Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Alumni HMI Aceh.
Pengantar : Saya berpikir bahwa HMI perlu untuk melakukan suatu rekonstruksi untuk mendukung kepentingan HMI ke depan, yaitu kepentingan fungsi perkaderan dan peran perjuangannya. Upaya rekonstruksi ini dalam rangka menyusun dan merangkai kembali berbagai komponen pembentuk HMI (jaringan, organ dan system organ) yang telah rusak. Sehingga HMI kembali menjadi badan yang sehat dan dapat beraktifitas secara baik dan maksimal.
HMI DAN PERSOALAN KEPEMIMPINAN : Sekali lagi perlu disampaikan, bahwa apa yang selama ini dialami oleh HMI, tidak perlu untuk ditutup-tutupi. Terutama berkaitan dengan persoalan kemerosotan moral, paceklik intelektual dan keringnya langkah-langkah gerakan sosial HMI. Pertama itu, kemudian ditambah (diperparah) dengan dampak-dampak letupan ke dalam yang berujung kepada kemandegan total (kelumpuhan) HMI sebagai organisasi yang berada pada posisi strategis dengan fungsi dan perannya yang sangat penting.
Praktek politik praktis yang tidak sehat, berebut kekuasaan secara tidak dewasa, upaya saling menjatuhkan, dan perpecahan di sana-sini, adalah letupan-letupan itu, yang berakibat tidak hanya pada HMI yang kini kurang memiliki daya tawar baik di tingkat lokal maupun nasional (apalagi internasional), tetapi juga kepada pergeseran paradigma dan tujuan.
Hal ini dapat diukur dengan hal yang paling sederhana. Misalnya, tidak ada perbedaan signifikan antara seorang kader HMI dengan mahasiswa yang tidak pernah ber-HMI. Bahkan dalam beberapa hal (atau banyak hal), mahasiswa yang ber-HMI jauh tertinggal dengan mahasiswa yang tidak ber-HMI. Itu masalah serius. Dan kata kuncinya terletak pada dua hal.
Pertama, bagaimana perkaderan di HMI harus kembali selain diluruskan, juga dipertimbangkan ulang perubahan-perubahan pada sistem dan mekanisme perkaderan yang telah dilakukan selama ini (wajib dievaluasi), serta kebutuhan untuk merancang rekayasa-rekayasa dalam hal perkaderan.
Kedua, mengenai peran perjuangan HMI, selain harus dipertegas, minimal harus dicari bersama dan ditentukan, HMI berjuang untuk apa dan menghadapi siapa.
Kedua hal itu harus jelas pada diri setiap kader HMI. Ini akan sangat menentukan bagaimana strategi-strategi, langkah-langkah dan taktik-taktik apa yang harus dirancang dan dijalankan oleh HMI. Baik perjuangan pada level lokal hingga nasional bahkan global.
Masalah kepemimpinan adalah masalah yang juga krusial di HMI. Sebagai organisasi yang memiliki struktur hirarki, pemimpin adalah simbol sekaligus sentral komando yang menentukan setiap kebijakan organisasi yang akan dijalankan. Pemimpin, selain ia harus berani dan tegas, ia juga harus jujur, adil dan amanah serta mau mendengarkan semua pihak tanpa pilih kasih. Pemimpin itu harus bias “ngemong”, bukan sebaliknya, yaitu gemar mengeluh dan selalu minta di”emong”.
Biasanya, wajah dan karakter atau pola suatu kepengurusan di HMI salah satunya ditentukan oleh bagaimanakah pemimpinnya. Jika pemimpin di HMI tidak lebih hanya sebagai ekor dari individu atau kelompok lain, maka itu adalah salah satu pertanda dari kebobrokan suatu periode kepengurusan!
PERKADERAN YANG SEHARUSNYA : Keberadaan Badan Pengelola Latihan (BPL), alumni-alumni HMI yang memiliki keilmuan dan pengalaman luas mengenai materi serta metode perkaderan, juga potensi-potensi lain yang dimiliki oleh HMI, jika semuanya digerakkan dan diarahkan kepada proses penataan kembali sistem serta mekanisme perkaderan di HMI, tentu akan melahirkan suatu hasil yang bermanfaat bagi kebutuhan kaderisasi. Saya tidak menuliskan secara panjang dan rinci mengenai bagaimana perkaderan yang seharusnya. Namun saya hanya sekedar memberikan beberapa masukkan mengenai hal itu.
