Oleh: Juni Ahyar
Akademisi, Peneliti, Pemerhati Pendidikan, Bahasa, dan Budaya
Sejarah bukan sekadar deretan peristiwa masa lalu yang layak dikenang. Sejarah adalah cermin untuk memahami jati diri sekaligus kompas yang menunjukkan arah masa depan. Bangsa yang besar bukan hanya bangga terhadap kejayaan leluhurnya, tetapi mampu mewarisi nilai-nilai yang menjadikan peradaban itu besar.
Dalam konteks Aceh, nama Sultan Malikussaleh dan Kerajaan Samudera Pasai merupakan simbol lahirnya peradaban Islam yang berpengaruh di Nusantara. Namun, pertanyaan yang patut diajukan adalah: apakah kita benar-benar telah mewarisi nilai-nilai besar yang mereka tinggalkan, atau hanya mewarisi nama dan romantisme sejarahnya?
Salah satu sumber paling otoritatif yang menggambarkan kejayaan Samudera Pasai berasal dari pengembara Muslim asal Maroko, Ibnu Battuta. Dalam karya monumentalnya Rihlah (Tuhfat al-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa ‘Aja’ib al-Asfar), ia mencatat kunjungannya ke Samudera Pasai sekitar tahun 1345 M.
Selama hampir dua pekan berada di Pasai, Ibnu Battuta menggambarkan Sultan Malik Az-Zahir sebagai pemimpin yang alim, rendah hati, dekat dengan ulama, dan berjalan kaki menuju masjid untuk menunaikan salat Jumat. Bagi seorang musafir yang telah mengunjungi berbagai pusat peradaban dunia Islam, kesaksian tersebut bukanlah pujian yang berlebihan, melainkan pengakuan terhadap kualitas kepemimpinan dan kehidupan sosial yang benar-benar ia saksikan.
Kekaguman Ibnu Battuta tidak berhenti pada sosok sultannya. Ia juga mencatat bahwa Samudera Pasai merupakan negeri yang makmur, memiliki lahan pertanian yang subur, perdagangan internasional yang maju, penggunaan dinar emas sebagai alat transaksi, kehidupan intelektual yang berkembang, serta hubungan yang harmonis antara ulama dan penguasa.
Catatan itu diperkuat oleh berbagai kajian sejarah modern yang menempatkan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama yang memiliki pengaruh besar di Nusantara sekaligus pusat perdagangan internasional di Selat Malaka pada abad ke-13 hingga ke-15.
Pengakuan serupa juga datang dari Marco Polo dan Laksamana Zheng He. Catatan perjalanan mereka menunjukkan bahwa Pasai merupakan simpul penting perdagangan dunia yang menghubungkan Timur Tengah, India, Tiongkok, dan Nusantara. Letak geografis yang strategis dipadukan dengan tata kelola pemerintahan yang baik menjadikan Pasai tumbuh sebagai salah satu pusat peradaban Islam paling berpengaruh di Asia Tenggara.
Ironisnya, kejayaan tersebut kini terasa begitu jauh dari realitas yang dihadapi Aceh.
Memang, nama Malikussaleh terus dikenang dan diabadikan menjadi identitas berbagai lembaga pendidikan, seperti Universitas Malikussaleh, IAIN Malikussaleh, sejumlah dayah, serta berbagai institusi lainnya. Akan tetapi, sebuah pertanyaan mendasar perlu dijawab secara jujur: apakah kita telah mewarisi semangat Malikussaleh, atau hanya mengabadikan namanya?
Apakah budaya akademik kita telah mencerminkan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan? Apakah kepemimpinan kita telah mencerminkan integritas dan keteladanan? Apakah dunia pendidikan telah melahirkan inovasi yang mampu mengubah kehidupan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting diajukan karena berbagai indikator pembangunan menunjukkan bahwa Aceh masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa tingkat kemiskinan Aceh masih berada di atas rata-rata nasional. Di sisi lain, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kualitas pendidikan, produktivitas ekonomi, serta daya saing sumber daya manusia masih membutuhkan peningkatan yang signifikan.
Fakta ini menjadi pengingat bahwa kebesaran sejarah tidak secara otomatis melahirkan kebesaran masa kini. Sebuah peradaban hanya akan tetap hidup apabila nilai-nilai yang melandasinya terus diwariskan dan dipraktikkan oleh generasi penerusnya.
Pelajaran terbesar dari Samudera Pasai sesungguhnya bukan terletak pada kemegahan pelabuhannya atau luasnya wilayah kekuasaan, melainkan pada fondasi nilai yang membangun peradaban tersebut. Kepemimpinan yang berintegritas, penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, kemitraan yang harmonis antara ulama dan umara, perdagangan yang jujur, serta masyarakat yang menjunjung tinggi nilai agama merupakan faktor utama yang menjadikan Pasai dihormati oleh dunia.
Universitas tidak akan menjadi pusat peradaban hanya karena menggunakan nama tokoh besar. Sebuah perguruan tinggi akan dihormati apabila mampu menghasilkan riset yang berdampak, lulusan yang berintegritas, inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat, serta budaya akademik yang sehat dan produktif.
Demikian pula sebuah daerah tidak akan maju hanya karena memiliki sejarah yang gemilang. Kemajuan lahir dari kemampuan menjadikan sejarah sebagai inspirasi untuk membangun masa depan.
Mewarisi Malikussaleh berarti mewarisi semangat mencari ilmu, menegakkan keadilan, memuliakan tamu, membangun ekonomi yang beretika, serta menghadirkan kepemimpinan yang melayani masyarakat. Nilai-nilai inilah yang membuat Ibnu Battuta menaruh hormat kepada Samudera Pasai, bukan semata-mata karena kekayaan atau kekuatan militernya.
Al-Qur’an pun memberikan prinsip yang selaras dengan pengalaman sejarah tersebut. Allah Swt. berfirman:
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi…” (QS. Al-A’raf: 96).
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang dimensi spiritual, tetapi juga mengandung fondasi etik pembangunan peradaban. Keimanan dan ketakwaan melahirkan kejujuran, amanah, disiplin, tanggung jawab, dan keadilan—nilai-nilai yang menjadi syarat utama kemajuan sebuah bangsa.
Karena itu, mengenang Malikussaleh semestinya tidak berhenti pada seremoni, nama gedung, mars institusi, atau peringatan hari jadi. Sejarah hanya akan bermakna apabila diterjemahkan menjadi budaya kerja, budaya ilmu, budaya riset, budaya inovasi, dan budaya integritas.
Aceh tidak membutuhkan lebih banyak slogan tentang kejayaan masa lalu. Aceh membutuhkan lebih banyak pemimpin yang amanah, akademisi yang produktif, guru yang inspiratif, pengusaha yang beretika, birokrat yang melayani, serta generasi muda yang mampu menghadirkan karya nyata bagi masyarakat.
Sebab pada akhirnya, sebuah peradaban besar tidak diwarisi melalui nama, melainkan melalui nilai, keteladanan, dan karya yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Itulah warisan sejati Malikussaleh yang seharusnya terus kita jaga dan kita bangun bersama.







