Home / BERITA

Kamis, 12 Februari 2026 - 22:27 WIB

Pengangguran Indonesia 7,35 Juta Orang, Didominasi Lulusan Pendidikan Menengah dan Tinggi

Anggota Komisi II DPR RI, Mardani Ali Sera,

MEDIALITERASI.ID | JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,35 juta orang per November 2025. Angka ini menurun tipis dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 7,46 juta orang. Namun, tingkat pengangguran tertinggi justru berasal dari lulusan pendidikan menengah dan tinggi.

Dari total 155,27 juta penduduk yang masuk kategori angkatan kerja, sebanyak 147,91 juta orang tercatat bekerja, sedangkan sisanya merupakan pengangguran. BPS mendefinisikan pengangguran sebagai penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja, baik karena sedang mencari pekerjaan, menyiapkan usaha, menunggu mulai bekerja, maupun yang telah berhenti mencari pekerjaan.

Berdasarkan tingkat pendidikan, pengangguran tertinggi berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 8,45 persen. Disusul lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 6,55 persen. Sementara lulusan D-IV, S1, S2, dan S3 mencatat tingkat pengangguran sebesar 5,38 persen.

Baca Juga  LSM SPKP HAM Aceh Timur Peringati 25 Tahun Tragedi Pembantaian  di Arakundo 

Selanjutnya, lulusan Diploma I, II, dan III mencatat tingkat pengangguran sebesar 4,22 persen. Lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 3,76 persen, sedangkan tingkat pengangguran terendah berasal dari lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah sebesar 2,29 persen.

Anggota Komisi II DPR RI, Mardani Ali Sera, menilai kondisi tersebut sebagai sinyal serius bagi masa depan bangsa, terutama karena pengangguran banyak berasal dari kelompok terdidik.

“Ini bencana. Lulusan D3 dan S1 menganggur adalah bencana di atas bencana. Karena mereka sudah mendapat banyak pendidikan dan pelatihan, tetapi tidak digunakan,” ujar Mardani melalui akun X miliknya, Kamis (12/2/2026).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera itu menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara sistem pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja.

Baca Juga  Pemerintah Jepang Turut Mendukung Program Makan Bergizi Untuk Anak - Anak Indonesia.

Ia mendorong adanya perubahan dalam tata kelola pendidikan serta kebijakan industri nasional untuk menekan angka pengangguran terdidik.

“Mesti ada revolusi sistem pendidikan tinggi yang memastikan lulusannya mampu bersaing secara global, termasuk kemampuan negara menyiapkan industri serta mempercepat investasi asing langsung. Jika tidak, ini bisa menjadi bahan bakar negatif bagi perubahan sosial yang tidak terencana,” tegasnya.

Ia menambahkan, tanpa perbaikan menyeluruh pada sistem pendidikan dan penciptaan lapangan kerja melalui penguatan industri serta percepatan investasi asing langsung, pengangguran terdidik berpotensi menjadi persoalan sosial yang lebih besar di masa depan.

Data BPS ini menjadi pengingat bahwa gelar pendidikan tinggi tidak lagi menjadi jaminan mutlak untuk memasuki dunia kerja, sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menyelaraskan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri. (EQ)

Share :

Baca Juga

ACEH

Seludupkan Narkotika Sabu 4 Kg di Bandara SIM, 4 Pemuda di Tangkap

ACEH

Dua Terduga Pelanggar Qanun Khalwat Banda Aceh Baru Hadir Setelah Disorot Publik, Proses Hukum Telat Jalan

ACEH

Musisi Aceh Timur Maimunzir Rilis “Gas Beracun”, Suarakan Dampak Dugaan Polusi Industri ke Warga

ACEH

9 Warga Desa Blang Paoh Sa Aceh Timur Terjangkit DBD, 3 Masih Dirawat di RSUD Zubir Mahmud

ACEH

Door to Door, Kapolsek Idi Rayeuk Tebar Kepedulian Lewat Program Jum’at Berkah

ACEH

Satlantas Polres Aceh Timur Mulai Sosialisasi Jelang Operasi Patuh Seulawah 2026, Keselamatan Bukan Sekadar Kepatuhan

BERANDA

Kejagung Geledah Kantor BGN, Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Jadi Tersangka Dugaan Korupsi MBG

ACEH

Disnakermobduk Aceh dan Serikat Pekerja Perkuat Sinergi Hadapi Tantangan Ketenagakerjaan