Home / OPINI

Jumat, 19 Mei 2023 - 21:54 WIB

KEBANGKITAN NASIONAL 2023 ; ANTARA KEBANGGAAN DAN KEPRIHATINAN

Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Social Science, USK, Banda Aceh

“Perjuanganku Lebih Mudah Karena Mengusir!Penjajah, Tapi!Perjuanganmu Akan Lebih Sulit, Karena Melawan Bangsamu Sendiri. Bangkitkan Rasa Dan Semangat Persatuan, Kesatuan, Maju Terus Indonesia Nan Jaya, Selamat Hari Kebangkitan Nasional Ke 115”.

————————

PERJALANAN BANGSA INDONESIA dalam sejarahnya telah menemui banyak dinamika yang amat panjang dan sarat pengalaman bagi keberlangsungan bangsa indonesia sampai kini. Dinamika yang menyertai perjalanan sejarah bangsa turut serta memberikan efek yang begitu sangat dominan demi sebuah kedewasaan semangat Berbangsa dan bernegara dalam membentuk sebuah tatanan yang sangat ideal demi terwujudnya bangsa indonesia bermartabat. Perlu kita sadari dan ketahui bersama, kita tidak akan mengecap sebuah keindahan nuansa kemerdekan tanpa adanya jerih payah dan perjuangan para tokoh bangsa kala itu yang tergabung dalam ”Boedi Oetomo”. Sudah 115 tahun lamanya peristiwa itu terjadi, berkat kegigihan kaum muda zaman dahulu tepatnya di tahun 1908. Mereka para pejuang bangsa kala itu, Mampu mengobarkan api semangat dalam darah pemuda dan bangsa kita untuk dapat mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Sebuah semangat dan perjuangan yang tiada tara tentunya.

Tanggal 20 Mei 1908, lahir sebuah organisasi bernama Boedi Oetomo yang diprakarsai oleh Dr. Soetomo dan Dr. Wahidin Soedirohoesodo. Organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial budaya ini berjuang membangkitkan persatuan, kesatuan, dan nasionalisme antar elemen bangsa yang menjadi cikal bakal gerakan yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Kini sudah 108 tahun berlalu, perjalanan Indonesia sebagai suatu bangsa telah mengalami banyak dinamika yang mempengaruhi kedewasaan semangat berbangsa dan bernegara dalam membentuk sebuah tatanan yang ideal. Hari kelahiran Boedi Oetomo diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai Hari Kebangkitan Nasional setiap tahunnya. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-115 pada tahun 2023 ini mengambil tema “Mengukir Makna Kebangkitan Nasional Dengan Mewujudkan Indonesia Yang Bekerja Nyata, Mandiri Dan Berkarakter”. Diharapkan agar kita sebagai generasi penerus bangsa dapat melanjutkan perjuangan para pendahulu melalui kerja nyata, berdiri di atas kepribadian nasionalnya sendiri, menjadikan nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagai pedoman berbangsa dan bernegara, menjaga semangat keharmonisan dalam kemajemukan, demi terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

DAN HARI INI, Bangsa Indonesia kembali untuk memperingati hari dimana pernah terjadi sebuah peristiwa yang amat luar biasa maknanya bagi bangsa ini. Karena pada hari itu, menjadi awal sebuah kebangkitan rasa nasionalisme yang mengalami puncak titik klimaks dari para pahlawan bangsa. Sehingga mampu menggetarkan kekuatan penjajah dan merebut kemerdekaan. Namun, dalam suasana yang merdeka dari para penjajah seperti kala itu. Nampaknya peringatan hari kebangkitan nasional ini, hanya akan menjadi sebuah peringatan yang tanpa makna yang sebenarnya. Sebuah rasa kemerdekaan yang seharusnya dirasakan oleh seluruh warga bangsa ini tidaklah sepenuhnya tergapai. Mengapa bisa demikian? Coba kita cermati dan amati berbagai problematika dan kejadian yang sedang berlangsung di negara kita ini. Banyak berbagai peristiwa yang membuat warga bangsa ini semakin miris dan bahkan cenderung pesimistis terhadap kondisi kekinian bangsa ini.

