MEDIALITERASI.ID | MALAYSIA – Dukungan moral terhadap Nadiem Makarim terus mengalir di tengah proses hukum yang sedang dihadapinya. Salah satunya datang dari seorang tokoh politik Malaysia yang mengaku prihatin atas tekanan dan tudingan yang kini diarahkan kepada mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tersebut.
Dalam pernyataan terbuka yang diunggah melalui media sosial facebook Syed Shaddik Syed Abdul Rahman, tokoh tersebut menyebut bahwa sosok baik kerap menjadi sasaran penghancuran karakter demi mempertahankan sistem yang dianggap rusak.
Ia mengaku sedih melihat Nadiem dan keluarganya harus menghadapi tekanan berat, padahal pendiri Gojek itu telah meninggalkan perusahaan bernilai miliaran dolar demi mengabdi kepada publik.
“Negara yang dulu Anda layani kini justru membawa Anda ke dalam situasi yang sangat berat,” tulisnya.
Dalam pernyataan itu, ia juga mengenang pertemuannya dengan Nadiem pada 2019. Saat itu, ia mengaku pernah mendorong Nadiem untuk masuk ke dunia politik dan pelayanan publik karena Asia Tenggara dinilai membutuhkan lebih banyak tokoh muda pembawa perubahan.
Menurutnya, Nadiem saat itu sempat menyatakan bahwa politik bukanlah jalannya. Namun, ia ingin tetap memberikan kontribusi bagi masyarakat Indonesia melalui penciptaan lapangan kerja, peluang ekonomi, dan inovasi lewat Gojek.
Beberapa bulan kemudian, ia kembali bertemu dengan Nadiem dan mengetahui bahwa tokoh muda tersebut akan memimpin reformasi pendidikan di Indonesia.
Ia menilai kehadiran Nadiem di pemerintahan membawa harapan baru karena dikenal sebagai figur disruptor yang berhasil membangun Gojek, menciptakan jutaan peluang kerja, serta menghadirkan investasi dan inovasi bagi pelaku UMKM di Indonesia.
Namun kini, lanjutnya, sosok yang dahulu dipandang sebagai pembaharu justru menghadapi tuduhan dan pertarungan hukum yang menyakitkan.
Tokoh tersebut juga mengaku merasa bersalah karena pernah mendorong Nadiem masuk ke dunia pelayanan publik. Meski demikian, ia menegaskan keyakinannya bahwa orang baik tidak boleh meninggalkan politik dan pemerintahan.
“Ketika orang baik pergi, maka koruptor yang menang. Ketika para pembaharu dihancurkan, sistem akan tetap rusak,” tulisnya.
Ia turut membagikan pengalaman pribadinya yang pernah menghadapi proses hukum selama enam tahun sebelum akhirnya dinyatakan bebas oleh pengadilan.
Karena pengalaman itu, ia meyakini bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya.
“Kebenaran mungkin lambat, tetapi kebenaran tidak akan mati,” demikian isi pernyataan tersebut.
Pernyataan dukungan itu pun menjadi perhatian publik dan memunculkan berbagai respons di media sosial terkait dinamika hukum dan politik yang sedang dihadapi Nadiem Makarim. (EQ)







