![]()
Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Social Sciences
USK, Banda Aceh.
.
Saudaraku, Sebangsa dan Se-Tanah Air. Ketahuilah bahwa Pemilu itu, termasuk Pemilu 2024 hanyalah sebuah kompetisi atau perlombaan. Dalam perlombaan sudah pasti ada yang kalah dan ada pula yang menang. Yang menang akan tampil dan yang kalah akan tersingkir. Tapi meskipun tersingkir yang kalah tentu saja harus bisa mempersiapkan diri secara lebih baik dan bijak untuk dapat mengikuti lomba lagi pada kompetisi-kompetisi berikutnya.
Begitulah seharusnya kita bersikap dari proses berjalannya sebuah kompetisi yang indah dan bermartabat. Kompetisi itu berbeda dengan “perang” yang merupakan pertarungan hidup atau mati, saling menghancurkan dan saling melenyapkan dengan semangat permusuhan. Na’uzubillahi Min Zhalik.
Dalam perang berlaku hukum “menyerang atau diserang,” membunuh atau dibunuh. Kalah dalam perang berarti kehancuran, tak ada kesempatan untuk mengulang, karena tak ada perang yang dijalankan secara periodik. Karena tingginya risiko dalam perang, maka diperlukan ketegasan sikap terhadap lawan dan kawan. Meski perang dan kompetisi sama-sama memiliki semangat untuk menang dan mengalahkan, namun dalam sebuah kompetisi yang beradab tidak diperbolehkan dan diharamkan menyakiti dan melukai apalagi harus menistakan pihak lain.
Lawan dalam kompetisi bukanlah musuh yang harus dihancurkan, akan tetapi mitra untuk mengasah kemampuan dalam meningkatkan prestasi dan karya nyata untuk bangsa dan Negara. Karena pemilu adalah kompetisi, dan bukan perang, maka tidak layak kiranya menerapkan strategi dan hukum perang. Tidak selayaknya menempatkan lawan politik sebagai musuh yang harus dihancurkan.
Sebaliknya, lawan politik adalah mitra untuk beradu karya, kerja dan prestasi untuk menjadi yang terbaik. Karena pemilu adalah kompetisi maka kalah menang adalah hal biasa. Menang bukan berarti memperoleh segalanya, dan kalah pun bukan berarti kita kehilangan semuanya.
Oleh karenanya, sangat tidak layak mempertaruhkan segalanya demi kemenangan dalam suatu kompetisi yang dijalani setiap periode dan masa. Apalagi sampai mengorbankan persaudaraan, persatuan, persahabatan dan kepentingan lain yang lebih besar. Karena pemilu adalah kompetisi maka selayaknya dinikmati dengan suka cita dan gembira sebagaimana menikmati sebuah pertandingan olah raga atau festival seni.
Para suporter boleh saja memihak dan memberikan dukungan pada para “pemain” idolanya. Tapi tak perlu fanatik yang berlebihan, hingga menganggap pihak lain sebagai lawan yang harus dihancurkan.
Sikap fanatik berlebihan seperti ini bisa menghilangkan kebahagiaan dalam menikmati suatu pertandingan, bahkan bisa merusak jalan pertandingan yang sedang atau akan berlangsung. Camkanlah. Karena pemilu adalah kompetisi maka selesai pertandingan semua akan kembali pada sedia kala. Yang menang, dan yang kalah serta masing-masing pendukung akan terus menjalankan kehidupannya lagi sebagaimana biasa.
Oleh karena itu, ada baiknya tidaklah perlu untuk bersikap dan bertindak berlebihan dalam menyikapi pertandingan. Mari kita Sisakan ruang batin yang lapang tempat kita kembali membina cinta dan kasih sayang pasca kompetisi. Jika semua dipertaruhkan dalam kompetisi, sehingga tidak tersisa ruang batin untuk kembali karena tersekat oleh dendam dan kebencian maka akan sulit melakukan integrasi dan rekonsiliasi.
Dan itu artinya kita telah kehilangan kebahagiaan dan keceriaan untuk membangun sebuah cinta dan cita dalam hidup ini. Agar bangsa ini tidak kehilangan kreativitas dan akal sehat, tetap riang dan bahagia dalam menyikapi pemilu, maka sebaiknya mari kita semua sebagai anak negeri untuk menganggap pemilu hanya sebagai kompetisi atau festival yang perlu dinikmati, bukan seperti perang yang mengobarkan permusuhan dan kebencian.
Karena pemilu itu memang bukanlah perang dan bukan pula sebuah pertempuran untuk menguasai dan berkuasa. Namun Jika ada Mau Berkuasa, silakan, asalkan tidak menzalimi dan menyakiti orang lain. Mari kita sisakan “sedikit ruang” untuk kembali kita dapat membina dan merajut cinta, setelah Pemilu berakhir. Semoga …
Bumi Sultan Iskandar Muda, 24 Mei 2023.







