Home / HUKUM / OPINI

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:00 WIB

Episode I Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Foto. Fauzi As Pengamat Kebijakan Publik kota Keris

Oleh :
Fauzi As, Pengamat Kebijakan publik Kota Keris Sumenep


OPINI
 Jika menyebut nama orang dengan dugaan adalah racun berbungkus madu, maka menyebut nama dengan fakta adalah jamu bermerek susu.

Masalah kita hari ini bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan kebisingan. Di tengah bising itu, muncul satu jenis pelaku baru: bukan perampok jalanan, melainkan perampok persepsi.

Dulu, kita mengenal Edi Junaidi sebagai perampok nasabah bank. Polanya sederhana, nyaris primitif: mengintai korban, menunggu lengah, memecah kaca, lalu mengambil uang. Tertangkap, dilumpuhkan, dicatat dalam berita kriminal, lalu selesai.

Itu perampok yang jujur pada profesinya. Tidak pura-pura suci. Tidak bersembunyi di balik kata-kata.

Sekarang, kita berhadapan dengan jenis yang lebih modern. Ia tidak memecah kaca, melainkan memecah logika publik. Ia tidak mengambil uang dari mobil, melainkan mengambil ketenangan dari kepala orang agar uang keluar.

Semua itu dilakukan dengan satu alat: narasi yang dipoles seolah-olah fakta. Salah satu trik paling klasik adalah menjual sesuatu dengan label “baru”: kabar baru, opini baru, dan fakta baru.

Padahal, jika dibedah, yang disajikan sering kali hanyalah daur ulang dari bangkai informasi: data lama, potongan cerita, serpihan isu yang sudah lama berserakan di Google seperti sampah digital. Semua itu kemudian dikumpulkan, dipoles, dan dibungkus ulang.

“lalu dilempar ke publik seolah-olah menjadi temuan segar yang mengguncang”. Padahal, bukan mengguncang, melainkan hanya mengganggu.

Yang lebih berbahaya adalah ketika topik yang diangkat menyentuh hal sensitif, seperti industri rokok rakyat di Madura.

“pita cukai, distribusi, hingga isu-isu gelap yang mudah memancing kecurigaan”.

Di sinilah akal sehat benar-benar diuji. Ada yang dengan enteng menulis soal pita cukai.

“nama dan angka disebut, harga dikutip, perbandingan dibuat—tetapi melesetnya bukan sedikit”.

Baca Juga  Menakar Pelibatan TNI Diluar Fungsi Pertahanan

Bukan sekadar salah hitung, melainkan salah kelas. Bukan selisih tipis, melainkan bisa puluhan kali lipat.

Ini bukan sekadar kekeliruan teknis. Ini seperti orang membahas laut, tetapi tidak tahu bedanya asin dan tawar.

Namun anehnya, dengan kepercayaan diri penuh, tulisan seperti itu tetap dilempar ke publik. Diulang, diproduksi hampir setiap hari, seolah-olah semakin sering ditulis, maka semakin benar.

Padahal, yang terjadi justru sebaliknya: semakin sering diulang, semakin terlihat ketidaktahuannya.

Lebih jauh lagi, muncul pola yang tidak kalah menarik. Setiap hari ada saja tulisan yang mengaitkan rokok ilegal dengan berbagai tudingan besar, disusun dengan gaya investigatif, disertai nama-nama, seolah-olah semuanya sudah terang benderang.

Padahal, publik yang sedikit saja mau berpikir akan bertanya: mana datanya? Mana pembuktiannya? Mana keseimbangannya?

“Atau jangan-jangan ini bukan soal membuka kebenaran, melainkan menciptakan tekanan?”

Pola seperti ini terlalu mirip dengan metode lama: mencari target, membangun narasi, mengulang terus, lalu menunggu reaksi.

Kalau dulu menunggu korban lengah di parkiran, sekarang menunggu korban panik di ruang publik. Bedanya cuma satu: yang lama memakai linggis, yang baru memakai keyboard.

Ironinya semakin dalam ketika kita mengingat satu hal sederhana: banyak dari mereka yang hari ini paling nyaring berbicara tentang bau busuk tembakau lahir dari lingkungan yang sama.