Pertama, sistem perkaderan yang selama ini digunakan oleh HMI (yang telah ditambal-sulam dan mengalami reduksi), harus dirumuskan kembali dan disesuaikan dengan kebutuhan serta sumber daya yang ada. Jika memungkinkan, diadakan semacam riset mengenai perbandingan sistem perkaderan di HMI dari masa ke masa, kemudian ditarik benang merah diantara itu, selanjutnya ditambahkan dengan kebutuhan di masa yang akan datang serta berbagai kemungkinan peluang dan tantangan yang akan dihadapi.
Sehingga, sistem perkaderan HMI tetap segar dan mampu mengantisipasi kebutuhan jaman, serta tetap tidak keluar dari jalurnya. Sistem dan mekanisme perkaderan di HMI ke depan, minimal harus memenuhi beberapa syarat diantaranya; memenuhi kebutuhan mahasiswa di kampus-kampus, tetap mampu melahirkan kader yang berkualifikasi tingkat tinggi (meskipun itu dengan sendirinya akan bertambah seiring dengan proses selama mereka ber-HMI), tidak merubah arah dan substansi perkaderan HMI (konstitusional, memiliki tujuan dan capaian-capaian target yang dapat diukur secara pasti), memiliki relevansi dengan dunia intelektual-kemahasiswaan, keislaman-keumatan, dan sosial-kebangsaan, serta mendapatkan porsi yang lebih daripada proses-proses lain di HMI.
Selain dari beberapa syarat tersebut, semuanya bisa bersifat fleksibel dan dinamis. Sebab saya melihat perkaderan di HMI hari ini, selain dikelola oleh pemandu dari hasil proses Senoir Course yang asal-asalan, juga diperpendek waktunya (bayangkan jika LK 1 saja hanya 2-3 hari, materi NDP dan Mission HMI saja misalnya, rata-rata hanya diberi durasi waktu masing-masing sekitar 3-5 jam, bahkan dalam kondisi tertentu hanya 2-4 jam, itupun proses follow-up setelah LK 1 tidak berjalan maksimal). Belum lagi, dalam beberapa kasus, pemateri LK 1 (bahkan LK II) menyampaikan materi hanya ngawur. Ini adalah hal penting dan harus ditata ulang!
Kedua, mengenai pola perkaderan HMI, terutama untuk masa yang akan datang, minimal mengandung beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut diantaranya adalah suasana yang mendukung (akan lebih baik jika pelaksanaan kegiatan Latihan Kader ditempatkan di desa-desa atau dusun-dusun, sehingga selain kondusif, tenang dan nyaman, juga akan semakin mendekatkan kader HMI dengan masyarakat).
Selain suasana yang mendukung, instrumen-instrumen pendukung pelaksanaan kegiatan perkaderan di luar hal-hal pokok (materi, pemateri, instruktur/pemandu, dll) juga sebaiknya dipertimbangkan untuk disediakan.
Instrumen-instrumen tersebut akan sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan perkaderan. Ketiga, sedapat mungkin, melalui beberapa skenario atau rekayasa tertentu, pada setiap pelaksanaan kegiatan perkaderan, ditanamkan kesadaran, keberpihakan dan ilmu “toto kromo”. Hal ini sepintas juga terkesan sepele namun memiliki dampak besar ke depannya. Serta beberapa hal lain yang masih sangat terbuka untuk kita pikirkan dan terapkan demi penataan kembali perkaderan di HMI. Hal ini mengingat, semakin sedikitnya kader HMI (terutama para pengurus, dan utamanya lagi para pengelola latihannya) memikirkan inisiatif-inisiatif, rekayasa-rekayasa dan strategi-strategi relevan-kontekstual bagi kebutuhan kaderisasi. Bahwa di HMI, selain peran perjuangan dan tanggungjawab akademis, setiap manusia di dalamnya dituntut untuk selalu “belajar” mengenai banyak hal.
