Goresan Pena: Juni Ahyar
Entah apa lagi yang harus ku ucapkan untukmu,
karena kata-kata pun kadang tak cukup mewakili hati.
Setiap hari kulihat sembab di matamu,
dan aku hanya bisa menjadi pendengar diam
yang menampung segala ceritamu.
Aku hanya mampu menyediakan pelukan,
sehangat dan sesederhana semampuku.
Jika kau masih punya tenaga untuk bertahan,
maka teruslah melawan arus ini.
Tapi jika lelah itu sudah terlalu berat,
jangan paksa diri.
Lepaskan.
Carilah bahagiamu,
di tempat yang tak lagi membuatmu menangis.
Aku ingin melihat senyummu yang dulu,
tawa ringan yang pernah mengalun jernih dari jiwamu,
bukan air mata yang terus membasahi pipimu.
Bangkitlah…
meski langkahmu masih goyah,
meski kaki harus merangkak,
jangan kau diam di tempat.
Karena masa depan masih menantimu,
penuh harapan yang belum sempat kau genggam.
Aku percaya, engkau mampu.
Dan yakinlah,
Allah Maha Pengampun,
Dia akan selalu membuka tangan-Nya
di antara derai tangismu dalam sujud mu.
Seburuk apa pun dosamu,
cinta-Nya tak pernah berkurang.
Sementara aku…
akan tetap ada sebagai teman,
sebagai sahabat,
dan sebagai kakak yang selalu mendoakanmu.
Tanpa syarat.
Tanpa pamrih.
Hanya ingin kau kembali tersenyum,
seperti dulu.







