Home / SASTRA

Kamis, 24 Agustus 2023 - 14:37 WIB

Jika Aku Tidak Dipedulikan, Mengapa Aku Dilahirkan?

Maisarah, Merupakan Penulis Kreatif cerpenis dan Mahasiswa PBI FKIP Universitas Malikussaleh

Sebuah kisah seorang gadis yang   malang nasibnya, hidup dengan orang tua yang tak memperdulikan dirinya, kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Dialah Hasni, anak pertama dari dua bersaudara, dengan adik-adiknya yang masih sekolah dasar. Hasni yang berumur 17 tahun yang masih duduk di bangku SMA itu  merasa cemburu dengan teman- temanya yang akrab dengan orang tuanya sendiri, bisa dikatakan hasni ini adalah anak broken home.

Setiap hari, Hasni pergi kesekolah tidak di antar oleh orang tuannya, Hasni sering terlambat ke sekolah dikarenakan Hasni harus jalan kaki menuju ke sekolah, sekolahnya yang lumayan  jauh  dari  rumahnya,  pagi  itu  Hasni  nampak  pucat  dan  lemah  ke  sekolah,  teman sebangku Hasni bertanya kepada Hasni.

“Hasni kamu kenapa hari ini kok pucat dan lemas? Kamu sakit ya? Apa kamu belum

makan?”  ujar Tia teman sebangkunya Hasni.

“Ngakk kok Tia, aku baik-baik aja kok” ucap Hasni. “Oh yasudahlah kalo gitu” ucap Tia.

“Kalo Hasni sakit bilang ya, biar Tia antar ke uks” ujar Tia.

“Kringg… kringg… kriingggg…” Bell berbunyi menandakan waktunya pulang.

Keesokan harinya, Hasni tidak hadir kesekolah mereka mengira Hasni sakit karena kemaren

Hasni nampak pucat dan lemah. Hampir satu minggu Hasni tak hadir ke sekolah.

Wali kelas Hasni menayakan kepada teman kelas Hasni kenapa Hasni tidak  masuk sekolah beberpa hari ini.

“Hasni kemana dia kok ngak da kabar beberapa hari ini, akhir-akhir ini dia jarang masuk sekolah, ada

yang tau Hasni kemana?” ujar bu Guru.

“Tidak bu, Hasni ngak kasih kabar, setau Tia kemaren Hasni nampak pucat bu” ujar Tia teman

sebangku Hasni.

“ Oh, baiklah kita tunggu kabar dari Hasni saja” ucap bu Guru.

Dua hari kemudian… Hasni kesekolah, Hasni terlihat  aneh, tapi Hasni tetap tersenyum dan terlihat tegar, teman-teman Hasni bertanya kepada Hasni.

“Hasni, kemana saja akhir-akhir ini kok ngak masuk sekolah? Hasni sakit?”  tanya Tia kawan

sebangku Hasni.

“ Iya tia, hasni demam” ucapnya

“ Kenapa ngak Hasni kasih tau kami, soalnya bu Guru tanyak lo” ucap Tia. Kringg… Kringgg…Kriingg… Bell menadakan jam istirahat.

Tia  mengajak  Hasni untuk  makan  di kantin  sekolah,  tapi Hasni  mencoba  menolak  dengan berbagai alasan, dikarenakan Hasni tidak ada uang, tapi hasni tidak mau temannya itu tau kalau dirinya ngak da uang.

Baca Juga  Hebat, Mahasiswi UIA Ini Raih Penghargaan Sebagai Penulis di Tingkat Nasional

“ yok, Hasni ke kantin yok,” ajak Tia.

“ Ngak dulu Tia, tia duluan aja ya, nanti Hasni nyusul”  ujar Hasni.

“Oh, yaudahlah” ujar Tia.

Tia bingung sudah 20 menit dia duduk dikantin, tapi kok Hasni ngak ke nyusul kekantin juga. Ada apa sebenarnya dengan Hasni. Keesokan harinya, yang mana hari pembayaran SPP sekolah, jika tidak dibayar maka tidak diizinkan untuk ikut ujian naik kelas.

“Tolong segera dilunaskan ya siswa-siswi sekalian” ucap guru yang memungut SPP.

Hasni hanya terdiam merenung, memikirkan uang dari mana untuk dia kumpulkan itu, dia sudah meminta dari ibunya, tapi ibunya bilang untuk simpanan biaya sekolah adik-adiknya karna sudah

3 bulan belum di bayar. Namun Hasni terpikir untuk bekerja setelah pulang sekolah, dia berpikir kerja apa yang bisa dilakukannya. Dia hanya tinggal bersama ibu dan adik-adiknya itu, dan dia tidak tau  kemana  bapaknya sekarang, setelah bercerai dengan ibunya, Semenjak ditinggal pergi oleh bapaknya itu, ibunya Hasni yang mengalami penyakit dalam, untuk pengobatanya membutuhkan biaya yang cukup besar.

“ Bu, Hasni izin ya bu, pulang sekolah Hasni kerja dulu ngak pulang ke rumah dulu”   Ucap

Hasni.

“ Iya, kenapa kamu ngak hubungi Bapakmu itu yang masih punya tanggung jawabnya itu” ucap

ibunya Hasni.

