Oleh: Dr. Bukhari.M.H.CM [Penulis adalah konsultan hukum sekaligus akademisi UIN Sultanah Nahrasiyah]
MEDIALITERASI.ID | Pagi ini saya duduk di sudut sebuah warung kopi sederhana, ditemani segelas kopi hitam panas dan sepiring gorengan: donat gula, pastel, dan pisang goreng. Di balik kesederhanaan ini, saya menemukan filosofi kehidupan yang dalam.
Kopi hitam di depan saya tidak semanis kopi-kopi modern berlabel fancy. Ia pahit, pekat, dan apa adanya. Tapi justru dari kepahitannya kita belajar kejujuran. Hidup tidak selalu manis. Ada getir yang harus dinikmati agar kita tahu makna rasa syukur. Di setiap seruput kopi, ada jeda untuk berpikir, menenangkan hati, dan menyusun langkah.
Sementara itu, gorengan di atas piring seakan mewakili sisi lain dari hidup: ringan, hangat, dan penuh kenangan. Siapa dari kita yang tidak pernah mencicipi gorengan di waktu istirahat sekolah, saat menunggu hujan reda, atau sekadar mengisi perut sebelum makan besar? Gorengan adalah simbol keakraban. Ia menyatukan obrolan, mencairkan suasana, bahkan menjadi jembatan silaturahmi antarbangsa—ya, karena di setiap pelosok negeri, gorengan selalu ada, meski dengan nama berbeda.
Warung kopi ini pun adalah panggung kecil bagi kehidupan sosial masyarakat. Di sana ada mahasiswa berdiskusi, pedagang melepas lelah, dan karyawan berbagi cerita. Semua duduk setara. Tak ada kasta, hanya cerita.
Pagi ini saya sadar, kadang kita terlalu sibuk mengejar yang besar, padahal kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana: secangkir kopi dan sepiring gorengan.







