Home / BUDAYA / OPINI

Rabu, 19 Juli 2023 - 13:01 WIB

Gelar Kehormatan Untuk Pj Walikota Lhokseumawe Sebagai Kanjeng Raden Tumenggung Belum Tepat

Penulis : Sirajul Munir [Abi Munir] Pemerhati Budaya

OPINI | Medialiterasi.idAnugerah atau gelar kehormatan budaya Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) untuk Pj Walikota Lhokseumawe Imran oleh Keraton Surakarta dinilai belum tepat, karena pembangunan seni budaya di Kota Lhokseumawe tidak berjalan dengan baik.

Pemerhati budaya Sirajul Munir menilai, anugerah dan gelar yang diterima Pj Imran pada Selasa (18/07/2023) malam di Solo, seharusnya diberikan bagi mereka yang mampu mengembangkan dan melestarikan seni budaya dengan baik, terutama seni budaya kearifan lokal.

Faktanya selama setahun terakhir, masyarakat seniman di Kota Lhokseumawe bergerak sendiri dengan sumberdaya terbatas, tanpa didukung dengan kebijakan anggaran yang sesuai, tanpa regulasi, tanpa sarana memadai dan hal-hal lain.

“Indikatornya sederhana, postur APBK Lhokseumawe tahun lalu dan 2023 untuk kegiatan seni budaya dibawah 1 persen, itupun hanya untuk sanggar internal Pemko, belum lagi soal regulasi ruang berseni yang terus berkutat ditingkat draft, ini sudah lama. Sehingga ruang gerak seni budaya di Lhokseumawe sangat terbatas,” kata Munir, pada Rabu (19/07/2023).

Baca Juga  Komisioner KIP Aceh Utara Diharapkan Bersikap Netral dan Tidak Diskriminatif Terhadap Peserta Pemilu 2024

Indikator lain, Pj belum mampu mendorong sebagian penggunaan dana CSR untuk memberdayakan masyarakat seni, termasuk seniman tradisi. Contohnya seni Rapai Uroeh yang telah ditetapkan sebagai ikon seni budaya Kota Lhokseumawe, faktanya aktivitas mereka semakin berkurang.

Belum lagi soal minim panggung kreatifitas yang digelar pemerintah di ruang publik. Ini juga bukti Pemko belum memiliki agenda khusus dan semangat membangun seni budaya dengan baik. Sedangkan di daerah lain di Indonesia, iklim berseni dibangun sejurus dengan jalannya pembangunan pemerintah.

Baca Juga  PENANGANAN AL ZAYTUN JANGAN BERTELE-TELE

“Kita semua sepakat seniman harus kreatif, namun Pj juga harus kreatif untuk mengambil kebijakan terhadap peluang-peluang memberdayakan masyarakat seni. Bila berdalih tidak ada uang daerah, berarti Pak Imran tidak kreatif, miskin ide,” ungkapnya.

Munir juga menyarankan Pj Imran mengganti Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, A Haris dengan penjabat yang memiliki visi seni budaya. Karena kondisi buruk iklim berseni budaya di Lhokseumawe saat ini tak lepas dari minimnya SDM pejabat tersebut.

“Masih ada setahun lagi bagi Pj Imran untuk berbenah, biar anugerah yang diterima sesuai dengan fakta. Langkah awal Imran bisa duduk dengan masyarakat seni tidak hanya di kota, tapi juga seniman di gampong-gampong, agar bisa melihat permasalahan seni budaya di kota ini lebih mendalam,” pungkasnya.

Share :

Baca Juga

OPINI

Mengembalikan Kedigdayaan Samudera Pasai Melalui Pengembangan Ekonomi Maritim 

EDUKASI

Jangan Langsung Mengajar: Mengapa Lima Menit Pertama Menentukan Semangat Belajar Siswa

ACEH

Wacana Provinsi Samudera Pase Menguat, Warga Utara-Timur Aceh Dorong Pemerataan Pembangunan

OPINI

21 Tahun Damai Aceh: Perang Senjata Berhenti, Perang Anggaran Belum Usai

ACEH

Pimred Tribunpasee: Jadikan Milad Samudra Pasai ke-800 untuk Perkuat Jati Diri dan Syariat

BERANDA

Perceraian Tak Cukup Putus Nikah, Hak Nafkah hingga Harta Bersama Rawan Terabaikan di Mahkamah Syar’iyah

OPINI

Menjemput Nakhoda Baru Unimal: Meritokrasi Akademik dan Ujian Integritas Kepemimpinan

ACEH

Hardikda 2026 Di Aceh Timur Khidmat  Bupati Al- Farlaky Galakkan Gerakan Guru Tanam 10.000 Pohon