Home / OPINI

Senin, 8 Juni 2026 - 14:14 WIB

Orang Baik Tidur Lebih Nyenyak

Oleh: Dr. Bukhari, M.H., C.M.- Advokat sekaligus mediator PMN

OPINI – Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, banyak orang berlomba mengumpulkan harta, mengejar jabatan, dan membangun pengaruh. Namun ada satu nikmat yang sering luput dari perhatian: kemampuan untuk tidur dengan tenang tanpa dihantui rasa takut.

Tidak semua orang yang memiliki kekayaan dapat menikmati ketenangan. Tidak semua yang memiliki kekuasaan mampu memejamkan mata dengan damai. Sebaliknya, banyak orang yang hidup sederhana justru merasakan ketenteraman yang sulit dibeli dengan apa pun. Salah satu sebabnya adalah karena mereka menjalani hidup dengan cara yang benar.

Kebaikan sesungguhnya merupakan jalan yang paling mudah. Berbuat jujur tidak memerlukan biaya. Menolong sesama tidak membutuhkan jabatan. Menepati amanah tidak menuntut kecerdasan luar biasa. Karena itu, orang yang memilih jalan kebaikan biasanya lebih mudah diterima oleh lingkungan sekitarnya. Kehadirannya membawa manfaat, ucapannya dipercaya, dan tindakannya dihargai.

Berbeda dengan kejahatan yang selalu menuntut ruang persembunyian. Pelakunya harus menutupi jejak, menyimpan rahasia, dan menjaga agar perbuatannya tidak diketahui orang lain. Semakin besar kesalahan yang dilakukan, semakin besar pula kekhawatiran yang harus ditanggung.

Tidak mengherankan jika banyak kasus korupsi, penyalahgunaan jabatan, dan pelanggaran hukum lainnya akhirnya terungkap meskipun sebelumnya disusun dengan sangat rapi. Sebab tidak ada kebohongan yang dapat disembunyikan selamanya. Cepat atau lambat, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

Baca Juga  JANGAN SAMPAI KANTOR GUBERNUR JAWA BARAT DIGELEDAH KPK

Ironisnya, mereka yang terjerat kasus hukum sering kali adalah orang-orang yang sebenarnya memiliki kesempatan besar untuk berbuat baik. Seorang pejabat, misalnya, telah diberi kewenangan untuk melayani masyarakat. Dengan satu kebijakan yang tepat, ia dapat membantu ribuan orang. Dengan satu keputusan yang adil, ia dapat menghadirkan kemaslahatan yang luas.

Namun ketika jabatan dipandang sebagai sarana memperkaya diri, arah pengabdian berubah menjadi penyimpangan. Amanah yang semestinya menjadi jalan kemuliaan justru berubah menjadi pintu masalah. Ketika proses hukum berjalan, bukan hanya nama baik yang dipertaruhkan, tetapi juga kehormatan keluarga dan kepercayaan masyarakat.

Padahal menjadi pejabat yang bersih jauh lebih mudah daripada menjadi pejabat yang harus terus-menerus menutupi penyimpangan. Menjalankan amanah sesuai aturan jauh lebih ringan daripada mencari cara untuk menghindari pertanggungjawaban.

Dalam perspektif Islam, jabatan bukanlah fasilitas untuk menikmati keistimewaan, melainkan tanggung jawab yang akan dimintai pertanggungjawaban. Semakin besar kekuasaan yang dimiliki, semakin besar pula amanah yang dipikul. Karena itu, menggunakan kewenangan untuk kemaslahatan masyarakat bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga kewajiban keagamaan.

Masyarakat pada dasarnya tidak menuntut pemimpin yang sempurna. Mereka hanya menginginkan pemimpin yang jujur, adil, dan berpihak pada kepentingan rakyat. Nilai-nilai tersebut tampak sederhana, tetapi justru itulah fondasi kepercayaan publik.

Baca Juga  Board of Peace Gaza: Perdamaian Tanpa Suara Korban

Kebaikan tidak pernah membutuhkan panggung besar untuk menunjukkan nilainya. Ia hadir dalam keputusan yang adil, pelayanan yang tulus, dan kesediaan untuk menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Semakin banyak manfaat yang diberikan kepada orang lain, semakin besar pula penghormatan yang diperoleh.

Pada akhirnya, hidup bukan sekadar tentang apa yang berhasil dimiliki, melainkan bagaimana cara memperolehnya. Sebab ada orang yang meninggalkan dunia dengan harta melimpah tetapi dikenang karena kesalahannya. Ada pula yang hidup biasa-biasa saja, namun namanya tetap harum karena pengabdiannya.

Di situlah letak makna dari ungkapan bahwa orang baik tidur lebih nyenyak. Bukan karena mereka memiliki segalanya, melainkan karena tidak ada yang harus disembunyikan. Tidak ada amanah yang dikhianati. Tidak ada hak orang lain yang dirampas. Tidak ada ketakutan menunggu hari ketika keburukan terbongkar.

Maka, jika kebaikan membuat hidup lebih tenang, lebih dihormati, dan lebih bermanfaat bagi sesama, mengapa harus memilih jalan yang justru menyulitkan diri sendiri? Sebab sering kali, jalan yang paling mulia sekaligus paling sederhana adalah menjadi orang baik.

Share :

Baca Juga

OPINI

ANALISIS: Dua Gerbang Energi Dunia Terkunci, Indonesia Waspada Krisis Logistik Global

ACEH

Maulid Nabi di Pulo Gajah Mate Meriah dengan Zikir dan Rapai, Tgk. Asnawi Ajak Generasi Muda Teladani Rasulullah SAW

OPINI

Pergantian Menkeu Tanpa Penjelasan

OPINI

Mengembalikan Kedigdayaan Samudera Pasai Melalui Pengembangan Ekonomi Maritim 

EDUKASI

Jangan Langsung Mengajar: Mengapa Lima Menit Pertama Menentukan Semangat Belajar Siswa

ACEH

Wacana Provinsi Samudera Pase Menguat, Warga Utara-Timur Aceh Dorong Pemerataan Pembangunan

OPINI

21 Tahun Damai Aceh: Perang Senjata Berhenti, Perang Anggaran Belum Usai

OPINI

Menjemput Nakhoda Baru Unimal: Meritokrasi Akademik dan Ujian Integritas Kepemimpinan