
Kematian adalah tamu yang pasti,
tak menunggu tua, tak menunggu siap.
Ia mengetuk tanpa janji,
datang tanpa syarat, pulang membawa kisah.
Ada jenazah lewat,
orang-orang memujinya,
Nabi pun bersabda: “Wajib…”
Surga baginya telah digariskan,
oleh saksi-saksi bumi
yang jujur tanpa pamrih.
Lalu jenazah lain diusung,
kata-kata pahit terucap tentang hidupnya,
dan Nabi pun berkata lagi: “Wajib…”
Neraka menjadi ketetapan,
bukan karena lidah semata,
tapi karena hidup yang nyata.
Kematian adalah peringatan paling dalam,
lebih keras dari seribu khutbah.
Ia menguji jejak langkah,
bukan tumpukan amal yang dipamerkan.
Ia menyingkap wajah sejati,
saat tak ada lagi topeng dunia.
Tahan lidahmu dari mencela,
sebab Nabi mengajarkan kita,
“Kenanglah kebaikan mayat di antara kalian,
dan tahanlah dari menjelek-jelekkannya.”
Apa yang akan mereka katakan saat aku pergi?
Apakah doa akan meliputi,
atau aib yang mengiringi?
Wahai jiwa, bersihkanlah niat,
tinggalkan dunia dengan cahaya,
agar ketika namamu disebut,
para saksi bumi berbisik:
“Baiklah ia, semoga surga menyambutnya…”






