![]()
Oleh :
Dr. Drs. T.M. Jamil TA, M.Si
Pengamat Sosial, USK, Banda Aceh
Entah mengapa, Ada suatu ‘penyakit’ dalam diri ini – Saya mempunyai kebiasaan buruk, yaitu seringkali menulis “sesuatu” ketika peristiwa telah terjadi. Selain itu, menulis bagi saya acap kali berbanding lurus dengan tingkat “stress” yang saya rasakan. Anehnya, semakin saya “stress” semakin bagus, serius dan rajin saya menulis. Oleh karena itu, jika beberapa hari ini saya tak menulis, itu sesungguhnya pertanda keadaan saya sudah lumayan baik dan tidak “stress” lagi … hehe….
Nah, kali ini saya akan menulis sebuah kebiasaan lain yang lagi saya suka. Memang, sejak dulu, saya paling suka untuk membaca tentang “sisi lain dari kehidupan seseorang”. Biasanya, saya jadikan hobby untuk membaca “kisah orang-orang sukses”, di samping hobby lain sebagai penulis. Yaa… hobby saya adalah membaca profil tokoh atau siapapun dech … Ya, Entah mengapa, saya memang terlalu malas kalau harus membaca buku biografi orang yang sangat tebal itu. Lagi pula, saya lebih suka membaca kisah hidup orang yang masih hidup. Itu karena saya percaya setiap masa punya persoalan dan semangatnya sendiri-sendiri.
Membaca kehidupan orang lain membuat saya sadar bahwa parameter dan ukuran keberhasilan bagi setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang sukses dengan jadi Guru Besar atau Profesor, ada jadi Guru Besar Madya, ada yang jadi “Guru Besar Kepala”, dan ada juga yang sukses dengan menjadi guru di SD. Ada yang berhasil menjadi pengembang di dunia global, ada yang sukses jadi petani cabe (seperti Almarhum ayahku sendiri), ada juga yang cukup bahagia dengan menjadi juragan rumah kontrakan, dan tentu ada yang lebih bahagia dengan jadi PNS mujur, jujur dan hidup seadanya meski sering dizhalami.
Ada juga yang merasa mencapai “sesuatu” karena sekolah di luar negeri atau luar daerah, ada pula yang merasa cukup untuk berhenti kuliah di semester ke-tiga dengan berbagai sebab dan alasan. Kita tentu tidak tahu mengapa itu terjadi, hanya mereka sendiri-lah yang lebih tahu baik yang sukses maupun yang gagal. Kalau kata “kekasihku” sendiri, yang seringkali dikutip oleh anak-anakku … “ Abang, Orang itu beda-beda. Bukankah karena perbedaan itu yang membuat hidup kita ini semakin lebih menarik dan indah?”. Wallahu ‘aklam Bissawab.
Tapi, tentu saja yang paling sering saya baca sekarang ini adalah kisah para akademisi dan politikus, baik yang top beneran maupun yang pura-pura nge-top atau mencari sensasi dan pencitraan diri. Membaca nama dan kisah hidup singkat mereka seperti, Calon Presiden, Calon Calon Wapres, Calon Gubernur, dan Calon Bupati atau Walikota misalnya… membuat saya cukup terhibur. Ya, mereka itu hebat-hebat. Saya terintimidasi, eh terinspirasi tentu saja, dan ini membuat saya senang bukan kepalang untuk bisa belajar ada apa dengan ‘keberanian’nya untuk menjadi calon, bahkan di antaranya ada yang sudah berkali-kali menjadi calon tetap atau tetap calon. Karena tak pernah terpilih. Anehnya, lagi mereka kadang sedang menjabat, tetapi selama ini mereka gagal – tidak ada yang istimewa mereka lakukan, tapi sudah dengan sangat berani mengatakan bahwa ; “Saya akan mencalonkan diri lagi sebagai ……”. Wooww …. Menarik
bukan?
Karena saya sebagai dosen dan ilmuwan politik, maka saya juga senang membaca profil mereka-mereka yang mencapai jenjang guru besar di usia muda, dan mereka yang sukses menjadi pejabat tanpa “bermasalah” dalam memimpin. Malah, Saya baca berkali-kali tentang mereka yang seperti ini.
Saya ingin tahu jejak langkahnya, tapi bukan untuk di plagiasi, ya sekedar referensi saja. Celakanya, saya juga suka membacanya profil anak-anak muda eksekutif dan atau pengusaha di halaman akhir sebuah majalah ekonomi yang top di negeri ini. Saya senang melihat wajah-wajah segar yang mendapatkan keberhasilan ekonomi dari hasil kristalisasi keringat sendiri, bukan karena aji mumpung atau karena numpang sama ayahnya yang pejabat. Hebat, mantap, dan saya salut tabik terhadap mereka. Mereka insan luar biasa, karena saya pernah coba-coba jualan jeruk dan mangga ternyata saya bangkrut, he. he. Membaca hasil liputan majalah ekonomi tersebut, memaksa dan bikin saya ingin mencoba bisnis lagi… Hmmmm… mungkin mau buka PAUD, TK atau Konsultan Politik? Ah… asyik juga lagi bermimpi nich…!.
