Home / BERITA

Jumat, 12 September 2025 - 09:29 WIB

Rahmad Situmorang: Jangan Giring Opini Soal Tunjangan DPRD, Fakta Tunjangan OPD dan Proyek Mangkrak Era Wali Kota Medan Justru Menganga

MEDIALITERASI.ID | MEDAN — Pernyataan seorang tokoh yang menyoroti besarnya tunjangan anggota DPRD Sumatera Utara menuai respons keras dari berbagai kalangan. Wakil Ketua Koalisi Pemerhati Indonesia Raya (KAPIR), Rahmad Situmorang, menilai framing sepihak tersebut merupakan manipulasi informasi yang dapat menyesatkan publik.

“Jangan menggiring opini publik hanya pada satu sisi saja. Kalau bicara soal uang rakyat, mari kita buka semuanya secara terang. Jangan buat seolah-olah DPRD Sumut adalah pihak yang paling menikmati anggaran, padahal tunjangan pejabat OPD di provinsi jauh lebih fantastis,” tegas Rahmad di Medan, Kamis (11/9/2025).

Rahmad menyebut, berdasarkan data yang beredar, Sekretaris Daerah Provinsi Sumut bisa mengantongi tunjangan hingga Rp125 juta per bulan. Sementara Asisten Sekda menerima Rp54 juta, dan tenaga ahli gubernur Rp47,7 juta. Tunjangan lain di lingkungan inspektorat dan OPD juga tidak kalah besar.

Baca Juga  Gema Tong-tong dan Teknologi Robot Warnai Malam Anugerah Inovasi Daerah Sumenep

“Kalau benar-benar ingin transparan, jangan setengah hati. Rakyat berhak tahu keseluruhan fakta, bukan hanya potongan-potongan yang dipelintir demi agenda politik,” lanjutnya.

Lebih jauh, Rahmad menilai pernyataan yang menyudutkan DPRD justru seperti upaya mengalihkan perhatian dari rekam jejak buruk saat tokoh tersebut menjabat Wali Kota Medan. Ia menyoroti sejumlah proyek mangkrak bernilai ratusan miliar rupiah yang masih membebani anggaran publik, di antaranya:

Stadion Teladan, yang dijanjikan menjadi ikon olahraga namun hingga kini tak kunjung rampung.

Islamic Center, mangkrak tanpa kejelasan manfaat bagi masyarakat.

Lampu Hias Jalan (lampu pocong), proyek kontroversial dengan nilai tinggi yang dinilai tidak berdampak pada kesejahteraan warga.

Basemen Lapangan Merdeka, yang tidak bisa difungsikan karena selalu tergenang banjir setiap hujan turun.

Baca Juga  Ketua DPD FKB Pol PP Aceh - Lhokseumawe Meminta KEMENDAGRI Evaluasi Kinerja Direktur Pol PP Pusat

“Pernyataan itu seperti meludah ke atas. Menuduh pihak lain tamak, tapi lupa bahwa proyek-proyek masa jabatannya sendiri justru menyisakan tanda tanya besar. Ini bukan lagi soal DPRD, ini soal tanggung jawab terhadap anggaran publik,” ujar Rahmad.

Sejumlah aktivis mahasiswa dan elemen masyarakat sipil juga turut bersuara. Mereka mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas proyek-proyek mangkrak tersebut. Menurut mereka, isu tunjangan DPRD sengaja diangkat untuk menutupi pemborosan anggaran yang hingga kini belum dipertanggungjawabkan secara hukum maupun moral.

“Kita tidak anti-kritik, tapi jangan pilih-pilih. Transparansi harus menyeluruh. Kalau DPRD dituding, maka OPD juga harus dibuka. Kalau tunjangan dipersoalkan, maka proyek mangkrak pun harus diusut,” tutup Rahmad Situmorang. [RZ]

Share :

Baca Juga

BERITA

Pleno XIX Dewan Adat se-Tanah Papua Tegas Tolak PSN dan Pendekatan Militer di Papua

ACEH

KPK Sentil Pemprov Aceh: Dana Bencana Rp11,5 T Masih Mengendap, Pemulihan Tersendat

BERANDA

Rupiah Tertekan Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.885 di Sejumlah Bank

BERITA

Buntut Pernyataan Soal Wartawan Non-UKW, Aliansi Pers Soroti Transparansi Proyek Revitalisasi Sekolah di Aceh

ACEH

Wagub Aceh Minta Tambah 331 Ribu Kuota PBI JK ke Mensos, Bahas Bencana dan Sekolah Rakyat

ACEH

Polisi Temukan Indikasi Molotov, Bentrokan Mahasiswa USK Hanguskan Gedung Fakultas Pertanian

BERITA

300 Petani Korban Banjir di Buket Linteung Terima Program Pemulihan Kebun

ACEH

Ricuh 2 Hari Berturut, Galacticos Cup IV 2026 di Bireuen Dihentikan Tanpa Final