Medialiterasi.id | Banda Aceh — Setelah letusan 1883 yang menghancurkan hampir seluruh tubuh Gunung Krakatau, Selat Sunda seperti kuburan raksasa. Pulau Krakatau yang dulu besar, rata dengan laut. Kaldera selebar 7 km menganga di bawah air. Orang-orang mengira kisah Krakatau sudah selesai.
Tapi bumi belum selesai menulis ceritanya.
1. Gelembung-gelembung di Tengah Laut, 1927
Hampir 44 tahun Selat Sunda tenang. Nelayan yang melintas sering bilang air laut di tengah selat suka “mendidih” sendiri. Ikan mati mengapung. Bau belerang kuat.
Tanggal 29 Desember 1927, kapal Belanda _SS. Rinjani_ melapor: ada asap dan letusan kecil dari tengah laut. 3 hari kemudian, tepatnya 1 Januari 1928, gumpalan batu dan abu mulai muncul ke permukaan.
Awalnya cuma pulau kecil yang langsung dihantam ombak dan hilang lagi. Muncul-tenggelam, muncul-tenggelam. Butuh 3 tahun pertarungan antara lava dan laut.
2. “Anak” yang Bertahan
Baru pada Agustus 1930, gundukan lava itu berhasil bertahan dari hempasan gelombang. Tingginya baru 9 meter dari permukaan laut. Para geolog Belanda lalu menamainya: Anak Krakatau = “Anak dari Krakatau”.
Nama itu pas. Ia lahir tepat di tengah kaldera tempat Krakatau 1883 runtuh. Seolah-olah sang raksasa yang mati, meninggalkan “anak” untuk melanjutkan hidupnya.
3. Masa Remaja yang Meledak-ledak
Anak Krakatau bukan anak penurut. Sejak lahir dia aktif terus.
Tahun 1950-an tingginya baru 30 meter. Tahun 1960-an sudah 100 meter. Lava terus menyembur, membangun kerucutnya lapis demi lapis.
Puncaknya 1968: ketinggiannya 155 meter.
Tahun 1990: 180 meter.
Tahun 2018 sebelum runtuh: 338 meter di atas permukaan laut.
Dia tumbuh sekitar 5 cm per minggu. Ilmuwan menyebutnya salah satu gunung api dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
4. Tragedi 2018: “Anak” Kehilangan Separuh Tubuhnya
22 Desember 2018 jadi titik balik. Sebagian besar tubuh Anak Krakatau longsor ke laut saat erupsi. Longsoran itu memicu tsunami di Banten dan Lampung yang menewaskan 437 orang.
Tinggi gunung anjlok drastis dari 338 meter jadi hanya 110 meter. Kawahnya terbuka ke arah laut. Banyak yang mengira “Anak” ini akan mati.
5. Bangkit Lagi
Tapi Anak Krakatau keras kepala. 2019, setahun setelah runtuh, dia mulai erupsi lagi. Lava baru membangun kerucut baru di tengah kawahnya.
Sampai 2026 ini, tingginya sudah naik lagi ke sekitar 150-160 meter dan terus aktif. Asap putih, letusan kecil, dan gemuruh masih sering terdengar dari Selat Sunda.
Makna di Balik Kisahnya
Anak Krakatau adalah bukti 2 hal:
1. Bumi tidak pernah diam. Di tempat yang pernah hancur total, kehidupan geologi bisa mulai lagi dari nol.
2. Peringatan. Dia lahir dari bencana terbesar abad ke-19. Dan dia sendiri sudah membuktikan bisa memicu bencana lagi di 2018.
Makanya PVMBG terus memantau 24 jam. Karena “si Anak” ini tinggal 50 km dari pantai padat penduduk.
Jadi kalau kamu ke Anyer atau Carita dan melihat asap tipis di tengah laut, itu dia. Anak dari raksasa yang pernah menghitamkan langit dunia 1883, sekarang sedang tumbuh pelan-pelan. (AYD)