Tapi kadang-kadang saya juga berpikir, mana ada sich, orang yang mau, apalagi harus mengeluarkan uang lagi untuk konsultasi tentang bagaimana berpolitik secara etis dan meraih kemenangan secara santun dan beradab?. Maksud saya, bukanlah mereka menjadi politisi karbitan dan plin plan. Waktu bertarung bicara lain, setelah menang bicaranya lebih aneh lagi… Semua orang tahu, untuk apa cerdas dan banyak ilmu dalam berpolitik? Bagi mereka, terutama ‘oknum politisi karbitan’ – yang penting mereka sangat cerdas untuk mempolitisir.
Para Pembaca Yang Mulia, kita kembali lagi pada pembahasan kisah hidup orang sukses dan orang hebat. Saya juga sekarang makin percaya bahwa apa yang terlihat seringkali bukan yang sebenarnya. Apakah kita sukses diukur dari gadget yang dipakai? Semakin luas bentang layar gadget berarti makin hebat? Atau jumlah batu giok yang dipakai di tangan? (mungkin bagi yang hobby) atau jenis dan tipe kendaraan yang digunakan? makanan yang di makan ataukah merek kopi yang diminum? Hhhmmm… pernahkah membaca kisah imajiner saya bertemu dengan orang kaya bernama “Tengku Mujur”, yang membeli sebuah apartemen seharga sepuluh milyar di “Love City” buat anak-anak yang sekolah di kota sana?, Kisah itu mengajari saya bolak-balik dan mengubah cara pandang tentang orang dalam meraih cita, cinta dan kesuksesan dalam hidup ini. Mengintimidasi atau memaksa diri sendiri oleh orang-orang yang (saya anggap) top, hebat, dan sukses adalah merupakan cara saya membunuh rasa egoisme dalam diri saya yang berlebihan dalam memperlakukan orang lain yang belum sukses, seperti untuk adik-adikku mahasiswa. Mahasiswa, mereka sedang belajar dan masih butuh waktu yang banyak untuk mencapai sukses. Makanya, saya tak pernah sedikitpun menuntut “lebih banyak” dari mereka. Bagi saya, asalkan mereka tahu “banyak lebih” saja, sudah baik dan mereka calon orang hebat.
Memang dalam hidup ini, selalu butuh rasa empati, upaya dan kerja keras untuk meredam rasa “sudah berhasil” atau “merasa hebat” dalam diri kita sendiri dan mentransformasikannya ke dalam bentuk yang lebih baik, merasa bersyukur kepada Allah Swt atas semua limpahan nikmatnya kepada kita selama ini. Karena saya yakin, dengan sikap seperti itu, kesuksesan dengan bantuan Allah swt semakin dekat menghampiri kita. Amin, Ya Rabbal ‘Alamin.
TERNYATA, kondisi seperti ini dan perasaan tidak nervous lagi pernah juga terjadi pada diri saya sendiri, ketika akan presentasi proposal penelitian untuk mendapatkan dana pada Toyota Foundation Jepang beberapa tahun yang lalu. Dulu, ketika sebelum diterima proposal, rasa rasa takut terlalu tinggi dan saya pernah merasa punya kepercayaan diri kadang terlalu berlebihan. Kemudian tidak takut dan sungkan lagi ketika mau presentasi walaupun dalam lingkup nasional maupun internasional. Akibatnya, kualitas presentasi saya sangat tidak memuaskan, dibandingkan ketika saya masih ada rasa takut dan tidak percaya diri. Ayo Kenapa? Hal ini dikarenakan kalau merasa masih merasa takut dan tidak percaya diri, saya pasti belajar lebih serius lagi dan latihan lagi. Hasilnya pasti lebih bagus, bukan?
Ah, ada-ada saja, kok ngelantur sich bicaranya, sampai ke pembahasan ‘rasa takut’. Nah, seharusnya begitulah sikap kita dalam menjalani hidup ini, jangan sombong, angkuh dan terlalu percaya diri. Bukankah Rasululullah SAW berpesan kepada kita : Hiduplah dalam kesederhanaan, karena kesederhanaan itu dapat meningkatkan harkat dan martabatmu dalam Ridha Allah SWT. Semoga saja Tulisan Ini bermanfaat bagi insan yang berhati mulia. Hhhmmm…Mau baca tentang kisah saya ?. Tunggu untuk kesempatan yang lain.
Banda Aceh, 26 Maret 2023







