Home / EDUKASI / SASTRA

Selasa, 29 Juli 2025 - 22:47 WIB

Bunga di Balik Air Mata

Foto… dan Cerpen Karya Juni Ahyar

Malam menurunkan selimutnya perlahan. Langit tampak seperti kanvas hitam, dihiasi rembulan pucat yang redup di balik awan tipis. Di bawah pohon ketapang tua di sudut taman kota, seorang gadis duduk sendiri. Rambutnya terurai, mata beningnya basah oleh air mata yang menetes perlahan, jatuh ke tanah seolah sedang memberi minum pada bumi yang kering.
Itu bukan pertama kalinya Arga melihat gadis itu menangis. Hampir setiap malam, ketika ia pulang dari pekerjaannya yang sederhana, Arga akan melewati taman ini. Dan hampir setiap malam pula, gadis itu ada di sana—duduk dengan kesepian yang begitu nyata. Ada sesuatu yang membuat Arga ingin menghampiri, entah karena rasa iba, entah karena dirinya juga mengenal rasa sepi itu.
Malam itu, langkah Arga terhenti. Ada keberanian yang ia kumpulkan dari detak jantungnya yang tak beraturan. Dengan hati-hati, ia mendekat.
“Bolehkah aku duduk di sini?” tanya Arga pelan, hampir seperti bisikan angin.
Gadis itu terkejut, menoleh dengan mata basah. “Kamu siapa?”
Arga menunduk sejenak, seolah mencari kata-kata di antara rerumputan. “Aku… hanya orang yang ingin melihatmu tersenyum kembali.”
Ada keheningan yang merekah di antara mereka. Hanya suara dedaunan yang bergoyang, menemani dua jiwa yang sama-sama terluka. Gadis itu mengusap air matanya, tapi wajahnya masih menyimpan kesedihan yang dalam.
“Aku kesepian,” bisiknya, lirih namun penuh makna.
Arga menatapnya, dan di balik sorot mata itu, ada luka yang serupa. “Aku juga,” jawabnya, “Kesepian itu seperti malam, tapi kita selalu punya kesempatan untuk menyalakan lilin, bukan?”
Gadis itu menatap Arga, ada tanya yang menggantung. “Kenapa kamu peduli?”
“Karena aku tahu rasanya hancur,” ucap Arga dengan suara berat. “Walaupun luka hatiku mungkin lebih parah daripada yang kau alami, aku masih ingin… menyembuhkan lukamu. Kadang, kita menemukan bagian diri kita di dalam air mata orang lain.”
Mata gadis itu berkaca-kaca lagi. Ada rasa hangat yang aneh—entah dari kejujuran Arga, entah karena ia tidak lagi sendiri dalam kesepiannya.
“Namamu siapa?” tanyanya.
“Arga.”
“Aku Sinta,” jawab gadis itu, sambil menarik napas panjang, seolah lega setelah menyebutkan namanya.
Kisah yang Terungkap Sinta bercerita. Tentang cinta yang tak lagi kembali. Tentang janji yang berakhir dengan pengkhianatan. Tentang rasa percaya yang runtuh begitu saja. Arga hanya mendengarkan, menahan dirinya untuk tidak memotong kata-kata yang mengalir seperti sungai deras. Ia tahu, kadang yang dibutuhkan seseorang hanyalah telinga untuk mendengar.
“Bukan yang pertama kali aku menangis di sini,” kata Sinta lirih, “Kadang aku berharap seseorang datang, tapi tak pernah ada yang peduli.”
Arga tersenyum tipis. “Mungkin Tuhan baru mengizinkan aku datang malam ini. Untuk jadi temanmu.”
Sinta terdiam. Ia menatap langit malam, seolah mencari jawaban di antara bintang yang jarang muncul. “Apa kamu pernah patah hati?”
Arga tertawa hambar. “Patah hati itu sudah seperti sahabatku. Bahkan aku sering bercanda dengan luka sendiri.”
Sinta ikut tersenyum kecil. Itu senyum pertama yang dilihat Arga malam itu. Hatinya bergetar, bukan karena rasa kasihan, tetapi karena ada harapan yang mulai tumbuh, kecil namun nyata.
Bunga yang Ingin Mekar Arga memetik satu daun yang gugur di dekat kakinya. “Kalau besok aku menanam bunga di sini,” katanya pelan, “Maukah kamu datang untuk melihatnya tumbuh?”
Sinta mengernyit bingung. “Bunga?”
“Ya. Bunga yang tumbuh dari doa dan sabar. Aku ingin, di dalam hatimu, masih ada cinta. Cinta yang akan mekar berjuta warna, berpagar kasih sayang.”
Sinta menatap Arga. Ada sesuatu di tatapan itu—seolah ia sedang menatap seseorang yang berbeda dari dunia yang menyakitinya.
“Kamu aneh,” kata Sinta.
“Mungkin,” jawab Arga. “Tapi kadang orang anehlah yang berani mencintai dengan tulus.”
Kesepian yang Menyatu Malam itu mereka duduk berdua dalam diam. Namun, keheningan bukan lagi milik kesepian, melainkan kehangatan. Arga merasa luka di hatinya perlahan sembuh hanya karena berbagi rasa dengan seseorang yang memahami. Sinta pun demikian.
“Aku tak ingin kamu menangis lagi,” kata Arga pelan.
“Aku tak ingin sendiri lagi,” jawab Sinta, hampir berbisik.
Mereka saling berpandangan, lalu kembali menatap langit. Bulan tampak tersenyum, memberi restu. Di hati mereka, sesuatu tumbuh. Seperti bunga kecil yang mulai mekar, sederhana namun penuh harapan…

