Letusan Krakatau di tahun 1883. Foto: Wikipedia
Medialiterasi.id | Banda Aceh — Letusan Gunung Krakatau pada 1883 tercatat sebagai salah satu bencana gunung api paling mematikan dalam sejarah modern. Peristiwa di Selat Sunda itu menewaskan lebih dari 36.000 orang, memicu tsunami setinggi 40 meter, hingga menurunkan suhu Bumi.
Berikut 10 fakta letusan Krakatau 1883 yang dihimpun dari History Hit:
1. Bukan Letusan Pertama
Krakatau “tertidur” lebih dari 200 tahun sebelum meletus pada 1883. Namun masyarakat Jawa sudah lama mengenalnya sebagai “Gunung Api”. Sejumlah ahli menduga gunung ini pernah meletus dahsyat pada abad ke-6 dan memicu perubahan iklim global. Pada 1680, pelaut Belanda juga melaporkan erupsi dan menemukan bongkahan batu apung.
2. Erupsi Berlangsung Beberapa Bulan
Sebagai bagian dari Cincin Api, Krakatau mulai aktif Mei 1883. Abu dan uap menyembur hingga 6 km dengan dentuman terdengar sejauh 160 km. Juni 1883, awan hitam pekat menggantung selama berhari-hari dan laut mulai dipenuhi batu apung. Puncak letusan terjadi 25–27 Agustus 1883. Dalam 3 hari itu sekitar 36.000 orang tewas.
3. Lahirnya Ilmu Vulkanologi Modern
Ahli geologi Belanda Rogier Verbeek melakukan penelitian pasca letusan. Ia mengumpulkan kesaksian saksi mata dan meninjau langsung wilayah terdampak. Laporannya setebal 550 halaman yang diterbitkan 1885 oleh Pemerintah Hindia Belanda menjadi dasar lahirnya ilmu vulkanologi modern.
4. Suara Terkeras dalam Sejarah Tercatat
Pada 27 Agustus 1883 pukul 10.02 WIB, ledakan final Krakatau menghasilkan suara terkeras yang pernah tercatat. Dentumannya terdengar hingga Australia Barat dan Mauritius. Gelombang suaranya bahkan mengelilingi dunia 7 kali dalam 5 hari.
5. Tsunami 40 Meter Hancurkan 300 Desa
Letusan memicu tsunami setinggi 40 meter yang menghantam pesisir Selat Sunda dan menghancurkan 300 desa. Gelombangnya terasa hingga Afrika Selatan. Salah satu kisah selamat adalah kapal _Gouverneur Generaal Loudon_. Kapten Johan Lindemann memilih menabrak gelombang tsunami alih-alih mencari pelabuhan, dan keputusannya menyelamatkan seluruh penumpang dan awak.
6. Awan Panas Tewaskan 4.000 Orang
Aliran awan panas atau piroklastik meluncur melintasi laut dengan ditopang uap sangat panas. Hantamannya menyapu pulau-pulau sekitar dan garis pantai sejauh beberapa kilometer. Diperkirakan 4.000 orang tewas akibat awan panas ini.
Letusan Krakatau dalam lukisan. Foto: Wikipedia
7. Dampaknya Terasa ke Seluruh Dunia
Jutaan meter kubik gas dan abu Krakatau menutupi atmosfer dan menurunkan suhu rata-rata global setahun berikutnya. Fenomena ini juga memicu peningkatan curah hujan dan langit senja berwarna merah menyala. Bahkan ada hipotesis warna jingga pada lukisan The Scream karya Edvard Munch terinspirasi langit pasca-Krakatau. Jenazah korban juga ditemukan terdampar di pantai Indonesia, India, hingga Afrika berbulan-bulan kemudian.
8. Pulau Krakatau Hampir Lenyap
Letusan menghancurkan hampir seluruh Pulau Krakatau dan membentuk kaldera besar. Dari kaldera itu muncul “Anak Krakatau” pada 1927 yang terus tumbuh hingga kini. Runtuhan material di bawah laut dari gunung ini juga memicu tsunami mematikan pada 2018.
9. Bekas Bencana Jadi Taman Nasional
Wilayah barat Jawa yang hancur dan ditinggalkan penduduk berubah menjadi hutan liar. Kawasan itu kemudian ditetapkan sebagai Cagar Alam Ujung Kulon pada 1957. Kini luasnya mencapai 1.206 km persegi dan menjadi habitat badak Jawa.
10. Ancaman Belum Berakhir
Para vulkanolog memperingatkan Krakatau belum benar-benar “tidur”. Keberadaan Anak Krakatau, ditambah pemukiman padat di pesisir dan sistem peringatan dini tsunami yang masih terbatas, membuat masyarakat di sekitar Selat Sunda tetap rentan jika erupsi besar kembali terjadi.
Letusan Krakatau 1883 menjadi pengingat bahwa kekuatan alam bisa mengubah peta dunia – secara harfiah maupun ilmiah. (AYD)







