Home / SASTRA

Jumat, 18 Juli 2025 - 23:48 WIB

Obrolan di Bawah Pohon Tua: Integritas Asli vs Integritas Palsu

Penulis : Nuriman Abdullah, S.Pd.I., M.Ed., Ph.D (Dosen Sosiologi Pendidikan UINSUNA Lhokseumawe). Email: nuriman.abdul@gmail.com

CERPEN – Hari itu, angin bertiup pelan. Matahari menggantung hangat di langit siang, menembus sela-sela daun pohon asam yang tumbuh di tengah kampung. Di bawah pohon tua itu, seperti biasa, duduk dua sosok yang sering jadi tempat bertanya banyak orang: Hayran, pemuda cerdas yang masih bergumul dengan idealisme, dan Abu Chiek, tokoh sepuh yang disegani bukan karena jabatan, tapi karena kebijaksanaannya.

Hayran:
“Abu, aku tak mengerti. Kenapa orang yang paling vokal bicara soal integritas, soal kejujuran, soal moralitas—justru ketahuan main proyek, tanda tangan dokumen palsu, dan mark-up dana bantuan?”

Abu Chiek menyeduh kopinya yang mulai dingin. Ia menghela napas, lalu menatap Hayran dengan tenang.

Abu Chiek:
“Karena, Nak… integritas sejati bukan sesuatu yang diumumkan lewat pidato atau media sosial. Integritas itu seperti akar—tak terlihat, tapi menopang seluruh pohon kehidupan. Yang palsu? Seperti bunga plastik: indah dipandang, tapi tak pernah menghidupkan siapa pun.”

Hayran mengangguk pelan. Tapi kegelisahan masih terlihat jelas di matanya.

Hayran:
“Tapi dia tetap dihormati, Abu. Masih jadi panitia ini-itu, tampil di seminar, dipanggil Teungku. Apa integritas sekarang cuma soal citra?”

Abu Chiek:
“Sayangnya, zaman ini suka disesatkan oleh penampilan. Dulu orang diuji dengan penderitaan. Sekarang diuji dengan peluang. Banyak yang tahan lapar… tapi tak tahan amplop.”

Hayran terkekeh getir.

Hayran:
“Jadi, bagaimana caranya membedakan mana integritas asli dan mana yang palsu?”

Abu Chiek:
“Tanyakan satu hal, Hayran: apakah dia tetap memegang prinsip saat tak ada yang menonton? Apakah dia jujur meski harus kehilangan jabatan? Apakah dia tetap berkata benar, walau akan dibenci?”

Abu Chiek menatap jauh ke arah kantor kecamatan yang baru direnovasi dengan anggaran ratusan juta.

Baca Juga  Jika Aku Tidak Dipedulikan, Mengapa Aku Dilahirkan?

Abu Chiek:
“Integritas palsu sering bersembunyi di balik simbol: jubah panjang, gelar akademik, ayat-ayat yang dihafal, dan jabatan tinggi, tapi saat uang dan kuasa datang, ia jadi bunglon berubah warna mengikuti ruangan.”

Hayran:
“Tapi mereka itu pintar bicara, Abu. Kutip ayat, bawa-bawa hadis, bicara tentang amanah dan akhirat…”

Abu Chiek:
“Nabi pernah berkata, ‘Akan datang suatu zaman di mana pendusta dipercaya, dan yang jujur dituduh bohong. Para pengkhianat diberi amanah, dan yang amanah disingkirkan.'”

Hayran terdiam. Ia teringat seseorang di kantornya yang dulu menolak tanda tangan proyek fiktif, lalu dicopot dari jabatan. Sementara yang menyetujui, justru naik pangkat dan duduk di barisan depan saat Maulid.

Hayran:
“Jadi… integritas sejati itu sering tak tampak?”

Abu Chiek:
“Benar. Ia seperti orang yang menyapu halaman sebelum matahari terbit. Tak ada yang melihat, tapi bersihnya terasa. Integritas sejati tak butuh panggung. Ia bicara lewat tindakan, bukan retorika.”