Baca Juga  Kodam XII/Tpr Hadirkan Ade Rai, Sosialisasikan Pola Hidup Sehat Kepada Prajurit, Keluarga dan Masyarakat.

 

Malam menurunkan selimutnya perlahan. Langit tampak seperti kanvas hitam, dihiasi rembulan pucat yang redup di balik awan tipis. Di bawah pohon ketapang tua di sudut taman kota, seorang gadis duduk sendiri. Rambutnya terurai, mata beningnya basah oleh air mata yang menetes perlahan, jatuh ke tanah seolah sedang memberi minum pada bumi yang kering.

Itu bukan pertama kalinya Arga melihat gadis itu menangis. Hampir setiap malam, ketika ia pulang dari pekerjaannya yang sederhana, Arga akan melewati taman ini. Dan hampir setiap malam pula, gadis itu ada di sana—duduk dengan kesepian yang begitu nyata. Ada sesuatu yang membuat Arga ingin menghampiri, entah karena rasa iba, entah karena dirinya juga mengenal rasa sepi itu.

Malam itu, langkah Arga terhenti. Ada keberanian yang ia kumpulkan dari detak jantungnya yang tak beraturan. Dengan hati-hati, ia mendekat.

“Bolehkah aku duduk di sini?” tanya Arga pelan, hampir seperti bisikan angin.

Gadis itu terkejut, menoleh dengan mata basah. “Kamu siapa?”

Arga menunduk sejenak, seolah mencari kata-kata di antara rerumputan. “Aku… hanya orang yang ingin melihatmu tersenyum kembali.”

Ada keheningan yang merekah di antara mereka. Hanya suara dedaunan yang bergoyang, menemani dua jiwa yang sama-sama terluka. Gadis itu mengusap air matanya, tapi wajahnya masih menyimpan kesedihan yang dalam.

“Aku kesepian,” bisiknya, lirih namun penuh makna.

Arga menatapnya, dan di balik sorot mata itu, ada luka yang serupa. “Aku juga,” jawabnya, “Kesepian itu seperti malam, tapi kita selalu punya kesempatan untuk menyalakan lilin, bukan?”

Baca Juga  Melukis Harap Kemerdekaan

Gadis itu menatap Arga, ada tanya yang menggantung. “Kenapa kamu peduli?”

“Karena aku tahu rasanya hancur,” ucap Arga dengan suara berat. “Walaupun luka hatiku mungkin lebih parah daripada yang kau alami, aku masih ingin… menyembuhkan lukamu. Kadang, kita menemukan bagian diri kita di dalam air mata orang lain.”

