Home / OPINI

Selasa, 19 September 2023 - 03:08 WIB

KETIKA ARGUMEN, BERBALAS DENGAN SENTIMEN DAN PENZALIMAN : SAYA BELAJAR UNTUK MENGHARGAI

Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Ilmuwan Sosial, USK Banda Aceh

Ya Rabbi, Tuhanku … Aku mendapatkan berkah yang sangat luar biasa pagi ini, karena aku bisa melihat senyuman keluargaku tercinta dan sapaan dari teman-temanku yang indah. Aku melihat senyumnya lebih cerah dari sinar matahari tiap pagi. Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahal Adhiem.

TELAH berjalan hampir beberapa bulan atau setahun lebih, setiap selesai shalat subuh berjamaah bersama keluarga di mushalla, mesjid ataupun di rumah, jadi sebelum mengantar si kecil ke sekolah dan istriku untuk bekerja, saya menuju warkop ataupun kantor – satu jam menjelang berangkat atau masuk kerja biasanya saya berusaha untuk menulis sebuah artikel pendek.

Tulisan atau artikel itu kemudian saya masukkan atau publish ke media, yang sering saya istilahkan sebagai “papan pengumuman” untuk teman-teman, bahwa saya masih sehat di hari ini dengan izin-Nya. Saya juga tidak pernah berpikir, apakah ada gunanya tulisan-tulisan itu atau tidak. Bagi saya yang penting saya telah menulis … Saya juga tidak pernah mau repot-repot membaca kembali tulisan itu, kemudian mengeditnya.

Saya tidak begitu peduli dengan kualitas tulisan tersebut, sehingga akibatnya mungkin sulit dipahami oleh para pembaca, lantaran kalimat-kalimatnya tidak runtun dan juga tidak teratur. Seorang teman baik saya dan juga beberapa aktivis yang rupanya selalu mengikuti tulisan saya itu, berinisiatif dan berbaik hati memasukkan ke facebook atau IG-nya. Saya lihat, ternyata banyak juga yang membaca dan memberi komentar. Sudah barang tentu, karena sedemikian banyak komentar itu, saya tidak sempat memberi jawaban untuk semuanya.

Saya hanya berharap, agar mereka yang telah membaca tulisan saya tidak terlalu kecewa lantaran komentar mereka tidak semua saya respon. Tetapi sesungguhnya komentar-komentar itu semua saya baca, dan tentu saya senang sekali karena mereka telah bersilaturrahmi secara batin dengan saya. Semoga Allah swt memberkati umurnya dan memudahkan rezekinya. Itulah do’a yang selalu saya panjatkan kepadaNya, ketika saya membaca komentar-komentar pengunjung atau pembaca setia saya.

Selain di facebook dan IG, ternyata beberapa tulisan juga diambil dan digunakan untuk mengisi website online milik teman, dan mahasiswa saya di beberapa kampus dan perguruan tinggi di berbagai kota ini. Sampai saat ini saya juga tidak mengerti, kenapa tulisan-tulisan lepas sederhana, dibuat tanpa persiapan apa-apa, dan hanya bersifat spontanitas itu kemudian dipampang di website yang banyak dikunjungi dan dibaca orang.

Alhamdulillah … Saya bersyukur, hingga saat ini tulisan yang berjumlah lebih dari ratusan buah itu belum pernah mendapatkan kritik yang mengecewakan, apalagi yang menyakitkan hati. Bahkan, menurut mereka sebagian dari tulisan-tulisan saya dapat “mengobati” hati mereka yang sedang tersakiti, terzalimi, difitnah dan terluka…

Semua tanggapan, saya pandang sangat positif, dan bahkan menurut beberapa teman, tulisan itu ada manfaatnya. Kebiasaan menulis ini sesungguhnya berawal dari hal yang sederhana saja, yaitu sekedar untuk memanfaatkan waktu luang. Menjelang pulang dari tugas sambil menunggu waktu masuk shalat Maghrib atau setelah shalat subuh, biasa saya menyisakan waktu kira-kira satu jam untuk menulis.

