![]()
MEDIALITERASI.ID | ACEH — Kolaborasi penelitian internasional multidisiplin terbentuk untuk mengkaji kondisi pengungsi Rohingya di Aceh, khususnya terkait kesenjangan kebijakan perlindungan, dilema kedaulatan negara, tantangan keamanan, serta risiko berbasis gender di kamp pengungsian.
Penelitian berjudul Rohingyan Community Development: Assessing Policy and Protections Gaps, and Gendered-Risk amidst Sovereignty Dilemma and Security Issues in Aceh Camps dipimpin oleh Jelang Ramadhan, Ph.D., dari Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia sebagai ketua tim peneliti.
Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif partisipatif dan analisis kebijakan untuk memetakan kebutuhan riil pengungsi Rohingya. Hasil penelitian diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat diimplementasikan pemerintah daerah, kementerian terkait, serta lembaga internasional dalam merancang intervensi kemanusiaan yang seimbang antara prinsip kedaulatan negara dan komitmen terhadap hak asasi manusia.
Sebagai mitra peneliti lokal, Hidayatsyah, M.Pd., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Malikussaleh (Unimal), berperan memfasilitasi akses lapangan sekaligus memberikan perspektif kontekstual terkait dinamika sosial masyarakat Aceh. Ia menilai keterlibatan akademisi lokal penting untuk memastikan validitas data serta relevansi temuan penelitian dengan kondisi lapangan.
Tim peneliti juga melibatkan Prof. Anthony Ware dari Deakin University, Australia, yang memiliki keahlian di bidang studi kemanusiaan dan konflik di Asia Tenggara, serta Orissa Putri Rosi dari UN Women yang fokus pada perlindungan perempuan dan anak dalam situasi pengungsian.
Menurut Jelang Ramadhan, penelitian ini bertujuan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang konkret dan berkelanjutan. Ia menyatakan hasil kajian diharapkan menjadi masukan strategis bagi pemangku kepentingan dalam merancang kebijakan kemanusiaan yang responsif.
Sementara itu, Prof. Anthony Ware menilai Aceh memiliki potensi besar sebagai pusat pembelajaran kemanusiaan, mengingat pengalaman daerah tersebut dalam penanganan bencana serta kuatnya tradisi solidaritas sosial masyarakat.
Hasil penelitian direncanakan akan disampaikan kepada berbagai pemangku kepentingan sebagai dasar penyusunan kebijakan perlindungan pengungsi Rohingya. Kolaborasi ini juga diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi kemanusiaan global serta menjadi contoh sinergi antara akademisi nasional, mitra lokal, institusi internasional, dan lembaga PBB dalam menjawab tantangan kemanusiaan berbasis bukti dan kearifan lokal.
Akademisi Dunia Petakan Masalah Perlindungan Rohingya di Kamp Aceh
ACEH — Kolaborasi penelitian internasional multidisiplin terbentuk untuk mengkaji kondisi pengungsi Rohingya di Aceh, khususnya terkait kesenjangan kebijakan perlindungan, dilema kedaulatan negara, tantangan keamanan, serta risiko berbasis gender di kamp pengungsian.
Penelitian berjudul Rohingyan Community Development: Assessing Policy and Protections Gaps, and Gendered-Risk amidst Sovereignty Dilemma and Security Issues in Aceh Camps dipimpin oleh Jelang Ramadhan, Ph.D., dari Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia sebagai ketua tim peneliti.
Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif partisipatif dan analisis kebijakan untuk memetakan kebutuhan riil pengungsi Rohingya. Hasil penelitian diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat diimplementasikan pemerintah daerah, kementerian terkait, serta lembaga internasional dalam merancang intervensi kemanusiaan yang seimbang antara prinsip kedaulatan negara dan komitmen terhadap hak asasi manusia.
Sebagai mitra peneliti lokal, Hidayatsyah, M.Pd., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Malikussaleh (Unimal), berperan memfasilitasi akses lapangan sekaligus memberikan perspektif kontekstual terkait dinamika sosial masyarakat Aceh. Ia menilai keterlibatan akademisi lokal penting untuk memastikan validitas data serta relevansi temuan penelitian dengan kondisi lapangan.
Tim peneliti juga melibatkan Prof. Anthony Ware dari Deakin University, Australia, yang memiliki keahlian di bidang studi kemanusiaan dan konflik di Asia Tenggara, serta Orissa Putri Rosi dari UN Women yang fokus pada perlindungan perempuan dan anak dalam situasi pengungsian.
Menurut Jelang Ramadhan, penelitian ini bertujuan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang konkret dan berkelanjutan. Ia menyatakan hasil kajian diharapkan menjadi masukan strategis bagi pemangku kepentingan dalam merancang kebijakan kemanusiaan yang responsif.
Sementara itu, Prof. Anthony Ware menilai Aceh memiliki potensi besar sebagai pusat pembelajaran kemanusiaan, mengingat pengalaman daerah tersebut dalam penanganan bencana serta kuatnya tradisi solidaritas sosial masyarakat.
Hasil penelitian direncanakan akan disampaikan kepada berbagai pemangku kepentingan sebagai dasar penyusunan kebijakan perlindungan pengungsi Rohingya. Kolaborasi ini juga diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi kemanusiaan global serta menjadi contoh sinergi antara akademisi nasional, mitra lokal, institusi internasional, dan lembaga PBB dalam menjawab tantangan kemanusiaan berbasis bukti dan kearifan lokal. (JA)







