dapat royalti secuil dan ampas kerusakan lingkungan,” tulisnya.

Baca Juga  Intip Teknologi Canggih Korlantas Pantau Kelancaran Jalur Tamu VVIP KTT G20 Bali

Ajakan “Menunggu” ala Abu Doto

Opini itu mengutip pesan yang disebut dari Abu Doto: “Tunggu sampai putra-putri Aceh siap secara teknologi, ekonomi, dan keilmuan untuk mengelolanya sendiri dari hulu ke hilir. Biarkan bumi kita menyimpan rahasianya sampai anak kandung Aceh mampu mandiri, bukan malah dihabiskan oleh orang luar.”

Inti pesannya: SDA adalah warisan anak cucu, bukan komoditas yang harus dikuras habis generasi hari ini. Karena itu muncul pertanyaan “Kenapa kita tidak punya keberanian untuk MENUNGGU?”

Dua Sisi Dilema SDA

Perdebatan “ekstraksi sekarang vs tunda untuk generasi depan” bukan hal baru di Aceh dan daerah kaya SDA lain.

Baca Juga  Banjir-Longsor Aceh Dinilai "Bencana Terstruktur": Desakan Evaluasi Izin HPH, Tambang, dan HGU di Kawasan Lindung

Pihak yang pro-ekstraksi berargumen: izin tambang = PAD, royalti, lapangan kerja, dan multiplier effect ke UMKM. Apalagi UU Minerba mewajibkan pembangunan smelter dan nilai tambah di dalam negeri. Tanpa investasi, SDA hanya “angka di laporan”.

Pihak yang pro-menunggu berargumen: kapasitas SDM, teknologi, dan tata kelola lokal belum siap. Kalau dipaksa sekarang, yang terjadi “resource curse”: kerusakan lingkungan, konflik lahan, dan penerimaan daerah minim karena skema kontrak kurang berpihak. Menunggu = menyiapkan BUMD, hilirisasi, dan SDM Aceh dulu.

Share :

Baca Juga

ACEH

Tolak HGU 5.000 Ha, LSM KANA: Usut Dugaan Pemalsuan Dokumen PT Citra Ganda Utama

BERITA

Pemerintah Pertimbangkan Jalur Mahkamah Syariah untuk Akhiri Sengketa Blang Padang, Keputusan Ada di Tangan Presiden

ACEH

Bupati Aceh Timur Maafkan Dun Belanda atas Fitnah Terhadap Dirinya 

BERANDA

Dewan Pers Kecam Perlakuan Merendahkan Profesi Wartawan di Konferensi Pers

BERANDA

Presiden Iran Nyatakan “Perang Skala Penuh” dengan AS, Ekonomi Jadi Medan Utama

ACEH

Peringati Hari Anak 2026, Pemkab Aceh Timur Soroti Pentingnya Ketahanan Mental Anak

BERANDA

Putera Arab Saudi Meninggal di Hotel London Akibat Campuran Alkohol dan Narkoba

ACEH

Wabup Aceh Timur Zainal Abidin Disorot Warga: Sederhana, Santun, dan Dekat dengan Rakyat