Waktu sesingkat itu biasanya saya hasilkan tulisan antara satu sampai tiga halaman. Memang kegiatan menulis saat itu belum bisa saya lakukan secara istiqamah pada setiap hari. Tetapi setelah beberapa lama, ternyata tulisan tersebut terkumpul menjadi sedemikian banyak. Sebagian diedit oleh teman, adik-adik aktivis atau staf saya yang baik hatinya, dan akhirnya direncanakan untuk dicetak menjadi buku. Sedangkan sebagian lainnya yang juga hilang bersama komputernya. Memang sayang, tulisan-tulisan tersebut belum sempat di print out.

Akhir-akhir ini, ternyata semangat untuk menulis itu tumbuh lagi. Kegiatan itu juga berawal dari alasan yang sangat sederhana. Bahwa setiap selesai shalat subuh dari masjid atau mushalla, biasanya masih jam 05.45 pagi atau mungkin juga kesiangan, saya merasa kesulitan mengisi waktu yang sekiranya bermanfaat dan bisa dilakukan secara istiqamah. Mau berolah raga, dan jalan-jalan pagi misalnya, rasanya sudah terlalu ‘kesiangan’. Sedangkan jika mau bekerja, semisal bersih-bersih halaman rumah, juga kebetulan sudah ada si kakak, si abang-putri dan putra tercinta yang mengerjakannya.

Baca Juga  KETIKA KEJUJURAN MENJADI "BARANG LANGKA DAN MAHAL" DI NEGERI INI

Akhirnya saya menemukan pilihan yang paling tepat, ialah mengisi waktu tersebut dengan menulis artikel pendek. Karena sifatnya hanyalah sekedar mengisi waktu luang, maka artikel-artikel tersebut juga terasa sembarangan, topik-topik yang saya tulis tidak bertema tertentu. Biasanya topik itu saya dapatkan pada waktu berjalan pulang dari masjid atau waktu pulang dari berbagai tugas negara …

Saya punya prinsip : “Ketika kamu merasa pendapatmu tak didengar, ketahuilah bahwa kamu tengah belajar tentang cara MENGHARGAI”, atau sering saya katakan : ketika argumen berbalas sentimen, lalu diakhiri dengan penzaliman, maka saya belajar untuk menghargai dan mencintai semua itu dengan menghadirkan tulisan bagi orang-orang yang kucintai…

Saat itu, biasanya tersirat dalam pikiran, ada sesuatu yang bisa saya tulis. Semakin sering saya dizalimi, disakiti, difitnah, dibenci atau dikecewakan, semakin menginspirasi saya untuk terus belajar menghargai dan mensyukuri nikmat Allah yang saya tumpahkan dalam tulisan. Lalu, setelah sampai di meja kerja di rumah, segera saya hidupkan komputer atau laptop, dan saya memulai menulis. Sebelum menulis, saya tidak pernah atau jarang sekali mencari bahan lewat membaca jurnal, buku atau hasil penelitian terlebih dahulu. Memang jika mau menulis beneran, seharusnya diawali dari menyiapkan bahan-bahan, baik berupa data, informasi, hasil penelitian dan bahkan juga bahan literature lainnya.

Bahan-bahan itu penting untuk memperkuat argumentasi atau bahan bandingan, agar hasil tulisan menjadi lebih baik dan menarik. Namun semua itu sama sekali tidak saya lakukan, karena bagi saya tidak ada waktu. Saya tidak mau repot-repot soal menulis … Menulis artikel pendek, saya anggap sebagai hiburan dan pengobat hati yang terluka saja. Saya merasakan, jika sehari saja tidak menulis, terasa seakan-akan ada sesuatu yang belum saya kerjakan di hari itu. Sepertinya, saya belum berbuat apa-apa hari ini. Alhamdulillah, saya bersyukur kepada-Nya karena selalu membimbing kami ke arah yang lebih baik. Allahu Akbar, Aamiin.

