Home / RELIGI

Senin, 17 April 2023 - 16:03 WIB

RAMADHAN TINGGAL DALAM HITUNGAN JARI 

Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si
Akademisi, USK, Banda Aceh.

INILAH RAMADHAN KITA, Terkesan Sepi Akan Makna Rohani. Hari Raya pun tak ubahnya dengan pesta hura-hura, menghambur-hamburkan uang, atau sekedar unjuk kehebatan dan unjuk kekayaan pada sanak saudara di kampung. Kita terseret pada arus materialisme, berkutat hanya pada uang, pakaian, dan makanan dalam memaknai hari raya. Hari raya tak lagi menyentuh hakikat yang sesungguhnya – seharusnya perayaan bagi para pemenang sejati yang telah berlomba-lomba menuai kebaikan selama sebulan Ramadhan.

Ramadhan Sebentar Lagi Akan Meninggalkan Kita. Masih ada sedikit lagi waktu untuk berbuat yang terbaik untuk Ramadhan kita kali ini. Bahkan, di akhir Ramadhan inilah saat yang terbaik bagi kita untuk meraih banyak kebaikan. Tidak perlu lagi berandai-andai bisa bertemu Ramadhan di tahun yang akan datang. Jangan biarkan pikiran kita dihinggapi oleh kemungkinan-kemungkinan akan masa depan yang tak pernah bisa pasti. Kita harus berpikir realistis, bahwa pada hari ini kita masih hidup, dan kita masih mampu berbuat sesuatu, sehingga kita bisa memanfaatkan waktu yang masih kita miliki dan diberikan oleh Allah Yang Maha Mencintai dengan sebaik-baiknya. Berangan-angan, mengharapkan masa depan hadir pada kita, justru menjadikan kita selalu menunda-nunda untuk berbuat amal kebaikan. Sungguh rugi jika itu telah tertanam dalam hati kita. Mari kita singkirkan cara berpikir seperti itu. Ya Allah, Berikan kami kesempatan dan umur yang panjang dan berkah untuk terus berbuat baik dan mengabdi kepadaMu…

Di waktu yang masih tersisa ini, jangan biarkan kita larut dalam gegap gempita malam hanya menghabiskan waktu di Warkop atau Cafe-Cafe Mantereng penuh remang-remang dan kita sibuk juga hanya dengan persiapan hari raya. Haruskah kita menyesal, tidak memanfaatkan Ramadhan kali ini dengan perjuangan ibadah yang terbaik?. Haruskah kita memaki diri sendiri karena lalai dan terbuai oleh harapan-harapan kosong akan bertemu Ramadhan tahun depan?. Haruskah kelak kita menangis, kehilangan masa-masa yang penuh berkah dan rahmat seperti Ramadhan kali ini?.

Kesempatan memang terkadang muncul berkali-kali, namun tidak semua dari kita memiliki keberuntungan seperti itu. Kita seharusnya merenung, sudah berapa kalikah kita bertemu Ramadhan, dan telah untuk kesekian kalinyakah kita kembali menyia-nyiakannya. Jika telah terjadi kesekian kali penyia-nyian ini, lalu mengapa harus terulangi lagi pada saat ini? Saudaraku, Marilah Kita Merenung Sejenak!

Baca Juga  Polda Aceh Kurbankan 46 Ekor Sapi-Kambing, Daging Dibagikan ke Warga dan Pesantren

Tinggal Dalam Hitungan Jari Kita Akan Berjumpa Hari Raya Idul Fitri. Hari Raya Yang Justru Menjadikan Kita Diliputi Perasaan Was-Was, Berapa Lagi Korban Jiwa Yang Akan Berjatuhan. Dikala kita tersenyum akan bertemu kemenangan, namun ada di antara kita yang harus menangis karena anggota keluarganya direnggut nyawanya oleh malaikat maut dijalanan. Na’uzubillahi Min Zhalik. Pada saat kita seharusnya berebut pahala di akhir Ramadhan yang mulia, namun ada di antara saudara-sauadara kita yang sibuk berebut tiket di terminal bus, Bandara, pelabuhan ataupun stasiun kereta api.

Bahkan, Ada Pada Sebagian Saudara Kita Yang Harus Berdesak-Desakan Hanya Untuk Antri Berebut Zakat Dan pembagian Sedekah. Setiap tahunnya, ratusan nyawa hilang sebelum dan sesudah perayaan hari raya. Korban bergelimpangan, darah bercucuran bukan karena gugur di medan jihad, namun terenggut oleh area maut yang bernama jalan raya. Disisi lain, ada pula yang meninggal karena berdesak-desakan untuk berebut zakat dan sedekah. Subhanallah …

Mereka berdesak-desakan, berusaha meraih zakat sesegera mungkin. Takut, jika dihari raya perut-perut mereka kelaparan. Ada pula yang harus rela terkapar di rumah sakit, diserang penyakit-penyakit kronis. Balas dendam, setelah sebulan berpuasa, sehingga menyantap segala hidangan yang terasa nikmat. Inilah makna hari raya kita, sampai kapan hari raya kita akan selalu hadir seperti ini? Wallahu ‘Aklam.

