Home / OPINI

Sabtu, 9 Mei 2026 - 20:10 WIB

Menunggu 13 Tahun untuk Panggilan Langit

Oleh: Dr. Bukhari M.H.CM- advokat sekaligus mediator.

OPINI – Tidak semua perjalanan dimulai dengan langkah kaki. Ada perjalanan yang dimulai dari kesabaran panjang, doa yang diam-diam dipanjatkan setelah salat, tabungan yang disisihkan sedikit demi sedikit, serta harapan yang terus dijaga agar tidak padam oleh waktu. Itulah perjalanan haji.

Hari ini, Sabtu 9 Mei 2026, menjadi hari yang penuh haru bagi sebagian masyarakat Aceh Utara, khususnya dari Kecamatan Samudera yang tergabung dalam Kloter 6. Setelah mendaftar sejak tahun 2012, penantian panjang selama 13 tahun akhirnya sampai pada titik keberangkatan. Dari tanah kelahiran menuju Banda Aceh, lalu melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci Mekkah Al-Mukarramah.

Di antara rombongan jamaah tersebut, turut berangkat orang tua kami tercinta, Adnen. Sebuah kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata ketika melihat orang tua akhirnya mendapat kesempatan memenuhi panggilan Allah setelah penantian yang begitu panjang. Ada haru, syukur, sekaligus doa yang terus mengalir dari anak-anak dan keluarga yang melepas keberangkatan dengan mata berkaca-kaca dan hati penuh harapan.

Bagi sebagian orang, 13 tahun mungkin hanya angka. Namun bagi calon jamaah haji, itu adalah masa yang dipenuhi ujian kesabaran, perjuangan ekonomi, kesehatan yang terus dijaga, serta doa yang tak pernah putus. Ada yang dahulu mendaftar masih kuat berjalan, kini rambut telah memutih. Ada yang dahulu mengantar orang lain berhaji, kini dirinya sendiri dipanggil Allah menjadi tamu-Nya.

Baca Juga  50 TAHUN HKTI

Haji bukan sekadar perjalanan geografis dari Aceh menuju Arab Saudi. Ia adalah perjalanan ruhani menuju keikhlasan. Sebab tidak semua orang yang mampu secara materi benar-benar mendapat kesempatan untuk berangkat. Banyak yang memiliki harta, tetapi belum mendapat panggilan.

Momentum keberangkatan jamaah hari ini juga menjadi pengingat bahwa ibadah membutuhkan kesabaran panjang. Di zaman yang serba instan, haji justru mengajarkan manusia tentang makna menunggu. Menunggu giliran. Menunggu panggilan. Menunggu waktu terbaik dari Allah. Dan dalam penantian itulah keimanan diuji.

Mekkah bukan hanya tempat. Ia adalah ruang air mata, tempat jutaan manusia datang membawa dosa, harapan, dan doa-doa paling rahasia. Di depan Ka’bah, manusia tidak lagi dikenal karena jabatan, kekayaan, atau kedudukan sosial. Semua mengenakan kain ihram yang sama. Semua menjadi hamba yang kecil di hadapan Allah SWT.

Karena itu, keberangkatan jamaah haji dari Aceh Utara hari ini sejatinya bukan hanya milik keluarga mereka, tetapi juga kebahagiaan masyarakat. Ada doa para tetangga yang ikut mengiringi. Ada harapan anak-anak yang menunggu oleh-oleh kisah dari Tanah Suci. Ada pula rasa haru ketika melihat orang tua akhirnya mampu memenuhi rukun Islam kelima setelah menunggu lebih dari satu dekade.

Baca Juga  Berhentilah Menghasilkan Pemimpin yang Berhutang Politik dan Balas Budi

Kita juga memahami bahwa ibadah haji bukan perjalanan yang ringan. Cuaca panas, kepadatan jamaah, kondisi fisik yang melelahkan, hingga rangkaian rukun yang panjang membutuhkan kesehatan dan kekuatan lahir batin. Karena itu, doa menjadi pengiring paling penting dalam setiap langkah jamaah.

Secara khusus, kami memanjatkan doa untuk ibunda tercinta, Adnen. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kekuatan, kemudahan, dan perlindungan dalam seluruh rangkaian ibadah haji. Semoga setiap langkah beliau menjadi amal ibadah, setiap doa yang dipanjatkan di depan Ka’bah diijabah Allah, serta diberikan kelancaran dalam menjalankan rukun dan wajib haji.

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah beliau dan seluruh jamaah Kloter 6 Aceh. Semoga mereka diberi keselamatan sejak keberangkatan, selama berada di Tanah Suci, hingga kembali lagi ke tanah air dengan hati yang bersih dan penuh keberkahan.

Dan yang paling utama, semoga ibunda kami, Adnen kembali sebagai haji yang mabrur haji yang membawa perubahan kebaikan, keberkahan bagi keluarga, serta menjadi cahaya dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Labbaikallahumma Labbaik.
Selamat menunaikan ibadah haji, tamu-tamu Allah dari Aceh Utara. Semoga setiap lelah menjadi penghapus dosa, setiap doa menjadi cahaya, dan setiap langkah menuju Baitullah dicatat sebagai kemuliaan di sisi Allah SWT.

Share :

Baca Juga

OPINI

Guru Murah, Pendidikan Mahal: Mengapa Martabat Pendidik Tidak Bisa Diukur dari Gaji Semata?

EDUKASI

Hari Pendidikan Nasional 2026: Ketika Pendidikan Mengejar Simbol, Bukan Substansi

EDUKASI

Hardiknas 2026: Keteladanan sebagai Sumber Wibawa Guru

EDUKASI

Patologi Pendidikan Kita : Inflasi Gelar, Defisit Adab, dan Kematian Marwah Intelektual

OPINI

Meremehkan Ulama di Tengah Polemik Publik

KESEHATAN

JKA dan Feodalisme Politik Modern : Ketika Pengawasan Publik Dianggap Gangguan Kekuasaan

HUKUM

Episode I Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

EDUKASI

Kepercayaan Publik yang Retak: Ketika Pemerintah Desa, Media, dan Masyarakat Gagal Bersinergi