Baca Juga  M Rizal Fadillah: JANGAN JADI KADER PENJILAT

KETERPURUKAN BANGSA INDONESIA saat ini salah satunya ialah hilangnya rasa kebanggaan terhadap tanah air dan rasa persatuan dan kesatuan yang sudah semakin luntur. Jika kita kembali melihat sejarah, begitu sulitnya para pejuang kita untuk mengibarkan sang saka Merah Putih. Namun ketika mereka melihat sang Merah Putih dikibarkan di bumi pertiwi ini, dengan penuh penghayatan mereka berdiri sempurna penuh rasa bangga. Tapi kita lihat saat ini, ketika bendera Merah Putih dikibarkan seolah-olah hanya dimaknai sebagai seremonial semata. Tidak ada rasa bangga yang menyelimuti diri menyaksikan hasil perjuangan para pahlawan bangsa. Bahkan kita menganggap bahwa pengibaran bendera hanya sebatas tugas dari sang pengibar bendera saja. Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa kita saat ini, terutama para generasi muda yang merupakan penerus estafet tongkat perjuangan. Memaknai kebangkitan Nasional bukan hanya semata-mata mengingat dan merayakannya saja. Namun harus lebih kepada membangkitkan kembali semangat dan kepedulian kita terhadap masalah-masalah yang terjadi di Negeri ini. Bangsa ini harus bangkit dari segala keterpurukan, bangkit dari kemiskinan, bangkit dari kebodohan dan bangkit dari penjajahan saat ini.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional harus kita jadikan sebagai renungan begitu besarnya perjuangan para pendahulu kita bahkan dengan gelimang pengorbanan yang begitu gigih hingga mencapai kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Ini merupakan cita-cita para pejuang kita yang telah tercapai. Lalu bagaimana dengan perjuangan kita saat ini? Apakah cita-cita bangsa Indonesia hanya sebatas untuk mencapai kemerdekaan saja? Jawabannya tentu tidak. Bangsa Indonesia masih harus terus berjuang untuk tetap mempertahankan kemerdekaannya bahkan menghantarkannya menjadi negara yang dikenal dunia. Namun sebenarnya tugas yang paling berat untuk bangsa Indonesia saat ini ialah “Bagaimana Caranya Untuk Meng Indonesia kan Kembali Bangsa Indonesia? Kenapa Bangsa Indonesia Harus Meng Indonesia kan Diri? Apakah Kita Belum Menjadi Indonesia?

Seperti yang kita saksikan sekarang ini, dengan adanya globalisasi yang begitu cepat menimbulkan dampak yang tidak kita sadari. Banyak generasi-generasi saat ini yang tidak bangga dengan negerinya sendiri. Mereka lebih bangga apabila memakai produk luar negeri, mereka merasa jauh lebih bangga jika belajar di luar negeri dan mereka sangat bangga dengan budaya-budaya luar negeri. Mereka lupa bahwa negerinya memiliki kekayaan yang tidak kalah dengan negara-negara lain. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke. Negara yang memiliki keragaman suku, bahasa, ras dan agama. Keanekaragaman yang ada di Indonesia harusnya kita jadikan kebanggaan bagi bangsa ini, bukan malah menjadikan perbedaan yang menyebabkan perpecahan. Jangan jadikan perbedaan itu menjadi jembatan atau penghalang dari satu suku bangsa terhadap suku bangsa lainnya, harusnya kita dapat jadikan perbedaan tersebut untuk dapat saling melengkapi satu sama lain. Harusnya kita jadikan perbedaan itu menjadi sebuah jalan untuk dapat mempersatukan bangsa, seperti harapan para pejuang Indonesia. Hal inilah yang menjadi inti dari perjuangan kita saat ini, yaitu menumbuhkan kembali rasa ke-Indonesiaan yang mulai luntur dari bangsa kita ini.

