MEDIALITERASI.ID | JAKARTA – Kemenangan 9-2 Timnas Indonesia atas Bangladesh tadi malam bukan sekadar pesta gol, tapi pelajaran tentang regulasi turnamen.
Banyak netizen bertanya: “Kenapa sudah unggul 7-2 masih harus menyerang?”
Jawabannya: Sistem klasemen FIFA ASEAN Cup.
Di Grup A, Indonesia dan Malaysia sama-sama punya 4 poin sebelum laga terakhir. Regulasi menyebutkan, jika poin sama, penentu adalah selisih gol dan produktivitas gol.
Sebelum kick-off:
– Malaysia: Selisih +3
– Indonesia: Selisih +2
Ketika Malaysia unggul 6-0 atas Singapura di menit 90+2, selisih mereka menjadi +9. Indonesia yang saat itu masih 7-2 (selisih +7) belum lolos.
Indonesia butuh minimal 2 gol lagi di injury time untuk menyalip. Dan itulah yang dilakukan Kevin Diks (90+6′) dan Mitchell Baker (90+7′).
Ini mengajarkan literasi bahwa dalam sepak bola modern, setiap gol berharga hingga peluit akhir.
FIFA ASEAN Cup 2026 sendiri adalah turnamen resmi FIFA (21 Sept – 6 Okt 2026), berbeda dengan Piala AFF biasa. Karena masuk kalender FIFA, klub wajib lepas pemain abroad — makanya skuad Garuda bisa full team. (*)







