Home / OPINI

Senin, 6 Maret 2023 - 21:57 WIB

POTRET KEMISKINAN ; INSAN KESEPIAN DI TENGAH KERAMAIAN KOTA

Oleh :
Dr. Drs. T.M. Jamil TA, M.Si
Pengamat Sosial – USK – Banda Aceh

BEBERAPA bulan yang lalu saya ditakdirkan Allah SWT untuk pergi keluar kota dalam kegiatan memberikan kuliah umum sekaligus mendampingi dan menguji mahasiswa bimbingan program doktor di sebuah kampus di Propinsi tetangga. Waktu itu, Senja mulai tiba. Suara adzan maghrib terdengar bersautan di masjid-masjid ibukota Propinsi itu. Panggilan Allah swt itu terdengar serempak menyeru manusia untuk segera bersujud kepada-Nya.

Hujan gerimis pun mengguyur sebagian wilayah ibukota, sehingga udara terasa agak dingin. Tetapi, semuanya tak menghalangi orang-orang memenuhi panggilan tersebut untuk bersujud kepada-Nya. Saya pun segera menuju masjid dekat hotel tempat saya menginap untuk menunaikan shalat maghrib. Para jama’ah pun mulai berdatangan sambil berlarian kecil karena sedang hujan gerimis.

Ketika kaki melangkah menuju pintu gerbang masjid, pemandangan yang cukup memprihatinkan tampak di depan saya. Sederet orang usia lanjut, laki-laki dan perempuan, duduk sambil menengadahkan tangan menyodorkan kotak kecil terbuat dari kardus minta belas kasihan para jama’ah yang datang. Saya perhatikan beberapa orang mengisi kotak tersebut dengan uang ala kadarnya alias seikhlasnya, dan saya pun ikut memberikan semampunya sambil saya mengajak mereka untuk shalat. Tetapi, ada pula yang lewat begitu saja, tanpa mempedulikan harapan atau permintaan mereka yang miskin itu.

Mereka adalah orang-orang miskin dari desa atau ibukota yang terhimpit dalam relung-relung kehidupan metropolitan yang sering tidak ramah dan keras. Mereka seolah-olah tidak peduli bahwa waktu itu adalah saat untuk menunaikan ibadah shalat. Mereka hanya berjuang mendapatkan sesuatu sekadar untuk mempertahankan hidupnya.

Pemandangan itu sungguh mengganggu sekaligus menyedihkan saya. Rasa kasihan, iba, campur sedih, mengharukan, dan terenyuh seakan menyatu menyelimuti hati saya sepanjang shalat, sehingga shalat saya rasanya kurang khusuk. Kasihan, karena mereka tak berdaya. Iba, karena mereka sudah pada usia lanjut yang mestinya bisa menikmati hari tuanya. Sedih, karena mereka tidak peduli waktu shalat, atau mungkin mereka memang tidak tahu akan pentingnya shalat.

Mengharukan, karena kehidupan ini seakan-akan tidak adil. Sebab, di tengah-tengah orang kaya ibukota masih terdapat orang miskin yang sangat menderita hidupnya. Dan, terenyuh karena saya sering tidak kuasa melihat penderitaan orang lain, apalagi menderita karena miskin. Saya ingat kehidupan orang tua saya di desa dulu. Hati saya tak kuasa, tapi saya tak punya kuasa dan cara untuk berbuat sesuatu untuk mereka, karena saya bukanlah penguasa atau pejabat. Saya hanya seorang dosen, guru atau pendidik.