Menulis bagi saya, akhirnya menjadi seperti sebuah kewajiban atau kebutuhan yang datang dari dalam diri sendiri. Oleh karena topik-topik tulisan itu tidak saya rancang sebelumnya, maka semuanya seperti tidak ada kaitan antara satu tulisan dengan tulisan lainnya. Suatu saat misalnya, hari ini, misalnya saya menulis tentang kehidupan atau pendidikan, besoknya menulis tentang hal yang terkait dengan cinta, kecewa, patah hati atau ekonomi, dan besoknya lagi tentang Islam, sosial, dan kadang juga soal politik, dan begitulah seterusnya.

Ada beberapa teman yang usul agar sebaiknya saya menulis tentang tema tertentu, agar mudah menulisnya dan begitu juga pembacanya. Saya katakan secara terus terang, bahwa jika topik-topik itu diatur terlebih dahulu, mungkin justru saya tidak akan jadi menulis. Saya bisa menulis lantaran ada kebebasan yang seluas-luasnya itu. Selama ini saya merasakan, bahwa kreativitas baru akan muncul jika di sana ada iklim atau suasana bebas dan terbuka. Dengan kebebasan dan keterbukaan itu, maka pikiran orang akan menjadi terang dan leluasa hingga akhirnya bisa bergerak ke mana saja maunya. Jadi, saya tak mau terlalu peduli tentang apapun kata orang tentang tulisan-tulisan yang saya hasilkan. Lihat saja di luar sana, berapa banyak para sarjana, doktor, guru besar atau orang-orang hebat, karena mereka sibuk menentukan tema untuk menulis dan merasa dirinya ilmuwan, malah tidak pernah muncul tulisannya di media, selain tulisannya hanya sebagai syarat bagi mereka untuk menyelesaikan studi atau untuk usul kenaikan pangkat saja. Setelah itu mereka sibuk menyalahkan orang lain atau mengejar pangkat, jabatan lalu menjadi “pengkhianat” dan menzalimi musuh-musuhnya. Nauzubillahi min dzalik. Begitulah yang sering saya sampaikan pada teman-teman baik saya saat kami ngopi bareng… mereka hanya diam dan mengangguk-angguk saja… entah apa pula maknanya anggukan itu …

Baca Juga  Pendidikan Indonesia: Masih Fair atau Sudah Menuju Good?

Berangkat dari pandangan tersebut, lalu saya kaitkan dengan banyaknya mahasiswa yang terlambat dalam menulis tugas akhir, maka kemudian saya berpikir, jangan-jangan keterlambatan itu hanya disebabkan oleh hambatan psikis. Mahasiswa banyak terlambat dalam menyelesaikan skripsi, tesis, atau bahkan disertasi itu, hanya karena mereka merasa ada batasan-batasan, baik berupa peraturan, pedoman, dan tata tertib itu. Jangan-jangan peraturan itu yang justru mengganggu kebebasan mereka, hingga mereka tidak pernah berani mulai untuk menulis. Apalagi, hambatan psikologis itu itu juga masih diperparah oleh rasa khawatir, ragu dan takut jika kemudian tulisannya akan dianggap tidak bermutu, salah, dikritik orang dan seterusnya. Wallahu ‘Aklam…

Berbagai hal itu semua menjadikan pikiran mereka tidak bebas dan leluasa. Padahal pikiran bebas dan terbuka merupakan modal penting bagi siapapun yang mau mengekspresikan ide atau buah pikirannya. Ada kebiasaan di kalangan mahasiswa bahwa tatkala akan memulai menulis, mereka mencari pedoman, tuntunan, peraturan dan semacamnya. Cara itu benar, agar tulisannya tidak menyimpang dan salah. Para pembuat peraturan, pedoman atau petunjuk juga tidak keliru. Itu semua dimaksudkan agar siapapun yang mau menulis tidak mengalami kesulitan. Namun pada kenyataannya, semakin banyak pedoman atau petunjuk itu, apalagi semakin banyak untuk bertanya, menjadikan sementara orang justru terganggu, termasuk saya sendiri. Saya Tak suka seperti itu…

Dengan peraturan dan pedoman itu, secara psikologis kebebasan mereka terganggu. Padahal rasa bebas dan keleluasaan itulah merupakan modal utama yang harus dimiliki ketika seseorang mengekspresikan ide atau pikirannya. Sayangnya, ketika mau menulis, yang segera muncul dari pikirannya adalah pedoman dan tata tertib yang kaku itu. Akibatnya buku pedoman dan tata-tertib bukan menjadi sesuatu yang diperlukan, melainkan sebaliknya, yaitu justru mengganggu kebebasan berpikir yang kemudian juga menulis itu.

