Home / OPINI

Minggu, 27 Agustus 2023 - 15:00 WIB

NGOMPOL DI ATAS KASUR : NGOMONG POLITIK DI ATAS KABAR SURVEY

Oleh :
Shafwan Has
[Pemerhati Sosial, Berdomisili di Banda Aceh]

Judul ini mungkin sedikit menggelitik, buat saya sengaja memilih frasa ini sebagai sebuah gramatikal majas untuk dibaca pemahamannya bahwa keaslian sebuah peluang sering dibungkus dengan angin surga yang menjanjikan, tentu saja bagi mereka yang mudah “dipeugróp” (dipuja puji) oleh teman-temannya sendiri.

“Ngompol” sering terjadi pada anak-anak yang belum sadar dimana pipis yang benar, “kasur” adalah media paling santai saat terlelap jauh di bawah sadar kontrol yang memanjakan anak “kalau sesak pipis aja”.

Ngompol dalam kepanjangan NGOMONG POLITIK menjadi fokus saya untuk moment kekinian yang sering membius “bias” bicara lepas dan terkadang terjadi klaim kepagian yang bahkan bisa jadi memalukan. Fakta terhadap ngomong politik hampir tidak bisa dielak dari masing-masing sumber yang berbaur campur aduk tanpa ending berkesimpulan point, kalau tidak berlebihan inilah yang terjadi dalam “forum” warung kopi tempat ternyaman untuk sesumbar bual dan fakta otentik diselingi gado-gado sayur politik … hmmmm.

Dalam hal ini pikiran saya terciduk dengan istilah NPD (Narsistic Personallity Disorder) kelainan ingin selalu tampil pada pribadi seseorang, untuk seseorang yang memang dianggap cukup ekspert di bidangnya mungkin ini bisa dimaklumi, tapi akan lain ceritanya bila gejala ini muncul pada orang yang hanya semata ingin selalu tampil tapi tidak memiliki kapasitas yang cukup kuat sebagai sumber pengetahuan, pada akhirnya pembicaraan ngawur ngelantur kemana-mana sambil mencari objek cerita yang menarik walaupun di luar konteks. Pembicaraan semacam ini sering terjadi pada mereka biasanya penuh kesibukan, namun semua itu telah berakhir.

Pada Iklim politik kekinian, objek Hasil Survey hangat dibincangkan dan menjadi produk yang tak lawas untuk dijual bermodus kampanye, bisa kampanye di atas rel bisa juga black campaign. Sampai disini saya ingin memaparkan beberapa hal yang lebih logis dan mendidik bila masuk ke pembicaraan survey, harus ada rambu-rambu tertentu yang sangat penting untuk diketahui oleh publik bahwa hasil survey itu sangat mungkin muncul atas unsur abal-abal kesengajaan tanpa dapat dibuktikan dengan akurasi tingkat kebenaran. Output yang diinginkan dari survey-survey seperti ini adalah terbentuknya opini di masyarakat untuk memunculkan sebuah nama tertentu.

Baca Juga  Dulu Prabowo Diliciki Jokowi, Kini Potensial Licik Bersama Jokowi 

Dalam perpolitikan modern saat ini hasil survey sangat laku untuk dijual di forum santai pojok rakyat atau sudut millennial hang out, bahkan ada kelompok tertentu yang sengaja dikedepankan semacam juru kampanye awal untuk memaparkan hasil survey tokoh tertentu, aroma angin surga dari hasil survey ini terkadang dengan mudah membius semangat seseorang untuk meyakini kebenarannya, semakin sering dibicarakan maka semakin besar peluang untuk dikenal, itulah kaidah kuno yang selalu digunakan.

Pada hemat saya sudah sepantasnya masyarakat di cerdaskan dalam membaca sebuah hasil survey, tidak mudah terjebak bahkan sampai yakin, tentu harus ada dasar-dasar pengetahuan yang dapat menguatkan asumsi terhadap maraknya pemberitaan survey-survey politik, faktor apa saja yang harus diperhatikan ketika sebuah survey dirilis?

LEMBAGA SURVEY : Lembaga survey harus memiliki pondasi yang kuat baik sebagai lembaga maupun dalam kapasitas pengetahuan tentang metodologi sebuah jajak pendapat, dia harus mampu menunjukkan kemampuan analisa dan bila perlu dibuktikan dengan rekam jejak tingkat keberhasilan akurasi hasil survey. Di negara-negara maju tidak diperbolehkan survey tanpa izin untuk dipublikasikan, hal ini berkaitan erat dengan pengaruh mutu perjalanan demokrasi.