Tetapi dalam batin saya juga bertanya-tanya apakah mereka benar-benar miskin, sehingga menjadi pengemis ibukota atau di kota-kota. Jika memang miskin, mereka layak dibantu dan di belaskasihani. Atau, sebenarnya mereka tidak semiskin itu, tetapi mengemis dijadikan sebuah profesi. Jika saya melihat dari penampilannya, tampaknya mereka sungguh dan benar-benar miskin. Pakaiannya lusuh dan raut mukanya menunjukkan kesedihan dan pemandangan itu sungguh kontras dengan keadaan sekitar tempat mereka mangkal yang dikelilingi oleh rumah-rumah mewah dengan model kehidupan metropolis. Saya tidak tahu apakah penglihatan saya itu yang salah. Tetapi faktanya, dalam pandangan saya, inilah insan kesepian di tengah keramaian kota.

Baca Juga  Jangan Pernah Takut Kepada Penjilat Kekuasaan

Tetapi memang dunia ini diciptakan sang Pencipta hanya dengan dua hal yang saling bertentangan, atau beroposisi biner. Ada tua dan ada yang muda. Ada kanan dan ada pula kiri. Ada bahagia dan ada pula sengsara. Ada laki-laki dan ada juga perempuan. Tak terlupakan, ada kaya dan ada pula miskin, dan seterusnya. Itulah warna kehidupan ini. Tuhan ciptakan isi dunia ini dengan berpasang-pasangan.

Kemiskinan telah memarginalkan mereka baik secara sosial, ekonomi, maupun spiritual. Mereka tidak saja miskin secara material, tetapi juga miskin hati dan iman. Oleh sebagian, mereka sering dianggap sebagai sampah masyarakat yang harus dibersihkan dan dibinasakan. Padahal, seharusnya mereka diberdayakan dan dibina. Tetapi memang tidak mudah. Orang miskin memiliki nilai sendiri memahami diri mereka. Karena itu, sosiologi kemiskinan berpandangan bahwa orang miskin tidak akan pernah menjadi kaya dengan diberi bantuan. Mereka bisa terlepas dari kemiskinan dengan diberdayakan melalui pendidikan yang baik dan sungguh-sungguh.

Karena itu, pendidikan merupakan salah satu strategi yang handal untuk mengentas kemiskinan. Tetapi orang miskin juga memiliki sifat unik. Sering terjadi orang miskin tidak mau disebut miskin. Mereka juga punya harga diri sebagaimana orang lain. Jika pendidikan dipandang sebagai langkah terbaik memutus mata rantai kemiskinan, persoalannya di lapangan tidak semudah ucapan itu.

Banyak anak keluarga orang miskin tidak mau sekolah, walau sudah difasilitasi oleh pemerintah dengan cara memberikan beasiswa, seperti Bidikmisi, dan lain-lain. Bahkan mereka tak pernah serius untuk kuliah atau belajar. Beasiswa yang mereka terima bukan untuk menunjang proses belajar, namun acap kali mereka gunakan untuk penampilan. Tapi sudahlah … biarkan saja itu menjadi tugas pihak yang berwenang untuk mengevaluasinya.

Kemiskinan bukan saja persoalan kita, tetapi juga merupakan problematika kemanusiaan secara global. Hampir di semua negara, kecuali yang tergolong sebagai negara maju, kemiskinan menjadi salah satu isu sentral yang harus diselesaikan. Ada yang berhasil, tetapi ada pula yang gagal untuk menyelesaikannya. Pertanyaannya adalah apa penyebab utama kemiskinan? Secara teoritik ada dua penyebab kemiskinan, yaitu kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural. Kemiskinan kultural terjadi karena keterbatasan sumber daya alam dan karena kemiskinan keturunan.

Baca Juga  Sudahkah Kita Menjadi Bangsa Yang Besar

Secara alamiah, orang tua miskin akan meninggalkan warisan kemiskinan kepada anak cucunya, kecuali para anak cucu itu mau bekerja keras dan pantang menyerah. Tidak sedikit orang sukses berasal dari keluarga miskin. Tetapi semua orang sukses itu tidak ada yang tidak berawal dari kerja keras dan pantang menyerah. Tidak pernah terjadi keberhasilan datang dengan tiba-tiba. Pasti diraih dengan susah payah. Orang-orang sukses umumnya mereka yang pantang menyerah dan tidak ada terlintas kata putus asa.

