MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – Pengamat politik dan akademisi Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. TM. Jamil, menilai pergantian Kapolda Aceh merupakan momentum strategis untuk memperkuat stabilitas keamanan, profesionalisme, dan integritas kepolisian di Aceh.
Menurut Prof Jamil, Brigjen Pol Dedy Tabrani merupakan figur yang layak memimpin Polda Aceh karena memiliki kombinasi pengalaman nasional dan kedekatan dengan masyarakat Aceh sebagai putra daerah.
“Aceh membutuhkan Kapolda yang memiliki akar lokal yang kuat sekaligus pengalaman nasional yang luas. Figur seperti Brigjen Dedy memenuhi kriteria tersebut,” kata Jamil di Banda Aceh.
Ia menjelaskan, pengalaman Brigjen Dedy bertugas di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa, menjadi modal penting dalam memahami beragam dinamika sosial dan budaya. Di sisi lain, latar belakangnya sebagai putra Aceh dinilai dapat memperkuat legitimasi serta kepercayaan masyarakat.
“Pengalaman lintas daerah membekali beliau dengan kemampuan memahami dinamika sosial-budaya yang berbeda, sementara akar Acehnya membangun legitimasi dan kepercayaan masyarakat. Kombinasi ini jarang ditemui,” ujarnya.
TM Jamil menegaskan bahwa profesionalisme dan integritas merupakan syarat utama bagi seorang Kapolda. Menurutnya, dukungan dari Pemerintah Aceh dan pimpinan Polri akan menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan penegakan hukum di daerah.
“Sinergi antara pemerintah daerah dan institusi kepolisian sangat menentukan keberhasilan Kapolda dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan keadilan di Aceh,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Jamil juga menyampaikan apresiasi kepada Kapolda Aceh saat ini, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, atas kinerjanya selama memimpin Polda Aceh.
“Beliau menutup masa jabatannya dengan berbagai capaian yang membanggakan bagi Aceh. Dedikasinya menjadi fondasi yang kuat bagi penerusnya,” ujar TM Jamil.
Ia menambahkan, pergantian Kapolda tidak sekadar rotasi jabatan, melainkan bagian dari upaya menjaga kesinambungan profesionalisme institusi Polri di Aceh.
Secara filosofis, Jamil menilai seorang Kapolda harus mampu menyeimbangkan kepentingan lokal dan nasional dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Pancasila, integritas, dan profesionalisme.
“Brigjen Dedy memiliki modal untuk memimpin Aceh secara bijak, adil, dan efektif. Ini juga menjadi simbol bahwa kapasitas dan integritas harus menjadi ukuran utama dalam penempatan jabatan,” katanya.
Jamil berharap kepemimpinan baru di Polda Aceh mampu menjawab berbagai tantangan sosial dan keamanan yang terus berkembang di daerah tersebut.
“Aceh membutuhkan kepemimpinan yang stabil, profesional, dan responsif terhadap dinamika sosial. Brigjen Dedy Tabrani adalah figur yang tepat untuk menjaga kesinambungan tersebut,” pungkasnya. (Geubrina)







