Home / EDUKASI / OPINI

Sabtu, 2 Mei 2026 - 00:00 WIB

Hardiknas 2026: Keteladanan sebagai Sumber Wibawa Guru

Oleh Juni Ahyar
Akademisi, Peneliti, Pemerhati Pendidikan dan Bahasa

Tanggal 2 Mei selalu menjadi penanda penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia. Pada hari ini, bangsa mengenang jasa besar Ki Hajar Dewantara yang meletakkan dasar pendidikan nasional melalui filosofi yang tetap relevan: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Ketiganya menegaskan satu hal pokok: keteladanan merupakan inti dari pendidikan.

Hari Pendidikan Nasional 2026 semestinya tidak berhenti pada seremoni. Momentum ini layak dimaknai sebagai ruang refleksi untuk meneguhkan kembali peran guru, bukan sekadar sebagai pengajar, melainkan juga sebagai penuntun nilai dan pembentuk karakter.

Di tengah perubahan sosial yang cepat dan arus digitalisasi yang kian deras, peran guru menjadi semakin kompleks. Pengetahuan dapat diakses dengan mudah, tetapi nilai dan kebijaksanaan tetap membutuhkan kehadiran manusia. Dalam konteks ini, keteladanan menjadi sumber utama wibawa guru.

Wibawa tidak lahir dari suara yang keras atau sikap yang menakutkan. Ia tumbuh dari konsistensi antara ucapan dan tindakan. Guru yang hadir tepat waktu, bersikap adil, serta menunjukkan integritas dalam keseharian akan lebih dihormati daripada guru yang sekadar menuntut kepatuhan.

Dalam praktik pendidikan, terdapat sejumlah hal yang layak menjadi perhatian bersama. Bukan untuk menyalahkan, melainkan sebagai bahan refleksi demi perbaikan berkelanjutan.

Baca Juga  Kapolsek Dewantara Menghimbau Masyarakat Kawal Pendidikan

Tujuh Catatan Praktik yang Perlu Dibenahi

Pertama, kehadiran dan pengelolaan waktu di kelas. Ketepatan waktu bukan sekadar disiplin personal, tetapi juga pembelajaran nilai bagi peserta didik.

Kedua, perencanaan pembelajaran. Kesiapan guru sebelum memasuki kelas menjadi penentu arah dan kualitas proses belajar.

Ketiga, pelaksanaan evaluasi. Penilaian yang cermat dan berimbang membantu siswa memahami perkembangan dirinya secara utuh.

Keempat, kedalaman dalam penyampaian materi. Pembelajaran yang bermakna menuntut penjelasan yang utuh, bukan sekadar pemberian tugas.

Kelima, perhatian pada pendidikan adab dan karakter. Keberhasilan akademik akan lebih bermakna apabila berjalan seiring dengan pembentukan akhlak.

Keenam, keteladanan dalam sikap dan perilaku. Apa yang dilakukan guru sering kali lebih diingat daripada apa yang diucapkan.

Ketujuh, kemauan untuk terus belajar dan berkembang. Dunia pendidikan yang dinamis menuntut guru untuk senantiasa memperbarui pengetahuan dan keterampilan.

Berbagai kajian pendidikan menegaskan bahwa kualitas guru merupakan faktor kunci dalam keberhasilan belajar. Laporan UNESCO menunjukkan bahwa interaksi guru dengan siswa berpengaruh signifikan terhadap capaian pembelajaran. Hal serupa ditegaskan oleh OECD melalui studi PISA, yang menempatkan kualitas pengajaran sebagai penentu penting literasi, numerasi, dan karakter peserta didik.

Tantangan yang dihadapi guru saat ini tidak ringan. Generasi digital tumbuh dalam lingkungan yang serba cepat, visual, dan interaktif. Dalam situasi ini, guru dituntut untuk adaptif dan terus belajar tanpa kehilangan jati dirinya sebagai pendidik. Keteladanan justru menjadi semakin penting ketika otoritas formal tidak lagi cukup untuk membangun penghormatan.

Baca Juga  Satu Anggota TPNPB OPM Kodap 8 Intan Jaya Gugur di Medan Perang

Wibawa guru di era modern tidak ditentukan oleh jarak, melainkan oleh kualitas relasi. Guru yang mampu mendengarkan, memahami, dan membimbing dengan empati akan lebih mudah diterima oleh peserta didik. Kedekatan emosional tetap perlu dijaga dalam batas profesional, sehingga hubungan yang terbangun tidak menghilangkan otoritas, tetapi justru memperkuatnya.

Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi kesempatan untuk bertanya kembali: sejauh mana guru telah menjadi teladan? Apakah kehadiran di kelas diiringi dengan kehadiran nilai? Apakah proses pembelajaran masih menjadi ruang pembentukan karakter, atau sekadar penyampaian materi?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting diajukan, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memperkuat komitmen. Guru adalah arsitek masa depan. Melalui keteladanan, guru menanamkan nilai yang akan tumbuh dalam diri peserta didik dan membentuk wajah bangsa di masa mendatang.

Pada akhirnya, wibawa guru tidak perlu dibangun dengan kemarahan. Ia tumbuh secara alami dari keteladanan yang konsisten. Dalam keteladanan itulah, pendidikan menemukan maknanya yang paling hakiki.

Lhokseumawe, Jum’at 2 Mei 2026

Share :

Baca Juga

EDUKASI

Patologi Pendidikan Kita : Inflasi Gelar, Defisit Adab, dan Kematian Marwah Intelektual

OPINI

Meremehkan Ulama di Tengah Polemik Publik

KESEHATAN

JKA dan Feodalisme Politik Modern : Ketika Pengawasan Publik Dianggap Gangguan Kekuasaan

EDUKASI

Sudah Belajar Lama Tapi Mudah Lupa? Ini Cara Menghafal yang Benar

EDUKASI

Kepercayaan Publik yang Retak: Ketika Pemerintah Desa, Media, dan Masyarakat Gagal Bersinergi

OPINI

Paradoks Fisikal dan Persistensi Kemiskinan: Kritik Struktural atas Tata Kelola Dana Otonomi Khusus Aceh

ACEH

Pimpin Upacara Hari Otonomi Daerah Ke XXX, Kapolres Aceh Timur Tekankan Sinergi dan Inovasi Daerah

OPINI

Ketika Kekhususan Menjadi Topeng Kekuasaan : Erosi Makna dan Krisis Akal Sehat Kepemimpinan Aceh