Hayran:
“Lalu bagaimana kita menghadapi mereka yang memalsukan integritas? Yang menjadikan agama sebagai topeng bisnis dan kuasa?”

Abu Chiek tersenyum pahit.

Abu Chiek:
“Pertama, jangan tiru. Kedua, jangan kagum. Ketiga, bersuara kalau bisa. Tapi kalau tak bisa bersuara, tetaplah jadi pembeda—meski diam. Karena diamnya orang jujur lebih bermakna daripada pidato panjang orang munafik.”

Hayran termenung. Ia teringat tokoh-tokoh di kampus dan institusi agamanya yang bicara moral, tapi diam saat rekan mereka menilep dana beasiswa. Ia muak, tapi kadang merasa tak berdaya.

Hayran:
“Kadang aku merasa sia-sia, Abu. Orang jujur malah dijauhi. Yang pintar menjilat, naik jabatan.”

Abu Chiek:
“Begitulah zaman ini. Tapi ingat, Allah tidak berpihak pada yang menang. Allah berpihak pada yang benar. Banyak nabi tidak menang secara politik, tapi mereka menang secara moral.”

Baca Juga  Hati yang Tumbuh, Hati yang Membatu

Hayran:
“Jadi, apa gunanya aku terus jujur, Abu, kalau sistemnya tetap busuk?”

Abu Chiek menepuk bahunya.

Abu Chiek:
“Gunanya, Nak, agar dunia ini tidak sepenuhnya tenggelam dalam kebohongan. Mungkin suara kita kecil, tapi kalau kita diam, maka dusta akan terdengar seperti kebenaran.”

Hayran:
“Jadi… kita harus melawan?”

Abu Chiek:
“Kita harus bertahan. Melawan dengan yang kita bisa: dengan menulis, dengan menolak ikut bermain kotor, dengan membela yang dizalimi. Dan kalau pun tak bisa apa-apa, setidaknya, jangan tunduk pada sistem yang rusak.”

Mereka terdiam. Angin bertiup lebih keras. Daun-daun pohon asam gugur perlahan, seperti hati Hayran yang mulai menumbuhkan keberanian.

Hayran:
“Abu… terima kasih. Aku akan jaga baik-baik akar integritasku. Meski angin datang dari segala arah.”

Abu Chiek:
“Dan ingat, Nak. Dunia mungkin memberi panggung pada yang palsu. Tapi akhirat hanya memberi tempat pada yang tulus.”

Reflektif : Cerita ini bukan sekadar fiksi. Ini cermin. Ia menampar lembut, mengajak pembaca melihat realitas di banyak institusi hari ini, di mana integritas sejati sering sunyi, dan integritas palsu tampil gemerlap.

Tapi kisah ini juga menguatkan: bahwa di tengah arus pencitraan dan kemunafikan, kejujuran tetap mungkin dijaga. Meski sunyi. Meski sendiri.

Cerita ini menggambarkan realitas banyak institusi saat ini, di mana integritas sejati justru terpinggirkan, dan integritas palsu diberi panggung.

Lewat tokoh Hayran dan Abu Chiek, kita diingatkan bahwa integritas bukan soal slogan, tapi soal konsistensi moral meski dalam sunyi dan tanpa sorotan kamera.

Semoga kisah ini menginspirasi pembaca untuk terus menjaga kejujuran, walau jalan itu terasa sunyi dan tak populer.

Share :

Baca Juga

BUDAYA

Langkah yang Tak Pernah Sia-Sia

BUDAYA

Hikayat Malem Diwa: Warisan Cinta dan Keberanian dari Tanah Rencong

RELIGI

Hati yang Tumbuh, Hati yang Membatu

RELIGI

Kematian: Peringatan yang Tak Pernah Ingkar

EDUKASI

Bunga di Balik Air Mata

SASTRA

Suara yang Tak Terucap

BERITA

Hebat, Mahasiswi UIA Ini Raih Penghargaan Sebagai Penulis di Tingkat Nasional

SASTRA

Sunyi yang Sempat Ditemani