Home / OPINI

Senin, 5 Juni 2023 - 03:09 WIB

WAHAI PARA PEMIMPIN, MARI BELAJAR DARI KISAH HIDUP FIR’ AUN

Oleh : T.M. Jamil [Associate Profesor Social Scientist, USK, Banda Aceh]

Kisah Fir’aun, Ketika Di Awal Kehidupan Sebelum Menjadi Raja. Tadi masa aku mengemaskan semua buku-buku didalam rak koleksi saya, tiba-tiba mataku ini terpandang pada sebuah buku lama lagi usang. Buku yang berjudul ‘kisah 25 rasul utama’ cetakan pada tahun 1972. Buku ini kepunyaan dari kakek, dan buku inilah menjadi pemicu untuk saya explore lebih lanjut sejarah-sejarah nabi di waktu saya sekolah dasar dulu – buku yang menggunakan bahasa nahu dan ejaan bahasa melayu lama, agak tertarik dengan kisah Fir’aun yang diketengahkan dalam buku yang menceritakan kisah beliau dari kecil, dewasa, cara hidup yang semestinya salah, sehingga saat dia menjadi Raja Mesir melalui muslihat dan jinayah. Jarang sekali buku-buku sejarah rasul yang ada di pasaran sekarang mempunyai informasi ini. Untuk itu, Maka izinkanlah saya untuk menuliskan kisah edukasi ini, semoga bermanfaat bagi pembaca media ini yang setia.

Fir’aun- Sejarah Awal Beliau dan Latar Belakang Keluarga. Sebelum Musa dilahirkan,di negeri Mesir terdapat seorang lelaki tua yang bernama Mas’ab berumur 170 tahun, namun tidak dikaruniakan seorang pun anak sebagai zuriat. Beliau sangat berkeinginan untuk mempunyai anak. Di suatu hari ketika dia sedang duduk santai, lalu dia terpandang pada seekor lembu yang sedang melahirkan anak. Melihat pada lembu itu, hatinya mengeluh hiba lalu berkata “‘malang sungguh nasibku, sedangkan lembu yang hina ini mempunyai anak, mengapakah aku tidak dikaruniakan seorang pun anak sebagai zuriat …“ Dengan kuasa Allah, lembu itu pun berkata-kata ”jangan kau bersedih, bersabarlah, nanti engkau pun akan dikaruniakan anak“.

Tidak beberapa lama selepas itu, terbukti juga apa yang di katakan oleh lembu itu, namun sayang sekali karena Mas’ab meninggal dunia sebelum anaknya lahir. Isteri Mas’ab sangat berbesar hati dengan kelahiran satu-satunya zuriat mereka, lalu menamai anak lelaki-nya itu Walid bin Mas’ab (nama sebenarnya Fir’aun). Walid dijaga dan diasuh oleh ibunya dengan penuh kasih sayang.

Ketika dewasa, Walid belajar ilmu pertukangan kayu bagi menampung keperluan tinggal bersama dgn ibunya, namun kehidupan yang teratur itu bertukar menjadi sebaliknya lantaran sikap Walid yang bergaul bebas, sehingga segala uang dan harta punah di gelanggang perjudian. Nasehat ibunya tidak pernah diindahkan. Setelah bosan bekerja sebagai tukang kayu, lalu ia mengubah pekerjaannya menjadi saudagar barang-barang. Kelakuannya sebagai saudagar agak lain dari yang lain. Apabila penagih Pajak meminta cukai atau pajak, dia lari dan tak mau membayar cukai tersebut – lantaran dari sikapnya itulah beliau digelar ‘FIR’ AUN’ yang maksudnya, ‘aku lebih hebat dari seterunya’. Dia lupa bahwa di atas langit – masih ada langit.

