Oleh: Prof. Dr. TM. Jamil, M.Si
Akademisi dan Pengamat Politik USK
Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh
Bencana banjir bandang dan longsor besar yang melanda Aceh bukan hanya bencana alam, tetapi juga ujian bagi kepemimpinan, kebijakan, dan rasa kemanusiaan kita sebagai bangsa. Dalam situasi yang mengguncang seperti ini, karakter pemimpin diuji. Aceh beruntung memiliki sosok yang hadir di tengah rakyatnya, bukan sekadar memerintah dari kejauhan.
Muzakir Manaf, atau lelaki yang kerap di panggil Mualem memperlihatkan keteguhan yang lembut. Sebagai pemimpin kombatan yang pernah memikul senjata, ia justru tampil menenangkan ketika rakyat sedang panik. Raut wajahnya menahan duka, tetapi langkahnya tetap kokoh menyusuri gampong yang luluh lantak.
Ada banyak pemimpin yang memilih mengambil jarak dari rakyatnya saat bencana datang. Ada pula yang meninggalkan daerah untuk urusan lain. Namun Mualem berdiri di garis depan, memanggul bantuan, mendengar keluhan warga, dan membuka ruang empati tanpa batas.
Keteguhan di Tengah Krisis
Dalam wawancara bersama Najwa Shihab yang dikenal dengan pertanyaan kritis dan memojokkan Mualem menunjukkan kedewasaan politik. Ketika ditanya mengapa bencana besar di Sumatera tidak ditetapkan sebagai bencana nasional, ia tidak terbawa emosi.
Ia menjawab dengan tenang “Kita tidak boleh terlalu berharap kepada Manusia, karena berharap kepada manusia akan membuat kita kecewa, tapi kita berharap kepada Allah, Tuhan saja dan Kita hanya bisa berusaha dan berdoa jawab Muallem.
Lalu air matanya menetes.
Air mata seorang mantan kombatan yang sudah terlalu sering melihat luka rakyatnya.
Ketika banjir membawa gelondongan kayu pertanda kerusakan hulu yang telah lama diabaikan, kepasrahan Mualem bukan kelemahan, tetapi bentuk kehambaan. Namun ia juga tahu bahwa kerusakan ekologis tidak terjadi tanpa aktor. Ada yang harus bertanggung jawab. Ada kebijakan yang harus dibenahi.
Pemimpin yang Tahu Menahan Diri
Kesabaran Mualem bukan hanya di masa bencana. Ketika terjadi razia sepihak terhadap kendaraan Aceh di Sumatera Utara oleh menantu pejabat penting, ia memilih meredam amarah rakyat.
Namun ia juga mengirim pesan tegas:
“Meunyo ka dipubloe, tabloe. Nyoe ka gatai, tagaro.” (Kalau dijual, kita beli. Kalau gatal, kita garuk.)
Sebuah metafora yang menunjukkan bahwa kesabaran bukan berarti tunduk.
Tanggung Jawab Negara Tidak Bisa Ditawar
Dalam konteks bencana kali ini, Mualem memahami harapan rakyat Aceh: negara harus hadir. Negara harus melihat penderitaan ini sebagai prioritas, bukan laporan formal penuh basa-basi yang dibuat untuk menyenangkan atasan.
Syukurlah, Presiden Prabowo merespons cepat. Ia mengundang Gubernur Aceh, mendengar secara langsung daftar kebutuhan rakyat, dan memerintahkan langkah-langkah serius. Hal ini menunjukkan bahwa Presiden memahami Aceh bukan hanya sebagai wilayah administratif, tetapi bagian dari sejarah dan martabat bangsa.
Langkah ini mencegah potensi kesalahpahaman dan meredam kekecewaan yang bisa membesar. Luka Aceh masih panjang, baik luka ekologis maupun luka sejarah. Jangan sampai keduanya kembali terbuka.
Jangan Biarkan Air Mata Ini Mengering Sendiri
Air mata Mualem dan air mata rakyat Aceh tidak boleh menjadi simbol kesedihan yang berlalu begitu saja. Bencana ini seharusnya menjadi titik balik untuk memperbaiki:
tata kelola lingkungan,
pengawasan hulu sungai,
mitigasi bencana, dan hubungan pemerintah pusat dengan daerah.
Aceh telah terlalu sering terluka.
Hari ini, Aceh menangis.
Tapi jangan biarkan tangisan ini menjadi awal bagi luka yang lebih dalam.
Semoga air mata Aceh juga menjadi air mata Indonesia, air mata yang melahirkan kepedulian, bukan pengabaian.
Nanggroe Atjeh, Tanoeh Aulia
12 Desember 2025







