Home / EKBIS / OPINI

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:35 WIB

UIN Ar-Raniry Butuh Nahkoda, Bukan Sekadar Penjaga Mesin

Oleh :
J.M Saiful, SE, MM
Pengamat Politik Pendidikan
Mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan IPS, Sekolah Pascasarjana USK, Aceh

OPINI – Belakangan muncul pandangan bahwa UIN Ar-Raniry sebaiknya mempertahankan kepemimpinan saat ini karena institusi dinilai sedang berada dalam tren positif. Artikel di Dialeksis bahkan menganalogikan kondisi kampus sebagai “mesin yang sedang panas”, sehingga kesinambungan kepemimpinan dianggap sebagai pilihan paling aman. Sekilas, logika ini terdengar masuk akal. Namun jika dicermati lebih dalam, pendekatan tersebut justru menyederhanakan hakikat kepemimpinan perguruan tinggi.

Universitas bukan mesin yang hanya membutuhkan operator agar tetap berjalan. Perguruan tinggi adalah ruang intelektual yang hidup, dinamis, dan terus berubah mengikuti tantangan zaman. Karena itu, kepemimpinan kampus tidak cukup hanya diukur dari keberhasilan menjaga stabilitas, tetapi juga dari kemampuan membaca arah masa depan dan menyiapkan transformasi berikutnya.

Dalam tradisi akademik modern, pergantian kepemimpinan bukan selalu berarti gangguan. Sebaliknya, regenerasi sering menjadi momentum lahirnya energi baru, perspektif baru, dan inovasi baru. Banyak universitas besar justru berkembang karena mampu melakukan transisi kepemimpinan secara sehat tanpa terjebak pada ketergantungan terhadap satu figur tertentu.

Pemikir Perancis, Michel Foucault, pernah mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui keputusan formal, tetapi juga melalui produksi narasi dan pembentukan persepsi di ruang publik. Dalam konteks pemilihan rektor, narasi tentang “mesin yang sedang panas” sesungguhnya bukan sekadar metafora administratif, melainkan juga upaya membangun persepsi bahwa kesinambungan adalah satu-satunya pilihan rasional.

Baca Juga  Ketika Politisi Berkumpul, Tak Penting Lagi Baik atau Buruk

Padahal, dalam dunia pendidikan tinggi, kesinambungan tidak selalu identik dengan mempertahankan figur yang sama. Yang jauh lebih penting adalah keberlanjutan sistem, budaya akademik, dan arah kelembagaan. Institusi yang sehat seharusnya tetap mampu bergerak maju meskipun terjadi pergantian kepemimpinan.

Memang harus diakui bahwa UIN Ar-Raniry dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan capaian membanggakan: akreditasi institusi “Unggul”, peningkatan jumlah guru besar, serta pertumbuhan publikasi internasional yang signifikan. Semua ini patut diapresiasi. Namun capaian institusi tidak boleh dipersonalisasi seolah seluruh kemajuan hanya lahir dari satu tangan. Universitas berkembang melalui kerja kolektif dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, jaringan alumni, dan dukungan kebijakan nasional.

Karena itu, mempertahankan kualitas institusi tidak selalu identik dengan mempertahankan figur yang sama. Dalam birokrasi pendidikan tinggi, sistem yang matang justru ditandai oleh kemampuan melanjutkan kemajuan melalui regenerasi kepemimpinan yang sehat.

Selain itu, pemilihan rektor PTKIN memiliki karakter berbeda dengan sekadar evaluasi kinerja administratif. Menteri Agama sebagai pemegang otoritas akhir tentu tidak hanya mempertimbangkan capaian institusi, tetapi juga kebutuhan jangka panjang kampus, keseimbangan internal, kemampuan membangun kepercayaan, serta kesesuaian figur dengan arah kebijakan pendidikan Islam nasional.

Di titik ini, publik perlu memahami bahwa pergantian kepemimpinan bukan otomatis berarti penolakan terhadap capaian sebelumnya. Pergantian bisa saja dimaknai sebagai fase konsolidasi baru, perluasan orientasi akademik, atau penyesuaian terhadap tantangan global pendidikan tinggi Islam yang terus berubah.

Baca Juga  Prof Agussabti Usung Transformasi USK Jadi Kampus Sosio-Technopreneur Berdaya Saing Global

Apalagi UIN Ar-Raniry hari ini tidak kekurangan figur berkualitas. Kandidat-kandidat yang muncul memiliki pengalaman, kapasitas akademik, dan legitimasi masing-masing. Ada yang kuat dalam pengalaman struktural, ada yang memiliki pengakuan akademik internasional, dan ada pula yang membawa perspektif pembaruan. Situasi ini justru menunjukkan bahwa regenerasi di UIN Ar-Raniry berjalan sehat.

Narasi bahwa perubahan identik dengan risiko perlu dibaca secara kritis. Dalam banyak kasus, stagnasi justru lahir ketika institusi terlalu nyaman dengan pola lama dan kehilangan keberanian melakukan penyegaran. Perguruan tinggi membutuhkan kesinambungan, tetapi kesinambungan tidak harus berarti mempertahankan figur yang sama.

Yang paling penting saat ini bukan mempertahankan siapa, melainkan memastikan bahwa UIN Ar-Raniry tetap dipimpin oleh figur terbaik sesuai kebutuhan zaman. Tantangan empat tahun ke depan jauh lebih kompleks: internasionalisasi kampus, penguatan publikasi global, transformasi digital pendidikan, hingga kemampuan menjaga keseimbangan antara tradisi keislaman dan modernitas akademik.

Pada akhirnya, rektor bukan sekadar penjaga mesin agar tetap hidup. Rektor adalah nahkoda yang menentukan ke mana kapal besar bernama UIN Ar-Raniry akan diarahkan. Dan dalam dunia akademik, keberanian melakukan regenerasi sering kali justru menjadi tanda bahwa institusi tersebut sedang sehat dan matang.

Kampus USK, 9 Mei 2026

Share :

Baca Juga

OPINI

Menunggu 13 Tahun untuk Panggilan Langit

OPINI

Guru Murah, Pendidikan Mahal: Mengapa Martabat Pendidik Tidak Bisa Diukur dari Gaji Semata?

EKBIS

Dropshipper, Peluang Usaha Minim Modal di Era Digital

BERITA

Pengusaha Muda William Andreas Dorong Digitalisasi UMKM untuk Perkuat Ekonomi Nasional

EDUKASI

Hari Pendidikan Nasional 2026: Ketika Pendidikan Mengejar Simbol, Bukan Substansi

EDUKASI

Hardiknas 2026: Keteladanan sebagai Sumber Wibawa Guru

EDUKASI

Patologi Pendidikan Kita : Inflasi Gelar, Defisit Adab, dan Kematian Marwah Intelektual

OPINI

Meremehkan Ulama di Tengah Polemik Publik