Pada suatu hari, seorang penduduk yang datang dari Amlakah telah dilarikan kudanya, ketika beliau berteriak meminta tolong, kebetulan Fir’aun yang tegap dan kuat melihat kejadian itu lalu menolongnya. Penduduk itu sangat berterima kasih pada Fir’aun lalu menawarkan Fir’un menjadi pegawai pengiringnya. Tawaran itu diterima oleh Fir’aun dengan senang hati dan dia pun bekerja dengan orang Amlakah itu … Nasib Fir’aun agak beruntung karena tak lama setelah itu, orang Amlakah itu meninggal dunia, karena orang Amlakah itu tiada zuriat untuk mewarisi kekayaan-nya, lalu semua harta kekayaan itu jatuh ke tangan Fir’aun. Begitulah adat yang berlaku di Mesir ketika itu.

Kebiasaan sikap Fir’aun yang pemboros dan suka berjudi, segala harta kekayaan itu tidak kekal dan akhirnya dia jatuh melarat kembali. Setelah itu Fir ‘aun bertukar pekerjaan sebagai penggali kubur dan dia membuat syarat-syarat sendiri jika ada orang yang ingin menguburkan mayat di tempatnya dia itu – mengenakan cukai, lalu menggunakan alasan yang cukai dikenakan itu di atas perintah raja. Sudah pasti Fir’aun mendapat keuntungan dan banyak di atas ‘cukai’ yang dia ciptakan sendiri, namun begitu dia tersalah langkah ketika di suatu hari seorang anak raja mesir mati dan pembesar-pembesar istana ingin menguburkan anak raja itu di sana, maka pertengkaran terjadi di antara Fir’aun dan pembesar-pembesar istana lalu mereka menangkap Fir’aun dan dihadapkan ke muka pengadilan. Fir’aun didapati salah dan dijatuhi hukuman mati. Namun Fir’aun dapat melepaskan diri dari hukuman tersebut dengan menebus kesalahan itu dengan cara membayar beratus-ratus dinar dan akhirnya dia dibebaskan.

Baca Juga  BATALKAN PROYEK IKN NUSANTARA

Fir’aun menjadi Raja. Suatu hari Raja Mesir bermimpi disengat kalajengking. Lalu dia merasa cemas dan menganggap seperti akan ada sesuatu yang buruk berlaku. Secara diam-diam, dia telah pergi ke rumah Wazirnya. Di perjalanan ke rumah wazirnya, beliau terserempak dengan Fir’aun. Lalu Fir’aun mengundang Raja Mesir ke rumahnya dan Raja Mesir pun menceritakan mimpi yang dialaminya. Fir’aun berpura-pura dan berlagak seperti orang yang tahu tentang tafsir mimpi dan setelah habis keterangan mimpi Raja Mesir itu, lalu Fir’aun meminta izin untuk ke biliknya sekejap mengambil kitab tafsir mimpi. Namun niatnya yang sebenarnya adalah beliau ingin mengambil pedang untuk memancung kepala Raja itu.

Lalu Raja Mesir dibunuh kejam dengan kepalanya dipancung oleh Fir’aun. Fir’aun menguburkan mayat raja itu dengan sangat hati-hati tanpa diketahui oleh siapapun dan selanjutnya segala persalinan raja dipakainya dan menuju ke istana lalu duduk di tahta singgasana istana. Ia mengaku dirinya sebagai Raja Mesir dan memaksa rakyat supaya tunduk dan sujud padanya. Wazirnya yang bernama Haman diberi suap beribu-ribu dinar supaya mau meng iktirafkan dan mengikutinya. Begitu juga dengan Wazir-wazir lain. Hamman ditawarkan menjadi wazir tertinggi. Sudah pasti Haman tidak menolak tawaran ini dan patuh pada Fir’aun. Fir’aun memerintahkan rakyat supaya tunduk dan mengakuinya sebagai Tuhan. Siapapun yang ingkar akan dibunuh dengan kejam. Demikianlah permulaan pemerintahan Fir’aun di Mesir. Asiah dijadikan isterinya secara paksa dan pengutan, sedangkan Asiah adalah penganut agama tauhid.