Dari tanah yang sama, dari keluarga yang pernah hidup dari tembakau itu sendiri.

Keringat ayahnya mungkin pernah mengering di ladang. Tangan ibunya mungkin pernah lengket oleh daun tembakau yang dijemur di bawah matahari.

Namun, ketika sudah memegang kendali narasi, yang muncul bukan rasa hormat, melainkan jarak dan penghakiman.

Seolah lupa dari mana ia berasal. Seolah lupa bahwa industri yang dibicarakan bukan sekadar angka, melainkan napas hidup ribuan orang.

Baca Juga  Nasir Djamil Apresiasi Polres Aceh Timur dan Aceh Tenggara Berhasil Ungkap Kasus Kriminal Serta Narkoba

Di titik ini, kita perlu mengingatkan dengan tegas: jangan ada Edi Junaidi yang lain. Cukup satu, yang tercatat sebagai perampok nasabah bank, yang kesalahannya nyata, yang modusnya jelas, dan yang tidak bersembunyi di balik istilah mulia.

Karena jika nama itu mulai menjelma dalam bentuk baru, “lebih rapi, lebih bersih, tetapi lebih manipulatif”, kita sedang menyaksikan evolusi kejahatan yang jauh lebih berbahaya.

Seseorang bisa saja lahir pada hari Jumat, hari yang dianggap penuh berkah dan kebaikan. Namun, hari lahir tidak pernah menjamin isi kepala.

Edi Junaidi bisa lahir pada hari terbaik, tetapi tetap memilih jalan yang paling buruk.

Karena yang menentukan bukan tanggal, melainkan cara menggunakan kuasa. Dan menulis, sekali lagi, adalah kuasa. Ia bisa menjadi cahaya atau menjadi alat paling halus untuk merampas uang.

Maka, bagi siapa pun yang hari ini gemar menjual “kabar baru” dari bahan lama, memainkan angka tanpa dasar, serta menyusun tudingan tanpa keseimbangan, ingat satu hal: publik mungkin bisa dibingungkan hari ini, tetapi tidak selamanya.

Dan di tanah seperti Madura, ada satu hal yang tidak mudah dihapus: ingatan.

Maka, jika ada yang memaksakan gaya perampokan model baru dengan “narasi, tekanan, dan permainan opini”, jangan kaget jika suatu saat bukan lagi tulisannya yang dibaca, melainkan namanya yang dibuka.

Ditelanjangi oleh fakta. Dikembalikan ke asalnya. Dikenang bukan sebagai pembawa kabar, melainkan sebagai seseorang yang pernah mencoba merampok dengan cara paling halus: merampok lewat kata-kata.

Sejarah, seperti biasa, tidak membutuhkan banyak kalimat untuk menghakimi. Cukup satu: yang satu memecah kaca, yang satu memecah kebenaran, “keduanya tetap perampok”.

Dan kecanggihan teknologi telah “mencatat dengan sempurna” jejak seorang bernama Edi Junaidi.

(Episode I)

Share :

Baca Juga

EKBIS

UIN Ar-Raniry Butuh Nahkoda, Bukan Sekadar Penjaga Mesin

OPINI

Menunggu 13 Tahun untuk Panggilan Langit

OPINI

Guru Murah, Pendidikan Mahal: Mengapa Martabat Pendidik Tidak Bisa Diukur dari Gaji Semata?

BERITA

Geledah Kantor DP3AKB, Polres Aceh Barat Dalami Dugaan Korupsi Dana BOKB Rp1,6 Miliar

BERITA

Polda Metro Jaya Tangkap Pelaku Pembacokan Pegawai Toko Roti di Cengkareng

ACEH

Upaya Preventif, Polsek Banda Alam Gencar Edukasi Warga Lewat Imbauan Karhutla

ACEH

27 Tahun Tragedi Simpang KKA: Luka Sejarah, Keadilan Belum Tuntas

BERANDA

“Hantu Siang Bolong”: Kiyai Ashari Tersangka Pencabulan 50 Santriwati Masih Buron