Home / RUBRIK

Rabu, 9 September 2026 - 12:37 WIB

10 Fakta Letusan Dahsyat Krakatau 1883 yang Mengguncang Dunia dan Menewaskan 36.000 Jiwa

Letusan Krakatau di tahun 1883. Foto: Wikipedia

Medialiterasi.id | Banda Aceh — Letusan Gunung Krakatau pada 1883 tercatat sebagai salah satu bencana gunung api paling mematikan dalam sejarah modern. Peristiwa di Selat Sunda itu menewaskan lebih dari 36.000 orang, memicu tsunami setinggi 40 meter, hingga menurunkan suhu Bumi.

Berikut 10 fakta letusan Krakatau 1883 yang dihimpun dari History Hit:

 

1. Bukan Letusan Pertama

Krakatau “tertidur” lebih dari 200 tahun sebelum meletus pada 1883. Namun masyarakat Jawa sudah lama mengenalnya sebagai “Gunung Api”. Sejumlah ahli menduga gunung ini pernah meletus dahsyat pada abad ke-6 dan memicu perubahan iklim global. Pada 1680, pelaut Belanda juga melaporkan erupsi dan menemukan bongkahan batu apung.

 

2. Erupsi Berlangsung Beberapa Bulan

Sebagai bagian dari Cincin Api, Krakatau mulai aktif Mei 1883. Abu dan uap menyembur hingga 6 km dengan dentuman terdengar sejauh 160 km. Juni 1883, awan hitam pekat menggantung selama berhari-hari dan laut mulai dipenuhi batu apung. Puncak letusan terjadi 25–27 Agustus 1883. Dalam 3 hari itu sekitar 36.000 orang tewas.

 

3. Lahirnya Ilmu Vulkanologi Modern

Ahli geologi Belanda Rogier Verbeek melakukan penelitian pasca letusan. Ia mengumpulkan kesaksian saksi mata dan meninjau langsung wilayah terdampak. Laporannya setebal 550 halaman yang diterbitkan 1885 oleh Pemerintah Hindia Belanda menjadi dasar lahirnya ilmu vulkanologi modern.

Baca Juga  Perdamaian Aceh: MoU yang Belum Tuntas

 

4. Suara Terkeras dalam Sejarah Tercatat

Pada 27 Agustus 1883 pukul 10.02 WIB, ledakan final Krakatau menghasilkan suara terkeras yang pernah tercatat. Dentumannya terdengar hingga Australia Barat dan Mauritius. Gelombang suaranya bahkan mengelilingi dunia 7 kali dalam 5 hari.

 

5. Tsunami 40 Meter Hancurkan 300 Desa

Letusan memicu tsunami setinggi 40 meter yang menghantam pesisir Selat Sunda dan menghancurkan 300 desa. Gelombangnya terasa hingga Afrika Selatan. Salah satu kisah selamat adalah kapal _Gouverneur Generaal Loudon_. Kapten Johan Lindemann memilih menabrak gelombang tsunami alih-alih mencari pelabuhan, dan keputusannya menyelamatkan seluruh penumpang dan awak.

 

6. Awan Panas Tewaskan 4.000 Orang

Aliran awan panas atau piroklastik meluncur melintasi laut dengan ditopang uap sangat panas. Hantamannya menyapu pulau-pulau sekitar dan garis pantai sejauh beberapa kilometer. Diperkirakan 4.000 orang tewas akibat awan panas ini.

Letusan Krakatau dalam lukisan. Foto: Wikipedia

7. Dampaknya Terasa ke Seluruh Dunia

Jutaan meter kubik gas dan abu Krakatau menutupi atmosfer dan menurunkan suhu rata-rata global setahun berikutnya. Fenomena ini juga memicu peningkatan curah hujan dan langit senja berwarna merah menyala. Bahkan ada hipotesis warna jingga pada lukisan The Scream karya Edvard Munch terinspirasi langit pasca-Krakatau. Jenazah korban juga ditemukan terdampar di pantai Indonesia, India, hingga Afrika berbulan-bulan kemudian.

Baca Juga  Mengapa Isu Ijazah Palsu Jokowi Tak Pernah Redup : Apa yang Akan Terjadi Berikutnya?

 

8. Pulau Krakatau Hampir Lenyap

Letusan menghancurkan hampir seluruh Pulau Krakatau dan membentuk kaldera besar. Dari kaldera itu muncul “Anak Krakatau” pada 1927 yang terus tumbuh hingga kini. Runtuhan material di bawah laut dari gunung ini juga memicu tsunami mematikan pada 2018.

 

9. Bekas Bencana Jadi Taman Nasional

Wilayah barat Jawa yang hancur dan ditinggalkan penduduk berubah menjadi hutan liar. Kawasan itu kemudian ditetapkan sebagai Cagar Alam Ujung Kulon pada 1957. Kini luasnya mencapai 1.206 km persegi dan menjadi habitat badak Jawa.

 

10. Ancaman Belum Berakhir

Para vulkanolog memperingatkan Krakatau belum benar-benar “tidur”. Keberadaan Anak Krakatau, ditambah pemukiman padat di pesisir dan sistem peringatan dini tsunami yang masih terbatas, membuat masyarakat di sekitar Selat Sunda tetap rentan jika erupsi besar kembali terjadi.

Letusan Krakatau 1883 menjadi pengingat bahwa kekuatan alam bisa mengubah peta dunia – secara harfiah maupun ilmiah. (AYD)

Share :

Baca Juga

RUBRIK

Kisah Lahirnya Gunung Anak Krakatau: “Si Anak” yang Tumbuh di Atas Kuburan Sang Raksasa

RUBRIK

Ruang Publik Disorot: Warganet Kritik Peran Media dan Pejabat di Tengah Dinamika Sosial Politik

RELIGI

Tafsir Ibnu Sirin: 5 Makna Mimpi Membunuh Ular dalam Islam

ACEH

Pimred Tribunpasee: Jadikan Milad Samudra Pasai ke-800 untuk Perkuat Jati Diri dan Syariat

ACEH

Bupati Al-Farlaky Kebut Huntap Pascabanjir: Data Harus Akurat, Kualitas Jangan Dikompromi

ACEH

Bupati Al-Farlaky Temui Menteri Sosial, Perjuangkan Jadup  Korban Banjir Aceh Timur

ACEH

Pemkab Atim Raih Opini WTP Ke 12 Berturut-turut Atas LKPD TA.2025

ACEH

Percepat Huntap Korban Banjir, Bupati Al-Farlaky Targetkan Pembebasan Lahan 6 Hektare di Serba Jadi Segera Tuntas