Perkawinan Fir’aun Dan Siti Asiah (Petikan Dari Hanan.Com.My). Tersebutlah di sebuah negeri Mesir ada satu keluarga yang terkenal dengan orang baik-baik dan shaleh yaitu Keluarga Imran yang bernama Siti Asiah, ia terkenal dengan kebaikannya dan ketaatannya kepada Allah, juga karena kecantikannya. Maka tidak heran lah ramai yang berkenan kepadanya terutama pemuda yang tertarik dengan kepribadiannya dan kecantikannya. Akan tetapi, mereka segan untuk meminangnya, begitulah Siti Asiah yang menjadi buah mulut ketika itu.

Kabar tentang Siti Asiah ini akhirnya sampai pula ke telinga Fir’aun, dan tergerak lah hati Fir’aun untuk memperistri kan Siti Asiah. Maka diutuskan seorang menteri bernama Haman untuk menyelidiki berita Siti Asiah. Kemudian Haman datanglah menemui Siti Asiah dan kedua orang tuanya dengan maksud menceritakan kehendak Fir’aun. Kedua orang tuanya menerima kedatangan dan maksud Fir’aun, tetapi Siti Asiah tidak menerima lamaran Fir’aun karena dia merupakan salah seorang tokoh yang ingkar kepada Allah SWT, dan raja yang dzalim. Itulah yang diucapkan Siti Asiah kepada orang tuanya.

Sehari kemudian, Hamman datang kembali kepada orang tua Siti untuk menanyakan tentang lamaran Fir’aun. Kemudian kehendak Siti disampaikan oleh kedua orang tuanya kepada wakil Fir’aun. Setelah menerima berita dari utusannya itu, Fir’aun menjadi marah, sehingga ia bertindak secara kekerasan terhadap Siti Asiah. Maka keesokan harinya, utusan lain dipanggil oleh Fir’aun untuk menyampaikan surat perintah darinya untuk menangkap kedua orang tua Siti Asiah, maka kedua orang tuanya disiksa dan dirantai, juga diperlakukan secara kasar lalu di bawa ke istana – akhirnya mereka dimasukkan ke penjara.

Setelah kedua orang tuanya disiksa, maka hari itu juga siti Asiah ditangkap dengan kekerasan dibawa ke istana. Setelah sampai di istana ia tidak dapat berkata apa-apa, namun yang ia khawatirkan adalah memikirkan nasib kedua orang tuanya. Maka setelah Siti Asiah berada di hadapan Fir’aun dengan kedua dua tangan terikat lalu kedua orang tuanya pun dibawa dari dalam penjara dipertemukan dengan anaknya. Sungguh tragedi yang sangat menyedihkan saat itu.

Baca Juga  80 Tahun Merdeka, Sekolah di Aceh Masih Reyot: Di Mana Keadilan untuk Guru dan Siswa?

Kemudian Fir’aun berkata : “Hai Asiah, jika engkau seorang anak yang baik tentu engkau akan sayang terhadap orang tuamu, maka oleh karena itu engkau boleh pilih antara dua, kalau engkau terima lamaranku berarti engkau akan hidup senang dan aku akan bebaskan orang tuamu. Dan sebaliknya jika engkau menolak lamaranku, maka aku akan perintahkan mereka untuk membakar hidup-hidup kedua orang tuamu di hadapanmu.” Hhhmmm … sungguh biadab sikap dan cara kepemimpinan yang dilakukan Fir ‘aun.

Berkaitan dengan ancaman itu, maka Siti Asiah bersedia menerima pinangan Fir’aun, akan tetapi Siti Asiah pun mengajukan kehendaknya kepada Fir’aun Yaitu : Pertama : Bahwa Fir’aun harus membebaskan kedua orang tuanya. Kedua : Harus membuatkan rumah yang indah lengkap, dengan perkakasnya, Ketiga : Bahwa orang tuanya harus dijamin kesehatannya beserta makan dan minumnya. Keempat : Bahwa Siti Asiah bersedia menjadi isteri Fir’aun hadir pada acara-acara tertentu sebagaimana lazimnya seorang isteri raja, akan tetapi Siti Asiah tidak bersedia tidur bersama Fir’aun. Jika permintaan-permintaan Siti Asiah tidak dipenuhi, ia rela mati dibunuh bersama kedua orang tuanya.