Baca Juga  PAK MAHFUD CUMA OMDO

Ironisnya, Perilaku menyimpang dan sewenang-wenang para elit negeri ini, sudah menjadi menu setiap hari bagi seluruh rakyat negeri ini. Lihatlah Deadline berita Mass Media dan Dengarlah Berita di Media Elektronik betapa hati kita terenyuh – Tindakan korupsi, asusila, mempermainkan undang-undang, suap dan segala bentuk yang merugikan negara ini, sudah bukan menjadi barang langka untuk harus dijauhi bahkan ditinggalkan oleh para elit negeri ini. Nampaknya mereka justru lebih menikmati dan tetap melestarikan tindakan tersebut tanpa memikirkan sedikitpun akan nasib rakyat yang seharusnya lebih mereka kedepankan daripada kepentingan mereka sendiri.

Berdasarkan kondisi tersebut, sudah barang tentu rasa nasionalisme para elit negeri saat ini, sangat jauh dari rasa nasionalisme pada 108 tahun yang lalu. Bahkan bisa dikatakan sangat turun drastis, semangat nasionalisme sudah luntur dari urat nadi mereka. Dan harapan sebuah bangsa yang benar-benar merdeka masih jauh dari kenyataan seperti apa yang pernah di perjuangkan para pahlawan bangsa ini. Pada gilirannya, peringatan harkitnas bukan sesuatu yang sakral lagi bagi bangsa Indonesia. Hanya sebagai rutinitas tanpa makna dan bernilai. Yang pada akhirnya akan semakin luntur dan bahkan hilang sama sekali dalam hati sanubari bangsa yang mengaku berbudaya ini. Na’uzubillahi Min Zhalik.

Memang bukanlah hal yang mudah untuk mewujudkan cita-cita itu. Banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi bangsa ini. Namun bukanlah hal yang mustahil jika kita memilki tekad yang kuat untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Indonesia harus bangkit. Bangkit, kita mulai dari diri sendiri dengan cara memperbaiki diri menjadi lebih baik. Salah satu cara yang dapat kita lakukan ialah melepaskan rasa kesukuan kita agar dapat saling bersatu dan menghilangkan sikap etnosentrisme yang dapat menimbulkan perpecahan. Kita mulai maknai Hari Kebangkitan Nasional tahun ini dengan bercermin pada diri sendiri tentang apa yang telah kita lakukan untuk negeri ini. Semoga kebangkitan nasional kali ini dapat membangkitkan kembali kesadaran betapa bangganya kita menjadi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, untuk dapat membuat Indonesia bangga terhadap kita mulailah menjadi bangsa yang saling bersatu sehingga terwujudnya cita-cita yang diharapkan. Semoga dalam peringatan hari kebangkitan nasional ini, rakyat Indonesia dan generasi penerus perjuangan para pendahulu – Mendapatkan lecutan semangat nasionalisme dan perjuangan tanpa pamrih yang pernah dilakukan oleh para pejuang dan pahlawan bangsa ini. Untuk dapat mengaktualisasikan sebuah nilai dan makna tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demi terciptanya sebuah kemerdekaan bangsa Indonesia yang hakiki, adil makmur dan sentosa dalam realita.

Salam Takzim dan Terima Kasihku, Untuk Pencetus “Boedi Oetomo” dan Para Pahlawan Bangsa Yang Telah Berkorban Untuk Kejayaan Indonesia. Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-115. Jaya Terus Indonesiaku.

Kota Serambi Mekkah, 20 Mei 2023.

Share :

Baca Juga

OPINI

Guru Murah, Pendidikan Mahal: Mengapa Martabat Pendidik Tidak Bisa Diukur dari Gaji Semata?

EDUKASI

Hari Pendidikan Nasional 2026: Ketika Pendidikan Mengejar Simbol, Bukan Substansi

EDUKASI

Hardiknas 2026: Keteladanan sebagai Sumber Wibawa Guru

EDUKASI

Patologi Pendidikan Kita : Inflasi Gelar, Defisit Adab, dan Kematian Marwah Intelektual

OPINI

Meremehkan Ulama di Tengah Polemik Publik

KESEHATAN

JKA dan Feodalisme Politik Modern : Ketika Pengawasan Publik Dianggap Gangguan Kekuasaan

HUKUM

Episode I Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

EDUKASI

Kepercayaan Publik yang Retak: Ketika Pemerintah Desa, Media, dan Masyarakat Gagal Bersinergi