Dua putra Aceh yang berjasa menyelamatkan Republik Indonesia pada agresi Belanda ke I (1947) dan agresi Belanda ke II (1948), yaitu AG. Mutyara (kiri) dan TA. Talsya (kanan).
Oleh: Nab Bahany AS
MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – Di tengah lebatnya hutan Aceh Tengah pada masa Agresi Militer Belanda II, dua putra Aceh menyusun konsep pemberitaan yang menggemparkan dunia. Melalui Radio Rimba Raya, mereka menegaskan kepada dunia internasional bahwa Aceh dan Indonesia masih berdaulat dan tidak pernah dikuasai Belanda.
Radio Rimba Raya beroperasi dari dalam hutan dengan peralatan seadanya. Meski terbatas, jangkauannya luar biasa. Siaran berita yang disusunnya disiarkan dalam tujuh bahasa: Inggris, Urdu, Belanda, Jepang, Jerman, Arab, dan Melayu Indonesia.
Tujuannya satu: mematahkan propaganda Belanda yang terus menyiarkan bahwa Republik Indonesia telah runtuh.
“Radio lain di luar negeri yang menangkap siaran Radio Rimba Raya kemudian menyiarkannya kembali secara luas. Dari situlah dunia tahu bahwa pemerintahan Republik Indonesia di Aceh masih berjalan sejak Proklamasi 17 Agustus 1945,” ujar sumber sejarah yang mencatat peran radio tersebut.
Di balik mikrofon itu ada dua nama besar: AG. Mutiara selaku Kepala Penerangan Tentara Divisi X, dan TA. Talsya sebagai pimpinan siaran. Keduanya merancang naskah berita, memilih bahasa, dan memastikan pesan kemerdekaan sampai ke telinga dunia.
Berkat siaran mereka, narasi Belanda yang menyebut Indonesia telah kembali dikuasai dapat dipatahkan. Radio Rimba Raya menjadi salah satu corong diplomasi paling efektif Republik di kancah internasional pada 1948-1949.
Kini, dari dua tokoh itu hanya satu yang masih hidup. AG. Mutiara telah wafat. Sementara TA. Talsya kini terbaring lemah di kediamannya di Gampong Panterik, Banda Aceh. Di usia senja, kesehatannya menurun dan mobilitasnya terbatas.
Ironisnya, hingga hari ini belum ada pejabat negara yang datang menjenguk. Padahal jasa beliau dalam mempertahankan kemerdekaan melalui gelombang udara sangat besar.
“Nah, begitulah nasib pejuang di masa tuanya,” tulis catatan yang menyoroti kondisi TA. Talsya saat ini.
Radio Rimba Raya bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah bukti bahwa dari rimba Aceh, suara Indonesia tetap menggema dan didengar dunia. Dan di balik itu, ada dua putra Aceh yang memilih pena dan mikrofon sebagai senjatanya.(*)