Akhirnya Fir’aun mengabulkan atau memenuhi permintaan Siti Asiah. Dan memerintahkan kepada Haman untuk membuka rantai belenggu yang ada di tangan dan kaki baik Siti Asiah maupun kedua orang tuanya.

Kini Siti Asiah hidup bersama Fir’aun dalam istana yang indah dan kemegahan. Akan tetapi bagai Siti Asiah tidaklah membawa pengaruh terhadap kehidupan pribadinya dan tidak pula terbawa arus adat jahiliyah. Ia tetap berpegang teguh kepada ajaran Islam. Hampir setiap saat terutama di malam hari ia selalu beribadah kepada Allah swt agar segala kehormatannya jangan sampai disentuh oleh orang-orang kafir sekalipun suaminya (Fir’aun), juga ia rela berkorban demi kepuasan dan ketenangan hidup orang tuanya. Sehingga untuk menyelamatkan Siti Asiah, Allah SWT memberikan pertolongan kepadanya untuk mencegah kebiadaban Fir’aun dan demi menjaga kehormatannya, Allah Swt Menciptakan Iblis Yang Menyamar Dirinya Seperti Rupa Siti Asiah Untuk Tidur Bersama Fir’aun. Subhanallah Walhamdulillah Wa La Ilaha Illallah, Allahu Akbar … !!!

Luar biasa kekejaman yang dilakukan oleh Fir’aun ketika dia kuat dan sedang berkuasa. Peraturan dan Undang-undang diciptakan sendiri untuk memperkuat kekuasaannya. Namun kezaliman dan kejahatan yang dilakukan selama berpuluh-tahun tahun akhirnya dia dibinasakan oleh Allah Swt. Na’uzubillahi Min Dzalik.

Demikianlah kekuasaan Allah yang ketika Musa yang masih bayi terdampar di istana Fir’aun, dibesarkan di dalam istana tanpa di ketahui bahwa Nabi Musa-lah adalah jawaban pada mimpi Fir’aun yang bakal menggugat kedudukannya sebagai penguasa yang angkuh dan arogan. Fir’aun tenggelam di tengah lautan merah, ketika mengejar Nabi Musa AS dan pengikutnya. Menurut beberapa riwayat semoga betul atau tidak, ketika Fir’aun hampir lemas di tengah lautan, beliau akhirnya mengakui keesaan Allah dan kerasulan Musa AS, Namun semua dan taubat-nya ketika itu sudah terlambat dan akhirnya Fir’aun mati di dalam kekufuran.

Fir’aun adalah petunjuk yang nyata diberikan Allah Swt kepada kita yang mana manusia yang melampaui batas tunggu saja akan dibinasakan kelak. Jangan bermain-main dengan kesombongan dan kekuasaan Allah Swt. Kejahatan Fir’aun dan kedzalimannya tidak ada tolok bandingannya. Justeru itu, janganlah melawan “kekuasaan langit” karena kita pasti akan dibinasakan dan dibalas, lambat atau cepat, namun masa itu dan waktunya PASTI akan tiba. Renungkan Lah Wahai Pemimpin Ummat dan bangsa Ini. Semoga Artikel dan Kisah Ini, Bermanfaat !!!

Sagoe Aceh Rayeuk, 05 Juni 2023

Share :

Baca Juga

OPINI

Guru Murah, Pendidikan Mahal: Mengapa Martabat Pendidik Tidak Bisa Diukur dari Gaji Semata?

EDUKASI

Hari Pendidikan Nasional 2026: Ketika Pendidikan Mengejar Simbol, Bukan Substansi

EDUKASI

Hardiknas 2026: Keteladanan sebagai Sumber Wibawa Guru

EDUKASI

Patologi Pendidikan Kita : Inflasi Gelar, Defisit Adab, dan Kematian Marwah Intelektual

OPINI

Meremehkan Ulama di Tengah Polemik Publik

KESEHATAN

JKA dan Feodalisme Politik Modern : Ketika Pengawasan Publik Dianggap Gangguan Kekuasaan

HUKUM

Episode I Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

EDUKASI

Kepercayaan Publik yang Retak: Ketika Pemerintah Desa, Media, dan Masyarakat Gagal Bersinergi