Mata gadis itu berkaca-kaca lagi. Ada rasa hangat yang aneh—entah dari kejujuran Arga, entah karena ia tidak lagi sendiri dalam kesepiannya.

“Namamu siapa?” tanyanya.

“Arga.”

“Aku Sinta,” jawab gadis itu, sambil menarik napas panjang, seolah lega setelah menyebutkan namanya.

Kisah yang Terungkap Sinta bercerita. Tentang cinta yang tak lagi kembali. Tentang janji yang berakhir dengan pengkhianatan. Tentang rasa percaya yang runtuh begitu saja. Arga hanya mendengarkan, menahan dirinya untuk tidak memotong kata-kata yang mengalir seperti sungai deras. Ia tahu, kadang yang dibutuhkan seseorang hanyalah telinga untuk mendengar.

“Bukan yang pertama kali aku menangis di sini,” kata Sinta lirih, “Kadang aku berharap seseorang datang, tapi tak pernah ada yang peduli.”

Arga tersenyum tipis. “Mungkin Tuhan baru mengizinkan aku datang malam ini. Untuk jadi temanmu.”

Sinta terdiam. Ia menatap langit malam, seolah mencari jawaban di antara bintang yang jarang muncul. “Apa kamu pernah patah hati?”

Arga tertawa hambar. “Patah hati itu sudah seperti sahabatku. Bahkan aku sering bercanda dengan luka sendiri.”

Sinta ikut tersenyum kecil. Itu senyum pertama yang dilihat Arga malam itu. Hatinya bergetar, bukan karena rasa kasihan, tetapi karena ada harapan yang mulai tumbuh, kecil namun nyata.

Bunga yang Ingin Mekar Arga memetik satu daun yang gugur di dekat kakinya. “Kalau besok aku menanam bunga di sini,” katanya pelan, “Maukah kamu datang untuk melihatnya tumbuh?”

Sinta mengernyit bingung. “Bunga?”

“Ya. Bunga yang tumbuh dari doa dan sabar. Aku ingin, di dalam hatimu, masih ada cinta. Cinta yang akan mekar berjuta warna, berpagar kasih sayang.”

Sinta menatap Arga. Ada sesuatu di tatapan itu—seolah ia sedang menatap seseorang yang berbeda dari dunia yang menyakitinya.

“Kamu aneh,” kata Sinta.

“Mungkin,” jawab Arga. “Tapi kadang orang anehlah yang berani mencintai dengan tulus.”

Kesepian yang Menyatu Malam itu mereka duduk berdua dalam diam. Namun, keheningan bukan lagi milik kesepian, melainkan kehangatan. Arga merasa luka di hatinya perlahan sembuh hanya karena berbagi rasa dengan seseorang yang memahami. Sinta pun demikian.

“Aku tak ingin kamu menangis lagi,” kata Arga pelan.

“Aku tak ingin sendiri lagi,” jawab Sinta, hampir berbisik.

Mereka saling berpandangan, lalu kembali menatap langit. Bulan tampak tersenyum, memberi restu. Di hati mereka, sesuatu tumbuh. Seperti bunga kecil yang mulai mekar, sederhana namun penuh harapan…

Share :

Baca Juga

BERITA

UIA Jadi Mitra Kampus Swasta Pertama dalam Program Pendidikan BI Lhokseumawe

BERITA

Talkshow COMFEST 2026 Unimal Soroti Potensi Lokal sebagai Kekuatan Koneksi Global

EDUKASI

UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Raih Predikat Akreditasi Unggul dari BAN-PT

EDUKASI

Pendidik: Antara Orator Kedisiplinan dan Teladan Kehidupan

BERITA

Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Lantik 16 Pejabat Baru

BERITA

Emsen 6 Fest Jadi Ajang Silaturahmi dan Pengembangan Bakat Siswa di Aceh Utara

EDUKASI

MPU Aceh Utara Rilis Standar Zakat Fitrah 1447 H

BERITA

Bank Muamalat Bantu Mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah Terdampak Banjir