Sedangkan kemiskinan struktural terjadi karena imbas dari pembangunan yang menekankan pertumbuhan ekonomi, tanpa mempertimbangkan pemerataan. Hasilnya ketimpangan kesejahteraan luar biasa. Mungkin orang-orang miskin yang disebut di muka bisa saja korban dari kebijakan pembangunan yang menggusur aset-aset mereka sehingga menjadi miskin.

Kemiskinan model kedua ini justru sering terjadi di negara-negara yang sedang membangun, seperti Indonesia. Hingga saat ini setelah 72 tahun merdeka, orang miskin di negeri ini masih sangat banyak. Menurut statistik versi pemerintah, dari 247 juta penduduk, orang miskinnya masih mencapai 32, 5 juta orang. Sedangkan menurut Bank Dunia (World Bank), jumlah orang miskin di Indonesia masih mencapai 85 juta orang lebih. Yang digolongkan miskin adalah mereka yang pendapatannya tidak lebih dari $2 per hari.

Para peminta yang duduk di depan pintu masjid tadi adalah sebagian dari jutaan orang miskin di negeri ini. Dengan begitu tingginya angka kemiskinan di negeri ini, apalagi versi Bank Dunia, cita-cita bangsa ini untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur belum tercapai. Adil terkait dengan penegakan hukum, sedangkan makmur terkait dengan kesejahteraan atau kecukupan ekonomi.

Bahkan saya pribadi, ketika diwawancarai oleh Reporter TVRI Aceh beberapa waktu yang saat Pj Gubernur Aceh dilantik, Harapan saya kepada Pj Gubernur Aceh, setidaknya beliau bisa merubah peringkat Juara 5 ke Juara 2 atau 3 kemiskinan Aceh di Sumatera, menurut saya itu saja sudah bisa dianggap berhasil dan sebuah prestasi dalam kepemimpinannya. Meski pendapat ini masih bisa untuk diperdebatkan.

Akhirnya, Jika kita memperhatikan penegakan hukum yang demikian lemah serta tidak ada keseriusan dari pemimpin, dan angka kemiskinan yang masih begitu tinggi disusul dengan ketimpangan yang semakin melebar, tampaknya kedua-duanya masih memerlukan waktu yang panjang untuk bisa kita raih termasuk harapan itu untuk Aceh. Karena itu, jika masih kita temukan pengemis di berbagai tempat, termasuk di pintu-pintu gerbang masjid, kita bisa memakluminya meski hati kita harus menangis pilu. Sebab, itulah potret kemiskinan yang sebenarnya, bukan lewat data statistik yang bisa dimanipulasi untuk kepentingan prestasi penguasa. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Banda Aceh, Selasa 7 Maret 2021

Share :

Baca Juga

OPINI

Amnesia Sejarah dan Kesalahan Memahami Aceh

OPINI

Haul Ke-30 Abu Budi: Menjaga Warisan Guru, Merawat Tradisi Keilmuan Dayah

OPINI

1 Muharam dan Krisis Kesadaran Waktu di Era Digital

ACEH

Blok Andaman dan Kesempatan Emas Aceh Menjadi Hub Energi Asia Tenggara

ACEH

MENAGIH JANJI MoU HELSINKI DAN UUPA: Jangan Sampai South Andaman Menjadi Arun Jilid II

EDUKASI

UIN SUNA 57 Tahun: Kampus Peradaban untuk Generasi Hebat

OPINI

Polemik IUP di Aceh: Jangan Terjebak pada Angka, Perkuat Tata Kelola

BERANDA

Banjir-Longsor Aceh Dinilai “Bencana Terstruktur”: Desakan Evaluasi Izin HPH, Tambang, dan HGU di Kawasan Lindung