![]()
Oleh :
Kanda Dr. T.M. Jamil TA, M.Si
Pengamat Sosial, USK, Banda Aceh.
BAGI SAYA PRIBADI, biasanya, tujuan seseorang menulis itu adalah “mengabadikan” momen yang telah atau sedang terjadi. Sehingga bisa dibaca di waktu lain. Jadi saat kangen momen itu, tinggal buka dan baca lagi tulisan itu. Mungkin itulah awal mula yang saya lakukan dulu, terutama ketika hidupku saat itu penuh dengan romantika, baik yang menyedihkan maupun yang menyenangkan.
Rasanya hati ini sangat lega dan bahagia jika bisa menuliskan dengan baik tentang apa saja yang telah terjadi dalam kehidupanku, sehingga saya bisa seperti ini. Terimakasih Ya Allah…, Alhamdulillah, semua itu terjadi atas anugerah dan izin-MU. Amien.
Awal saya suka sama dunia literasi itu saat masih SMP. Sebenarnya, dari SD sudah suka nulis di buku ‘Diary’. Baru kemudian di tingkat SMP berani nulis-nulis cerpen. Dikirim ke media? Nothing, at all. Alasannya, saya tak percaya diri. Tapi, tulisan saya cukup disukai teman-teman di kelas pada waktu itu, terutama teman-teman yang sering ditolak cintanya. Karena cuma mereka target pembaca saya pada waktu itu.
Ada satu kalimat saya waktu itu yang disukai oleh teman-teman, yaitu : “Meski Pernah Terluka, Jangan Takut Untuk Kembali Jatuh Cinta. Sakit Hati Hanya Bisa Diobati Oleh Jatuh Hati Lagi”. Menarik bukan ?
Mereka mengapresiasi tulisan saya dengan meminta saya menulis lagi. Anak-anak SMP itu kan sedang beranjak puber, makanya tema yang di request itu tak pernah jauh dari “cinta-cinta ala monyet”. Saya lupa berapa cerpen yang udah saya tulis saat itu karena bekasnya pun udah tak kelihatan wujudnya karena di makan zaman. Ya, Zaman saya SMP kan, komputer masih belum ada. saya menulis cerpen bermodalkan kertas HVS atau Buku tulis berisi hanya 12 lembar.
Maklum saya tak punya uang untuk membeli buku yang baik dan mewah. Kini, kemajuan teknologi sebenarnya bisa kita manfaatkan. Menulis, bisa dilakukan dimana dan kapan aja. Malah lagi ngopi santai di warkop pun saya sering menulis saat ini. Ya karena saya tak punya tempat yang “mewah” untuk duduk enjoy menulis.
Kalau dulu cuma ada mesin tik yang bunyinya TIK, TIK, TIK dan kadang bikin gatal kuping yang mendengarnya dan bahkan tetangga juga sering tak pernah bisa tidur nyenyak, karena gangguan suara mesin ketik saya. Sekarang, kita bisa mulai menulis hanya dengan menslide gadget dalam genggaman. Mudah dan asyik juga kan.
Lagi pula saat ini Ada banyak fitur yang bisa kita manfaatkan untuk menulis. Mau yang gratisan, ada, Atau kalau mau gengsi sedikit, pakai yang berbayar pun ada. Silakan dipilih sesuai kebutuhan aja. Tapi kalau saya pribadi, ngapain harus berbayar, jika masih ada yang gratis? Ya kan?
Menulis Dan Jadi Penulis. Perbedaan antara menulis dan menjadi penulis itu… Menulis bisa dilakukan sendiri. Kapan saja, semaunya. Menjadi Penulis itu tidak bisa dilakukan sendiri. Kenapa? Karena untuk menjadi penulis yang baik kita membutuhkan orang lain atau orang-orang yang kita cintai, untuk mengomentari atau mengkritik tulisan kita.
Bukankah kalau mengkritik karya orang lain, semua kita pasti bisa, termasuk Anda Juga kan?. Mereka adalah orang yang mau membaca karya yang kita buat atau Orang yang mau menerbitkan karya kita. Selayaknya kita mengucapkan terima kasih kepadanya. Tanpa mereka mungkin tulisan kita hampa dan tanpa makna.
Harapan kita, pada akhirnya, ada orang yang mau mengapresiasi karya kita hingga nantinya orang tersebut menjadi penggemar dan bahkan mencintai kita dan karya-karya kita.
Ingatlah, Untuk jadi penulis, harus punya kebiasaan untuk selalu menulis dan siap untuk menerima ocehan, kritikan dan bahkan kadangkala kita menerima cacian dan makian. Tidak bisa semaunya kita dalam menulis. Bahkan jika perlu pakai schedule untuk menata ide-ide kita yang layak untuk ditulis. Ya, bergaya seperti penulis top lah …!!!
Untuk bisa menjadi penulis, yang harus dilakukan… Cinta… kita harus suka dulu sama menulis. Hhhmmm… dengan memiliki rasa suka dan cinta pada dunia menulis, kita akan mudah menulis apapun. Karena yang kita lakukan itu bukan sebuah beban. Jadi, menulis harus kita jadikan passion dulu.
