Home / BERANDA / BERITA / OPINI / POLITIK

Rabu, 8 Juli 2026 - 09:41 WIB

Dua Putra Aceh di Balik Radio Rimba Raya yang Melawan Propaganda Belanda

Dua putra Aceh yang berjasa menyelamatkan Republik Indonesia pada agresi Belanda ke I (1947) dan agresi Belanda ke II (1948), yaitu AG. Mutyara (kiri) dan TA. Talsya (kanan).

 

Oleh: Nab Bahany AS

MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – Di tengah lebatnya hutan Aceh Tengah pada masa Agresi Militer Belanda II, dua putra Aceh menyusun konsep pemberitaan yang menggemparkan dunia. Melalui Radio Rimba Raya, mereka menegaskan kepada dunia internasional bahwa Aceh dan Indonesia masih berdaulat dan tidak pernah dikuasai Belanda.

Radio Rimba Raya beroperasi dari dalam hutan dengan peralatan seadanya. Meski terbatas, jangkauannya luar biasa. Siaran berita yang disusunnya disiarkan dalam tujuh bahasa: Inggris, Urdu, Belanda, Jepang, Jerman, Arab, dan Melayu Indonesia.

Tujuannya satu: mematahkan propaganda Belanda yang terus menyiarkan bahwa Republik Indonesia telah runtuh.

Baca Juga  Diduga Mencuri, Warga Kembang Tanjong Diamuk Massa

“Radio lain di luar negeri yang menangkap siaran Radio Rimba Raya kemudian menyiarkannya kembali secara luas. Dari situlah dunia tahu bahwa pemerintahan Republik Indonesia di Aceh masih berjalan sejak Proklamasi 17 Agustus 1945,” ujar sumber sejarah yang mencatat peran radio tersebut.

Di balik mikrofon itu ada dua nama besar: AG. Mutiara selaku Kepala Penerangan Tentara Divisi X, dan TA. Talsya sebagai pimpinan siaran. Keduanya merancang naskah berita, memilih bahasa, dan memastikan pesan kemerdekaan sampai ke telinga dunia.

Berkat siaran mereka, narasi Belanda yang menyebut Indonesia telah kembali dikuasai dapat dipatahkan. Radio Rimba Raya menjadi salah satu corong diplomasi paling efektif Republik di kancah internasional pada 1948-1949.

Baca Juga  Bagaimanakah Memilih Pemimpin Yang Baik Dalam Islam

Kini, dari dua tokoh itu hanya satu yang masih hidup. AG. Mutiara telah wafat. Sementara TA. Talsya kini terbaring lemah di kediamannya di Gampong Panterik, Banda Aceh. Di usia senja, kesehatannya menurun dan mobilitasnya terbatas.

Ironisnya, hingga hari ini belum ada pejabat negara yang datang menjenguk. Padahal jasa beliau dalam mempertahankan kemerdekaan melalui gelombang udara sangat besar.

“Nah, begitulah nasib pejuang di masa tuanya,” tulis catatan yang menyoroti kondisi TA. Talsya saat ini.

Radio Rimba Raya bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah bukti bahwa dari rimba Aceh, suara Indonesia tetap menggema dan didengar dunia. Dan di balik itu, ada dua putra Aceh yang memilih pena dan mikrofon sebagai senjatanya.(*)

Share :

Baca Juga

BERANDA

12 dari 27 Pelaku Pencabulan Bergilir Terhadap Anak di Sampang Ditangkap, Polisi Kejar 15 Orang Lainnya

ACEH

Baitul Mal Aceh Monev Langsung 22 Daerah, Tegaskan Transparansi Dana ZIWAH Harus Sampai ke Mustahik

BERANDA

KPK Bongkar! Duit ke Menhut Raja Juli Diduga Hasil Potong Gaji 900 Petani Kuansing

ACEH

Korupsi BUMD Aceh Timur Terbukti, Majelis Hakim Hukum Darwin 5 Tahun 6 Bulan + Ganti Rugi Rp1,2 M

BERANDA

Gagalkan Kirim 25 Kg Sabu Lewat Kotak Speaker, 2 Kurir Asal Aceh Ditangkap di Labura

ACEH

15 Pesepak Bola Muda Aceh Timur Diberangkatkan Latihan ke PSS Sleman

ACEH

Bupati Al-Farlaky Buka Piala Bupati Aceh Timur Cup II 2026, Rebutkan Hadiah Rp100 Juta

BERANDA

Iran Perintahkan Warga Israel Utara Mengungsi, Balas Perintah Evakuasi Israel di Lebanon