Home / SASTRA

Kamis, 2 Juli 2026 - 21:48 WIB

Generasi Kami, Kami Setia dan Selalu Ada

Oleh: Nuriman, M.Ed., Ph.D.

Dosen pada UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe, Aceh


Wahai generasi yang kami cintai,

Barangkali suatu hari nanti
kalian akan bertanya,

“Mengapa guru kami dahulu sering tampak lelah?”

Ketahuilah,
bukan karena kami bosan mengajar,
bukan pula karena kami kehilangan cinta.

Justru karena terlalu besar cinta itu,
kami tetap datang,
meski tubuh letih dan pikiran terbagi.

Sesungguhnya,
kami ingin lebih lama duduk di samping kalian,
mendengar mimpi-mimpi yang kalian bisikkan,
menuntun langkah yang masih ragu,
mengajarkan keberanian berpikir,
kejujuran bersikap,
dan tanggung jawab sebagai anak bangsa.

Kami ingin melahirkan generasi
yang cerdas tanpa kehilangan adab,
kritis tanpa kehilangan hormat,
berani tanpa kehilangan nurani.


Namun…

Maafkanlah kami.

Di sela-sela suara kapur yang menggores papan,
di antara senyum yang kami hadiahkan setiap pagi,
ada tumpukan berkas yang menunggu,
lembar demi lembar administrasi
yang harus kami lengkapi.

Baca Juga  Suara yang Tak Terucap

Kami menulis laporan,
mengisi formulir,
menyusun perangkat,
mengunggah data,
memenuhi bukti demi bukti,
agar semuanya dianggap telah terlaksana.

Sering kali,
waktu yang seharusnya menjadi milik kalian,
habis menjadi milik dokumen.


Ironis…

Yang paling mudah dihitung
adalah jumlah halaman,
tetapi yang paling sulit dinilai
adalah kasih sayang seorang guru.

Yang paling cepat diperiksa
adalah kelengkapan administrasi,
tetapi yang paling lama dipahami
adalah keikhlasan mendidik.

Kami tidak menolak pertanggungjawaban.

Kami percaya,
setiap amanah harus dapat dipertanggungjawabkan.

Administrasi adalah bagian dari profesionalisme.

Namun, ketika berkas lebih dipentingkan daripada manusia,
ketika formulir lebih diperhatikan daripada perjumpaan,
maka pendidikan perlahan kehilangan jiwanya.

Sebab seorang guru
tidak lahir untuk menjadi penjaga arsip semata.

Baca Juga  Filosofi Secangkir Kopi dan Sepiring Gorengan

Guru lahir
untuk menyalakan cahaya,
menghidupkan harapan,
dan membentuk peradaban.


Anak-anakku…

Jika suatu hari kalian berhasil mengubah dunia,
ingatlah,

di balik keberhasilan itu
ada guru-guru yang diam-diam berjuang.

Berjuang mengajar kalian dengan sepenuh hati,
sementara malam-malamnya dihabiskan
mengejar tenggat administrasi.

Maka, jika sesekali kami tampak lelah,
janganlah kalian mengira
kami lelah mencintai kalian.

Tidak.

Yang melelahkan bukanlah mengajar.

Yang melelahkan adalah ketika waktu untuk mendidik
perlahan dikalahkan
oleh kewajiban untuk membuktikan
bahwa kami telah mendidik.


Doakanlah kami…

Semoga suatu hari nanti,
pendidikan kembali memuliakan perjumpaan,
lebih menghargai keteladanan daripada tumpukan kertas,
lebih percaya pada nurani daripada sekadar bukti administrasi.

Karena sesungguhnya,
kami tidak pernah bercita-cita
menjadi pengisi formulir.

Kami hanya ingin menjadi guru
yang hadir sepenuhnya,
untuk kalian,
demi masa depan bangsa.

Share :

Baca Juga

BUDAYA

Langkah yang Tak Pernah Sia-Sia

BUDAYA

Hikayat Malem Diwa: Warisan Cinta dan Keberanian dari Tanah Rencong

RELIGI

Hati yang Tumbuh, Hati yang Membatu

RELIGI

Kematian: Peringatan yang Tak Pernah Ingkar

EDUKASI

Bunga di Balik Air Mata

SASTRA

Suara yang Tak Terucap

SASTRA

Obrolan di Bawah Pohon Tua: Integritas Asli vs Integritas Palsu

BERITA

Hebat, Mahasiswi UIA Ini Raih Penghargaan Sebagai Penulis di Tingkat Nasional