Mendengar perkataan dari ibunya, Hasni langsung mencoba menghubungi bapaknya itu.

Dreett…dreet…

Beberapa kali Hasni mencoba menghubungi bapaknya, tapi bapaknya tidak mengangkat telpon dari anaknya itu. Hasni kecewa dengan keadaan seperti itu. Hasni memutuskan untuk mencari pekerjaan secepatnya tanpa mengharapkan kedua orang tuanya lagi. Hasni sangat sedih dengan keadaan hidupnya yang begitu sulit, makan dirumah aja susah,  ibunya pun kerja buat adik- adiknya  yang  masih  kecil  itu.  Hasni  mencoba  menanyakan  kepada  kawanya  dimana  ada lowongan kerja yang bisa dikerjakan oleh anak sekolah, tapi Hasni malu tidak mungkin Hasni menayakan kepada mereka, nanti pasti mereka bertanya dengan keadaan Hasni sebenarnya Hasni ngak mau teman-temannya itu tau keadaaan Hasni sekarang.

Kemudian Hasni  mencoba  menyakan kepada orang-orang  yang  dia kenal,  kebetulan pas di tempat kerjanya pak safwan itu butuh pekerja yang mana kerjanya itu cetak batu bata, dengan senang hati Hasni mau kerja ditempat itu demi bisa mengumpulkan uang walaupun tak seberapa banyak gajinya, kerja yang lumayan berat bagi Hasni itu apalagi Hasni  cewek, sungguh sedih nasibnya. Itu semua Hasni lakukan demi bisa melanjutkan sekolahnya.

Baca Juga  Bunga di Balik Air Mata

Pulang sekolah Hasni tak langsung pulang rumah, Hasni langsung ke tempat kerja cetak batu-bata, mengingat tak lama lagi batas terakhir pembayaran SPP.

Hasni berpikir mengapa hidupnya berat, tak seperti teman-temanya yang lain, yang hidupnya enak, punya orang tua yang selalu ada di samping mereka kapanpun mereka butuh, butuh apa- apa tinggal diminta. Sedangkan Hasni harus bekerja dulu untuk membeli kebutuhannya. Dikelas Hasni sering menyendiri jarang bergaul dengan teman-teman yang lain, teman  Hasni mengira Hasni punya masalah yang besar dalam hidupnya, tapi Hasni seperti menutup semua itu.

Pagi itu Hasni terburu-buru pergi kesekolah, untuk membayar uang SPP yang sudah terkumpul kiranya cukup untuk SPP sekolahnya.

“ Hasni bagaimana kabarmu?” tanyak Tia.

“Alhamdulillah baik” ucap Hasni. “ kalo kamu?” ujar Hasni.

“ Alhamdulillah baik” ujar Tia.

Tia  sebenarnya  ingin  menanyakan  mengapa  Hasni  berbeda    akhir-akhir  ini  dan    jarang  ke sekolah.  Ada apa dengan Hasni sebernanya. Rasa penasaran dengan Hasni tak terbendung lagi, sabahatnya Tia itu langsung menanyakan.

“Coba cerita Hasni ada apa dengan mu saat ini jujur aja ma Tia” ujar Tia  teman sebangku Hasni”

Dengan mata berkaca-kaca Hasni pun menceritakan kondisi hidupnya   itu. Setelah mendengar apa yang diceritakan Hasni. Tia merasa sedih dengan keadaan Hasni saat ini, Hasni yang terlihat seolah-olah tidak punya banyak masalah.

“Sabar ya. Kamu bisa kok jalanin semua ini” ujar Tia

Tak lama kemudian, handphone Hasni berbunyi.  Drrtt…drrtt…drtt

Hasni panik  tiba-tiba tetangganya itu menelpon dirinya.

“ Hallo, Hasni boleh kamu pulang sebentar nak, ibumu…” ucap tetangganya Hasni. Tak sempat Hasni menanyakan apa yang terjadi, pembicaraan itu langsung terputus, Tiiittt… “Hallo bu, gimna maksud ibu ..” ucap Hasni.

Seingat Hasni tadi pagi sebelum Hasni pergi kesekolah ibunya Hasni sakit, Hasni hanya sempat memberi makan dan obat ibunya, lalu Hasni pamit kesekolah.

Hasni shock berat, apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya itu. Dengan panik Hasni langsung minta izin ke gurunya untuk pulang lebih awal, setelah gurunya mengizinkan Hasni untuk pulang. Hasni langsung mengambil tasnya dengan panik dan buru-buru pulang ke rumah.

Sekian,,,

Samalanga, 24 Agustus, 2023

Reporter : JA | Photo : kartun | Editor : Juni Ahyar

Share :

Baca Juga

SASTRA

Generasi Kami, Kami Setia dan Selalu Ada

BUDAYA

Langkah yang Tak Pernah Sia-Sia

BUDAYA

Hikayat Malem Diwa: Warisan Cinta dan Keberanian dari Tanah Rencong

RELIGI

Hati yang Tumbuh, Hati yang Membatu

RELIGI

Kematian: Peringatan yang Tak Pernah Ingkar

EDUKASI

Bunga di Balik Air Mata

SASTRA

Suara yang Tak Terucap

SASTRA

Obrolan di Bawah Pohon Tua: Integritas Asli vs Integritas Palsu