Baca …Baca …Baca … Ini penting, lho…. Ibarat air di dalam teko. Membaca adalah airnya. Jika kita tak pernah punya minat baca, apa yang mau ditulis?. Bahkan, menulis status aja perlu baca kok. Baca status orang, kita akan menemukan ide buat menulis. Baca koran, majalah, bahkan baca postingan orang di blog saja, kepikiran dech buat kita belajar untuk menulis. Apapun yang kita baca, ini bisa jadi sumber dan bahan tulisan yang menarik bagi siapapun. Lebih-lebih bagi orang yang suka membaca, tapi tak mampu menulis.
Komunitas. Bergabung dengan komunitas atau forum penulis, bisa jadi “bahan bakar” juga buat menggairahkan semangat kita dalam menulis. Di dalam komunitas biasanya para anggotanya saling menyemangati buat menulis. Bahkan saling share lomba-lomba menulis yang bisa diikutin. Ada banyak komunitas menulis formal dan diakui di Indonesia. Salah satu dan yang terbesar di Indonesia adalah Sebut saja, Helvy Tiana Rossa, Asma Nadia, Gol A Gong, Habbiburahman El Shirazy, Afifah Afra, Ali Muakhir, dan bejibun famous writer lahir dari Forum yang memiliki cabang sampai ke berbagai belahan dunia, juga kadang-kadang masuk ke dalam kamar tempat tidurmu informasi itu.
Menjadi seorang penulis itu butuh kerja keras. Tak bisalah, tiba-tiba kita menerbitkan buku dan meledak di pasaran. Ada proses yang harus dijalani dan harus sabar. It’s important. Sabar kalau naskah atau karya kita ditolak. Banyak kisah penulis terkenal yang kita anggap sekarang mereka sukses, memiliki pengalaman ditolak penerbit, bahkan sampai belasan kali. Tapi mereka tidak pernah menyerah, terus berusaha untuk menjadi yang terbaik.
Begitu juga saat kita masih mahasiswa, ikut ujian gagal, mengajukan judul skripsi, tesis atau disertasi ditolak, itu sudah merupakan hal biasa dan wajar-wajar saja. Jika kita sadar bahwa untuk meraih impian dan mencapai sukses selalu membutuhkan usaha, kerja keras, tidak mudah putus asa, serius dan yang paling penting adalah memiliki sikap, etika dan sifat sabar dalam jiwa dan hati. Dunia ini tidak akan kiamat kok, gara-gara kita gagal mengikuti ujian, dan judul proposal penelitian kita ditolak. Begitulah kata kakek saya dulu, saat saya curhat padanya. Hhhmmmm…!!!
Kenapa Kita Harus Menulis? Jika kita tidak ingin menjadi seorang penulis, tapi suka menulis, maka teruslah menulis walau hanya di blog seperti saya ini. Dengan catatan, tulislah sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Hingga, kita akan dikenal walau hanya di dunia tak pernah nyata. Jika berminat menjadi penulis, maka teruslah mengasah diri. Mengikuti berbagai event menulis, jadi salah satu cara agar kemampuan menulis semakin tajam. Kalah? Jangan pernah putus asa. Lanjutkan untuk menulis lagi.
Karena, kalah itu cuma menang yang tertunda, kata adik saya dulu, saat-saat saya mengeluh padanya. Adik saya selalu bilang begini, “Abang tidak lulus, bukan bodoh kok, hanya abang belum bisa menjawab soal seperti yang diinginkan guru. Jadi Abang bukan gagal, cuma belum ada Nilai…
Ya, juga kalau saya pikir-pikir pada saat ini. Ternyata adik saya itu Cerdas. Tugas kita kan sebagai pelajar, hanya belajar, menyelesaikan tugas-tugas dan ujian. Nah, kalau hasil ujian kita gagal? Belajar, belajar dan Ujian Lagi… Gampang kan? Gitu aja, kok repot! Kata Almarhum Gus Dur.
Bagi saya pribadi, menulis sejatinya adalah merapikan sebuah kenangan indah yang tersisa. Bayangkan, jika kita tidak menulis, mungkin kenangan itu akan hilang dimakan masa. Nah, untuk itu menulislah… Jika kita kelak sudah berpindah dunia, maka tulisan kita yang akan jadi kenangan indah dan menyejukkan bagi anak cucu kita nantinya. Hingga mereka bisa tahu bahwa ayah, ibu, kakek dan nenek mereka pernah menulis dan meninggalkan kenangan.
Dan, ketika mereka rindu dengan kita, mereka dengan mudah bisa membaca kembali tulisan kita. Semoga tulisan kita juga akan menjadikan sebagai amal jariyah dan dibalas dengan Surga oleh Allah Swt. Amin, Ya Rabbal ‘Alamin. (Salam Ukhwah dan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Semoga Kita Mencapai Derajat “Muttaqin”).
Serambi Mekkah, 19 Ramadhan 1444-H.







