Home / OPINI

Sabtu, 18 Juli 2026 - 14:41 WIB

Ketika Keramaian Bukan Jaminan Kebenaran

Oleh: Irwandi Yusuf

Tubuh bisa dipaksa berhenti. Langkah bisa ditahan. Ruang gerak bisa dipersempit.  

Tapi ada satu hal yang tidak ikut lumpuh, yaitu kebenaran.

Medialiterasi, Opini | Belakangan kita sering melihat bagaimana narasi dibangun secara beramai-ramai. Ada yang bergerombol, menyusun cerita, saling menguatkan versi yang sama. Seolah jumlah orang yang berbicara bisa mengubah isi dari apa yang diucapkan.

Padahal keramaian tidak pernah mengubah kebohongan menjadi kebenaran. Ia hanya membuat kebohongan terdengar lebih keras.

Di titik inilah kita diuji. Apakah kita ikut arus karena takut tertinggal, atau memilih berdiri meski sendiri karena tahu mana yang benar.

Baca Juga  REKONSTRUKSI PERAN HMI ; REFLEKSI DI HARI ULANG TAHUN KE 77

Berdiri sendiri memang melelahkan. Sering dicap melawan, keras kepala, atau tidak solutif. Padahal kadang, orang yang berdiri sendiri bukan sedang kalah. Dia hanya satu-satunya yang menolak ikut berbohong.

Pemulihan tidak sama dengan balas dendam. Saat seseorang memilih pulih, dia tidak sibuk membalas. Dia menata diri, menjaga ketenangan, dan membiarkan proses berjalan. Membiarkan waktu bekerja. Membiarkan hukum menimbang dengan caranya sendiri.

Karena pada akhirnya, waktu selalu jujur. Waktu akan membuka siapa yang benar-benar setia dan siapa yang hanya datang karena kepentingan. Waktu akan memperlihatkan siapa yang selama ini hidup di balik topeng dan siapa yang tetap tegak meski tidak disorot.

Baca Juga  Pilkada Aceh Timur 2024, Akhirnya Bermuara Pada 4 Pasangan Calon dan Ini Nyaris Pasti

Di ruang publik yang gaduh, kita butuh lebih banyak orang yang berani tenang. Tidak ikut berteriak hanya demi diterima. Tidak ikut menuduh hanya demi terlihat berpihak.

Kebenaran tidak butuh dibela dengan amarah. Ia hanya butuh ruang untuk dibuktikan. Dan ruang itu akan datang, lewat waktu dan lewat hukum.

Sampai saat itu tiba, pilihan paling waras adalah tetap berdiri di tempat yang benar. Meski sendiri.(*)

Share :

Baca Juga

OPINI

“Jangan Jual Aqidah Demi Nafkah”: Ajaran Agama Kita Ingatkan Pentingnya Memilih Pekerjaan Halal

OPINI

Merdeka dari Krisis Soft Skills: Menyiapkan SDM Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur

OPINI

Perdamaian Harus Menjadi Energi Positif: Mendorong Aceh Menuju Kesejahteraan, Kemandirian, dan Kedaulatan Ekonomi

OPINI

Gas Aceh, Kita Dapat Apa? Antara Potensi Raksasa dan Realitas Warga yang Masih Gelap

OPINI

Likuidasi Jiwasraya Selesai, Publik Tanya: Rekomendasi Siapa dan Bagaimana Nasib Asabri?

OPINI

26 Tahun Bumi Flora: Ketika Kursi Kekuasaan Mengubur Konflik Agraria Aceh Timur

EDUKASI

Pendidikan Indonesia: Masih Fair atau Sudah Menuju Good?

ACEH

Pasca Banjir Bandang-Longsor, Warga Aceh Desak Pemerintah Segera Realisasikan Dana Pemulihan 2026