Ritual, Itulah Yang Mungkin Menjadikan Kita Tak Pernah Fokus Pada Ramadhan Kita. Ritual hari raya yang unik, yang memang menjadi ciri khas negara kita tercinta ini. Kita patut berbangga, karena ritual itu hanya negara kita yang punya. Namun, sebatas apa kita harus berbangga pada ritual yang unik tersebut, dikala pada saat yang sama, kita harus kehilangan makna Ramadhan yang sesungguhnya?

Mengapa justru dikala Ramadhan, tetap terjadi banyak korupsi uang negara, perampokan, saling menghujat, merasa diri saja yang suci, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Inikah tanda-tanda hilangnya keberkahan Ramadhan di negara kita tercinta ini. Berulang kali bangsa ini menyambut Ramadhan, namun berulang kali pula korupsi, perzinaan, baik orang muda, maupun orang tua, dan kriminalitas terjadi di negara ini? Jumlahnya pun selalu meningkat dari tahun ke tahun. Aksi pembunuhan dan perampokan dilakukan dengan semakin sadis, kasus pornografi serta prostitusi tak juga pernah berujung usai. Entahlah…

Baca Juga  Tiga Bulan Pascabanjir, Hunian Sementara di Pante Labu Belum Dapat Ditempati

Kapankah Kita Bisa Beribadah, Tidak Lagi Terpaksa, Tetapi Merupakan Suatu Kebutuhan? Patutlah kita bersedih hati, sebab Ramadhan seakan-akan tak pernah lagi meninggalkan jejak kebaikan dalam diri kita. Ramadhan seolah bulan tanpa makna, tiada yang spesial, sehingga kita tidak memperlakukannya dengan istimewa. Bukankah Ramadhan itu sebagai tamu agung kita. PADAHAL, Allah SWT telah memberi keistimewaan pada bulan Ramadhan, agar kita bersemangat dalam mengakselerasi derajat ketakwaan kita. Anugerah yang besar ini, tentu tak patut untuk disia-siakan. Karena kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Kita seharusnya merasa seperti orang yang kelaparan, bersemangat dalam menyantap hidangan pahala yang Allah sajikan di bulan yang penuh berkah ini. Atau, kita seharusnya beraksi sebagaimana halnya pendaki gunung. Bersemangat untuk merengkuh puncak. Sebab, puncak gunung menyajikan panorama alam yang teramat mempesona. Lelah, tetesan keringat, dan hawa dingin tiada lagi peduli. Godaan untuk menyerah pun terabaikan. Semangat terus berkobar demi meraih puncak. Begitulah seharusnya sikap dan jiwa pejuang untuk meraih Ridha Allah. Jangan Sampai Menyesal Ketika Kelak Allah Swt Memanggil Kita Untuk Menghadap-Nya.

Memang, Akan selalu ada orang-orang yang lemah dan putus asa dalam setiap pendakian. Hanya mereka yang memiliki tekad yang kuat, yang mampu menggapai puncak. Ketika telah mencapai puncak, maka lelah yang menggerogoti pun hilang seketika. Puncak Ramadhan, tentulah hari raya. Setelah lelah selama kita beribadah pada bulan Ramadhan, kita pun akhirnya merasakan kebahagiaan pada perayaan hari raya, perayaan bagi pendaki-pendaki sejati.

Kita pun ingin kembali merasakan semangat ibadah yang berkobar. Ingin mengulangi moment itu lagi, karena ibadah kini bukan lagi suatu paksaan, akan tetapi telah menjadi suatu kenikmatan dan Kebutuhan. Oleh karenanya, di waktu yang masih tersisa ini, kita masih bisa memberikan yang terbaik untuk Ramadhan kita kali ini. Semoga Kita Menjadi Insan Yang Bergelar Muttaqin. Sebuah Gelar Yang Dianugerahkan Allah Swt Untuk Hamba-Nya Yang Taat. Insya Allah. Amin3x, Yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahua ‘Aklam.

Kota Gemilang, 25 Ramadhan 1444-H.

Share :

Baca Juga

RELIGI

Maulid Nabi di Kuta Makmur Jadi Ajang Pererat Silaturahmi dan Kepedulian Sosial

OPINI

“Jangan Jual Aqidah Demi Nafkah”: Ajaran Agama Kita Ingatkan Pentingnya Memilih Pekerjaan Halal

ACEH

Peringati 21 Tahun Damai Aceh, BMA Ajak Warga Jaga Persaudaraan dan Perkuat Kepedulian Sosial

ACEH

Peringati 21 Tahun Damai Aceh, Bupati Aceh Timur Ajak Warga Doa Bersama dan Jaga Perdamaian untuk Anak Cucu

ACEH

Oknum Polisi di Banda Aceh Divonis 20 Bulan Penjara Kasus Ikhtilat

ACEH

Baitul Mal Aceh Timur Buka Bantuan Zakat untuk Guru Dayah dan Santri, Pendaftaran 11-18 Agustus

BERANDA

Artikel Opini “Ya’juj Ma’juj Fans Club” Viral, Soroti Dukungan Publik terhadap Trump dan Netanyahu

ACEH

Baitul Mal Aceh Monev Langsung 22 Daerah, Tegaskan Transparansi Dana ZIWAH Harus Sampai ke Mustahik