MEDIALITERASI.ID | KUDUS — Di tengah hiruk pikuk penghargaan dan popularitas, seorang ulama di Kudus memilih hidup sederhana. Siang bekerja sebagai tukang bangunan, malam hari mengkaji dan menulis kitab. Karyanya justru menjadi rujukan ulama lintas negara.
Ia dikenal warga dengan nama Mbah Riyan Al-Mastur. Dulu teman-temannya memanggilnya Supri. Namun lewat karya tulisnya, namanya dikenal luas sebagai Ibnu Harjo Al-Jawi.
Mbah Riyan sehari-hari berpenampilan layaknya kuli bangunan. Namun di sela rutinitas itu, ia meneliti kitab-kitab klasik yang rumit, melakukan koreksi, hingga menelusuri jejak naskah-naskah tua. Dedikasi tersebut melahirkan sejumlah kitab yang kini dipakai sebagai rujukan di berbagai negara.
“Beliau memang begitu. Hidupnya sangat sederhana. Kerjanya bangunan, tapi ilmunya luar biasa. Kitab-kitabnya dibaca sampai ke luar negeri,” kata salah satu warga Kudus, Sabtu (2/8/2026).
Tolak Penghargaan MUI Award 2026
Pengakuan atas karya Mbah Riyan datang dari Majelis Ulama Indonesia. Pada 2026 ini ia ditetapkan sebagai salah satu penerima MUI Award.
Namun yang mengejutkan, ia memilih tidak menghadiri acara penyerahan penghargaan tersebut.
Menurut orang terdekatnya, keputusan itu diambil agar tidak terlena oleh sanjungan. Ia khawatir popularitas justru membuatnya menjauh dari prinsip hidup membumi yang selama ini dijaga.
“Di tengah dunia yang gila hormat dan popularitas, beliau memilih menjaga jarak agar tetap waras,” ujar sumber yang mengenal dekat Mbah Riyan.
Simbol Ulama yang Membumi
Kisah Mbah Riyan menjadi pengingat bahwa keilmuan tidak harus lahir dari kemewahan. Dari balik helm proyek dan cetok tukang, lahir pemikiran yang dibaca lintas batas.
Bagi masyarakat Kudus, ia adalah bukti bahwa kerja keras dan ketekunan menuntut ilmu bisa berjalan beriringan, tanpa harus meninggalkan kesederhanaan.
Hingga kini Mbah Riyan tetap menolak tampil ke publik dan memilih fokus pada kajian serta penulisan kitab.(Red/Sam)







