Oleh: Juni Ahyar, Akademisi, Peneliti, Pemerhati Pendidikan dan Bahasa
OPINI – Di tengah gegap gempita perayaan Tahun Baru Islam, satu pertanyaan mendasar sering kali luput dari perhatian: apakah momentum 1 Muharam benar-benar melahirkan perubahan kesadaran, atau sekadar mengulang ritual tahunan yang kehilangan makna?
Pawai obor, tabligh akbar, hingga doa bersama memang menjadi bagian dari syiar yang patut diapresiasi. Namun, jika seluruh rangkaian itu berhenti pada seremonial, maka Tahun Baru Hijriah hanya akan menjadi penanda administratif dalam kalender, bukan transformasi kesadaran manusia.
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita hidup di tengah era digital yang serba cepat, serba instan, dan serba terhubung. Berbagai laporan menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di ruang digital. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga mengindikasikan tingginya tingkat penetrasi internet di Indonesia, yang kini telah menjangkau sebagian besar populasi.
Namun, di balik konektivitas yang semakin luas itu, muncul paradoks yang semakin nyata: manusia semakin terhubung dengan dunia luar, tetapi semakin kehilangan ruang untuk terhubung dengan dirinya sendiri.
Media sosial hari ini tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga arena distraksi tanpa henti. Fenomena doom scrolling, konsumsi konten berlebihan, dan budaya viral telah menggeser cara manusia memandang waktu. Waktu tidak lagi dipahami sebagai amanah, tetapi sekadar ruang untuk mengisi kebosanan.
Akibatnya, refleksi diri semakin jarang dilakukan. Manusia lebih sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain daripada mengevaluasi dirinya sendiri. Dalam situasi inilah, Tahun Baru Islam seharusnya hadir sebagai titik balik kesadaran, bukan sekadar perayaan simbolik.
Islam menempatkan waktu sebagai sesuatu yang sangat fundamental. Allah SWT bahkan bersumpah atas waktu dalam Al-Qur’an, seperti dalam Surah Al-‘Ashr, Ad-Dhuha, dan Al-Fajr. Pesan teologisnya jelas: waktu bukan sekadar hitungan detik dan tahun, melainkan ruang pertanggungjawaban moral manusia.
Namun, kesadaran ini tampak semakin melemah di era digital. Waktu yang seharusnya menjadi modal utama produktivitas justru terkikis oleh konsumsi informasi yang tidak terarah. Ironisnya, kehilangan waktu sering kali tidak disadari karena tersamarkan oleh aktivitas yang tampak “sibuk”.
Makna hijrah kerap direduksi menjadi peristiwa historis semata. Padahal, dalam konteks kekinian, hijrah menuntut pembacaan yang lebih luas: perpindahan kualitas hidup manusia.
Hijrah hari ini seharusnya dimaknai sebagai:
- pergeseran dari kemalasan menuju produktivitas,
- dari konsumsi pasif menuju kreativitas,
- dari apatis menuju kepedulian,
- serta dari pengetahuan yang berhenti di kepala menuju nilai yang dihidupkan dalam tindakan.
Tanpa transformasi tersebut, hijrah hanya akan menjadi slogan tahunan yang kehilangan daya dorong perubahan.
Tahun Baru Islam sejatinya adalah momentum evaluasi diri yang rasional. Muhasabah tidak boleh berhenti pada penyesalan emosional, tetapi harus melahirkan keputusan dan perubahan nyata.
Seorang pelajar perlu menilai kembali kedisiplinannya. Akademisi harus mengukur kontribusi keilmuannya. Pemimpin perlu mengevaluasi amanah yang diemban. Dan masyarakat secara umum dituntut untuk bertanya: sejauh mana kehadirannya memberi manfaat bagi lingkungan?
Tanpa evaluasi yang jujur, pergantian tahun hanya akan menjadi siklus waktu yang kosong dari makna.
Generasi muda berada pada posisi paling rentan dalam krisis kesadaran waktu ini. Paparan informasi yang berlebihan, algoritma media sosial, dan budaya instan telah memengaruhi pola pikir dan daya konsentrasi.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, pendidikan tidak lagi cukup hanya menekankan aspek kognitif dan ritual, tetapi juga harus membangun disiplin waktu, kemampuan berpikir kritis, serta tanggung jawab digital.
Memperingati 1 Muharam tidak seharusnya berhenti pada simbol dan seremoni. Tahun baru Islam harus menjadi titik awal untuk menata ulang cara manusia memandang waktu dan kehidupan.
Sebab hakikat pergantian tahun bukanlah bertambahnya usia, melainkan berkurangnya kesempatan untuk memperbaiki diri.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan terletak pada banyaknya tahun yang dilalui, tetapi pada kualitas iman, ilmu, amal, dan manfaat yang ditinggalkan.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Semoga momentum ini benar-benar menjadi awal hijrah intelektual, moral, dan spiritual menuju kehidupan yang lebih sadar, produktif, dan bermakna.







