MEDIALITERASI.ID | JAKARTA — Sebuah tulisan opini berjudul “Ya’juj Ma’juj Fans Club” karya The Argumentator viral di media sosial pada pekan ini. Tulisan tersebut menyoroti dinamika dukungan publik global terhadap dua tokoh dunia, Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, dengan mengaitkannya pada narasi akhir zaman.
Dalam tulisannya, penulis menggunakan istilah “Ya’juj dan Ma’juj” dari kitab-kitab agama untuk menggambarkan perilaku perusakan di muka bumi. Ia kemudian menyamakan karakteristik tersebut dengan kebijakan dua pemimpin dunia saat ini.
“Satu orang rambutnya seperti jagung yang tersengat listrik, dasinya merah, hobinya membangun tembok untuk mengusir orang miskin dan membongkar perjanjian iklim… Satu lagi orangnya kelihatan kalem pakai jas, dasi biru, tapi setiap senyumnya ada satu kampung yang hilang dari peta,” tulis penulis merujuk pada Trump dan Netanyahu.
Soroti “Tribun Pendukung”
Bagian utama opini ini menyoroti tiga kelompok yang disebut penulis sebagai “tribun pendukung”.
Pertama, sebagian umat Islam yang menurut penulis tetap mendukung meski retorikanya bertentangan dengan ajaran. “Dalilnya dicari-cari: ‘Ini kan demi stabilitas’, ‘Ini kan demi melawan Iran’, ‘Ini kan demi ekonomi umat’,” tulisnya.
Kedua, kelompok Nasrani yang disebut penulis mengalami kebingungan antara ajaran kasih dan politik luar negeri negaranya.
Ketiga, kelompok liberal, ateis, dan agnostik yang dinilai penulis inkonsisten dalam menyikapi isu kemanusiaan. “Katanya, ‘Konfliknya kompleks, tidak bisa hitam putih’. Padahal yang kompleks itu otaknya, bukan faktanya,” tulis penulis.
Klaim Garis Perlawanan
Penulis menempatkan dirinya pada “barisan penentang” yang ia sebut sebagai “kaum kiri, anti-Barat, anti-imperialisme dan kolonialisme”. Ia menyatakan kelompok ini hadir di Indonesia, Malaysia, dan Asia Tenggara.
“Sejarah akan mencatat dua barisan saja. Barisan pendukung Ya’juj dan Ma’juj, dan barisan penentangnya. Tidak ada posisi abu-abu,” demikian penutup tulisan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak-pihak yang disebut dalam opini tersebut. (Red/Sam)
Catatan Redaksi
Artikel “Ya’juj Ma’juj Fans Club” merupakan opini pribadi penulis. Isi, pandangan, dan istilah yang digunakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Media ini memuat tulisan tersebut sebagai bagian dari ruang diskusi publik dan tidak serta merta sependapat dengan seluruh isi di dalamnya.
Para pengamat komunikasi politik menilai, penggunaan simbol-simbol keagamaan dalam diskursus politik saat ini kerap memicu polarisasi. Mereka mengingatkan publik untuk menyaring informasi dan membedakan antara fakta pemberitaan dengan pandangan opini.