PERJUANGAN YANG SEHARUSNYA : Perjuangan HMI adalah perjuangan yang bertitik tolak dari dasar kebenaran (Tauhid). Oleh karena itu, perjuangan HMI adalah perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan melawan kedzaliman apapun bentuknya dan siapapun pelakunya. Logikanya adalah, Islam memiliki tujuan, bangsa Indonesia memiliki tujuan, dan tujuan HMI adalah bagian dari tujuan Islam dan bangsa Indonesia. Maka tujuan HMI harus selaras dengan tujuan Islam dan bangsa Indonesia.
Tujuan tersebut untuk dapat terwujud membutuhkan perjuangan, dan perjuangan yang dilakukan membutuhkan pengorbanan, sedangkan setiap pengorbanan menuntut keikhlasan. Maka jika masih terdapat kader HMI yang enggan untuk berkorban demi kepentingan umat dan bangsa (terutama mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya), bahkan memanfaatkan HMI hanya untuk mencapai tujuan pribadinya, maka dia bukanlah pejuang. Dan jika semua kader HMI (atau sebagian besar) demikian, maka otomatis perjuangan HMI akan banyak mengalami hambatan dan ketertundaan. Perjuangan, bagi kader HMI, sesungguhnya tidak hanya dapat dilakukan saat ia berada pada struktur kepengurusan HMI. Saya katakan, bahwa ber-HMI yang sejati adalah ber-HMI dengan hati nurani. Karena ber-HMI yang demikian tidak memiliki tepi batas ruang dan waktu. Kapanpun dan di manapun serta sebagai apapun ia akan menjalankan misi HMI.
Ber-HMI karena seseorang berada pada ikatan struktur dan aturan main organisasi adalah baik. Tetapi tidak boleh disebut bahwa mereka-mereka yang tidak berada di struktur tidak sedang ber-HMI dan berjuang. Lebih baik seorang kader yang tidak terikat secara struktur dan konstitusi tetapi pikiran dan pekerjaannya mencerminkan nilai-nilai ke-HMI-an, daripada mereka-mereka yang berada di struktur namun pikiran dan perilakunya justru hanya memanfaatkan HMI demi kepentingan pribadi atau kelompok. Tentu saja, bagi yang berada di struktur, dan pikiran serta kerja-kerjanya mencerminkan misi HMI, itu adalah sangat baik. Siapapun mereka… Perjuangan di HMI, atau bagi kader HMI, tidak mengenal lelah serta tidak mengenal kompromi terhadap segala bentuk kedzaliman dan ketidakadilan.
Perjuangan HMI tidak mengenal kata mundur dan kemunafikan, apapun resikonya. Perjuangan untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT, perjuangan untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat, dapat dan boleh dilakukan melalui segala cara. Kecuali cara yang melanggar ajaran Islam, melanggar hukum, dan konstitusi HMI.
GERAKAN SOSIAL “KHAS” HMI : MORAL, INTELEKTUAL DAN “KETELADANAN LAPANGAN” : HMI memiliki karakter gerakan sosial yang khas. Gerakan HMI meliputi gerakan moral dan intelektual yang integral terwujud melalui setiap gagasan, sikap dan kerja-kerja sosialnya di masyarakat. Sumber moralitas HMI adalah Islam sebagai sistem nilai universal. Gerakan moral HMI adalah gerakan memahami kembali dan menerapkan serta mendiseminasikan prinsip-prinsip kebenaran universal ke dalam masyarakat sampai pada titik yang paling kongkrit. Maka dibutuhkan pengetahuan yang memadai. Oleh karena itu HMI harus senantiasa “belajar dan membaca” realitas. HMI tidak boleh berhenti menimba ilmu, tetap rendah hati, dan peka terhadap perkembangan-perkembangan pengetahuan serta perdebatan-perdebatan intelektual seputar agama dan sosial. Apa yang menjadi perasaan dan gagasan HMI tidak boleh berhenti hanya pada wilayah perasaan dan abstraksi ide semata.
Ia harus keluar, membumi dan memberi dampak positif bagi kelangsungan kehidupan sosial. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu bentuk gerakan social nyata di lapangan. Keteladanan HMI di lapangan itu minimal mengandung tiga hal dalam setiap aktifitasnya. Yaitu edukasi, empowering dan advokasi. Semoga ketiga hal ini bisa diwujudkan oleh para kadernya dalam usia HMI yang semakin dewasa.
Kota Madani, 5 Pebruari 2024