ASPEK MODULASI : Ketika hasil survey menggelinding liar di publik, hampir dapat dipastikan banyak khalayak yang tidak ingin terlalu tahu basis data atau struktur aspek apa yang dijajak, padahal ini sangat penting, jangan sampai modulnya berlainan dengan sasaran rating point yang ingin dilihat, inilah yang disebut dengan rincian modulasi yang kemudian ditawarkan kepada pertanyaan di public atau semacam angket, kalau dalam bentuk pengamatan maka modul yang diamati harus terperinci dengan data yang dapat diuraikan sampai mengarah ke titik minimal error. Dasar dari pengamatan ini harus mengerucut kepada bentuk pertanyaan sehingga memunculkan kepastian jawaban responden dengan margin error paling rendah.

FAKTOR LOKASI DAN SITUASI : Dalam ilmu politik ada dikenal istilah Terra Incognita, ini adalah satu kondisi dimana ada tempat dan wilayah yang kondisinya belum dipahami dan kurang dikenal oleh peta kekuatan seorang calon atau kontestan politik, ini juga satu hal yang dapat menunjukkan kebenaran hasil yang signifikan, bila ini tidak dipahami maka akan terjadi survey yang boleh jadi tidak diminati untuk dijawab oleh responden, bagaimana mungkin mereka menjawab sedangkan figurnya asing di kalangan mereka. Karena itulah faktor tempat dan situasi yang dimainkan sebenarnya lebih cocok untuk kalangan yang sudah memiliki captive market atau penguasaan pasar minimum, jangan sampai kosong sama sekali yang berakibat kepada hasil survey yang nihil.

Baca Juga  MINTA KEADILAN ? BELI !

SURVEYOR : Terakhir saya memandang faktor pelaku atau tenaga survey sangat penting. Istilah majas ngelintur yang banyak dikenal publik “maju tak gentar membela yang bayar” adalah situasi “lumrah” yang kini terjadi. Seorang tenaga survey haruslah memiliki kemampuan profesionalisme yang mumpuni, dia harus exspert di bidangnya dan sanggup diuji dengan basis akademis atau perhitungan media IT yang modern. Subjektifitas keberpihakan kepada yang membiayai sebuah survey dapat dipastikan akan melahirkan hasil survey yang ABS (asal bapak senang).

Dewasa ini ada kesengajaan untuk memakai tenaga surveyor khusus dibayar hanya untuk diarahkan pada satu calon atau hasil yang sudah disetting dengan tujuan mempengaruhi pasar atau publik, interview dengan responden bahkan hanya dijadikan sumber data saja terkait jumlah, terkait jawaban bahkan tidak dipublis sehingga muncullah pemberitaan survey yang seolah-olah menggunakan metodologi dan sampling yang akurat. Surveyor dalam kategori ini semata-mata hanya mengerjakan “proyek” survey yang sudah ada acuan kerangka hasil, tidak ada cerita independensi pada seorang surveyor ini, yang ada justru bayaran atau keuntungan memakai tenaga sesuai “RAB” resultante by setting out. Kita berharap kepada semua pihak yang ingin mengadu “nasib” sebagai kepala daerah berhati-hatilah. Jangan sampai anda menjadi salah satu korban politik berikutnya … !!!

=============

Editor : T.M. Jamil

Share :

Baca Juga

EDUKASI

Ketika Guru Membangun Peradaban di Tengah Kebisingan Publik

EDUKASI

SNBT Bukan Takdir : Jangan Jadikan Kampus Impian Sebagai Berhala Masa Depan

OPINI

UUPA Bukan Belas Kasihan Jakarta: Aceh Jangan Terus Dipimpin oleh Keberanian Palsu

OPINI

Aceh Tidak Lagi Butuh Wacana : Saatnya Kebijakan dan Keberanian Politik untuk Kedaulatan Energi

EDUKASI

Generasi Emas atau Generasi Brutal? Ketika Pendidikan Melahirkan Kecerdasan tanpa Nurani dan Demokrasi Kehilangan Etika

OPINI

Bangkit atau Sekadar Bertahan? Indonesia di Tengah Krisis Moral Generasi

EDUKASI

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menyelamatkan Generasi di Tengah Krisis Digital

ACEH

Perdamaian Aceh Belum Tuntas Tanpa Ruang Ekonomi Baru