MEDIALITERASI.ID | JAKARTA — Istilah “Londo Ireng” kembali diperbincangkan di ruang publik. Sebutan yang dulu merujuk pada pribumi yang bekerja untuk kepentingan penjajah Belanda itu kini digunakan sejumlah aktivis untuk menggambarkan pihak-pihak yang dinilai membantu agenda negara-negara besar di era neokolonialisme dan neoimperialisme.
Dalam diskusi yang beredar di media sosial, “Londo Ireng” diartikan sebagai kelompok yang secara sadar atau tidak terlibat dalam melanggengkan cengkeraman modal, ekonomi, politik, dan budaya negara-negara besar terhadap negara berkembang.
“Saat ini kita tidak lagi berada di era kolonialisme klasik. Bentuknya berubah menjadi neokolonialisme. Kekuatan besar tidak lagi menjajah secara langsung, tapi lewat utang, investasi, intervensi politik, dan dominasi budaya,” demikian narasi yang disampaikan salah satu pegiat di platform digital.
Dari Utang Luar Negeri hingga Dominasi Narasi
Dalam narasi tersebut, contoh praktik neokolonialisme yang disorot adalah ketergantungan negara pada pinjaman lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia saat menghadapi kesulitan ekonomi.
Penulis menyebut, solusi “pinjam ke IMF dan Bank Dunia” yang kerap diajukan pakar ekonomi dinilai sebagai bentuk penjajahan modern karena berpotensi membuat negara terus membayar utang dari hasil kekayaan alam.
Selain jalur ekonomi, sorotan juga mengarah ke ranah media, akademisi, pengamat, dan jurnalis. Mereka dinilai bisa dilibatkan untuk membangun pembenaran atas kebijakan yang pro terhadap kepentingan negara-negara besar.
“Di level global, narasi ini menyebut Amerika Serikat dan Israel sebagai aktor utama neokolonialisme. Disebutkan AS melakukan tekanan militer ke negara-negara yang tidak sejalan, sementara Israel dikaitkan dengan konflik di Palestina, Lebanon, dan Suriah,” tulis pegiat itu.
Namun ia menekankan, aktor eksternal tidak akan efektif tanpa adanya pihak lokal yang membantu. Bentuk bantuannya disebut beragam, mulai dari pembelian produk industri militer, pemberian konsesi sumber daya alam, hingga penyebaran narasi pembelaan melalui media.
Dalam tulisannya, ia juga menyebut istilah “ZSM-Zionis Sawo Matang” dan “Wahaboy” untuk menggambarkan kelompok di Indonesia yang dinilai membela kepentingan neokolonialisme lewat narasi dan pencitraan negatif terhadap negara-negara yang melawan.
Ajak Publik Mengecek Posisi
Penulis menutup pernyataannya dengan mengajak publik untuk mengidentifikasi siapa yang menjajah, siapa yang dijajah, dan apa agenda di baliknya.
“Nah tinggal cek-cek saja, siapa di kubu siapa. Semoga kita tidak menjadi Londo Ireng,” tulisnya.
Catatan: Foto ilustrasi dalam unggahan tersebut dibuat dengan Gemini AI dan tidak dimaksudkan menyerupai tokoh tertentu.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak-pihak yang disebut dalam narasi tersebut.
Para ahli hubungan internasional sebelumnya pernah mengingatkan agar diskusi tentang neokolonialisme dibahas dengan data dan konteks kebijakan yang jelas, agar tidak menimbulkan generalisasi dan polarisasi di masyarakat.
Editor: Saiful Amri