Ingat, kesulitan dalam menulis dan kemudian saya kaitkan dengan berbagai aturan atau pedoman penulisan, maka ingatan saya tertuju pada para pelukis, penari, dan bahkan juga pada seseorang yang lagi meniti jembatan kecil, sempit, lagi berbahaya. Seorang pelukis atau penari tidak akan bisa membuat lukisan atau menari yang indah jika ketika melakukan profesinya itu masih selalu mengingat-ingat ketentuan tentang menulis dan menari.

Demikian juga seseorang yang sedang berjalan di atas jembatan yang sempit dan bahaya itu, jika ia tidak memiliki kepercayaan diri atau selalu memikirkan resiko akan jatuh, maka justru ia benar-benar akan jatuh. Sebaliknya, jika ia tidak memikirkan bahaya dan penuh percaya diri, maka ia akan dengan mudah melintasi jembatan dan selamat. Walaupun peraturan atau pedoman apa saja itu kadang secara psikologis bisa mengganggu kreativitas, tetapi bukan berarti hal itu tidak perlu.

Semua itu tetap penting, apalagi pada fase-fase pemula, maka pedoman, peraturan dan tata tertib sangat diperlukan. Akan tetapi, hanya selalu berpikir peraturan dan apalagi menjadi takut karena tidak sesuai dengan pedoman, maka juga akan berakibat, tidak akan memulai menulis. Sehingga resikonya, tidak akan mempunyai karya apa-apa. Orang yang takut melakukan kesalahan, maka sesungguhnya ia sudah melakukan kesalahan yang berulang.

Kembali pada kebiasaan menulis pada setiap selesai shalat subuh, hal itu bisa saya lakukan, karena suasana pagi biasanya masih segar, udara jernih dan yang lebih penting lagi adalah karena adanya kebebasan di pagi itu. Ditambahnya lagi dengan ‘kopi hangat’ hidangan istriku tercinta. Dengan tulisan-tulisan sederhana itu saya berharap ada manfaatnya dan setidak-tidaknya dengan tulisan itu membuktikan bahwa di pagi itu saya masih sehat, dan Alhamdulillah Allah swt masih memberikan kesehatan yang prima, umur yang panjang dan berkah untuk saya, sehingga saya masih bisa berbuat yang terindah untuk ummat dan bangsa ini. Amien Yaa Rabbal ‘Alamiin…

*Pojok Kota Banda Aceh, 19 September 2023*

Share :

Baca Juga

OPINI

Gas Aceh, Kita Dapat Apa? Antara Potensi Raksasa dan Realitas Warga yang Masih Gelap

OPINI

Likuidasi Jiwasraya Selesai, Publik Tanya: Rekomendasi Siapa dan Bagaimana Nasib Asabri?

OPINI

26 Tahun Bumi Flora: Ketika Kursi Kekuasaan Mengubur Konflik Agraria Aceh Timur

EDUKASI

Pendidikan Indonesia: Masih Fair atau Sudah Menuju Good?

ACEH

Pasca Banjir Bandang-Longsor, Warga Aceh Desak Pemerintah Segera Realisasikan Dana Pemulihan 2026

HUKUM

Ketika Keadilan Dipertanyakan: Antara Hukum, Integritas, dan Harapan Publik

OPINI

Istilah “Londo Ireng” Kembali Mencuat, Aktivis Soroti Praktik Neokolonialisme di Era Modern

OPINI

Ketika Keramaian Bukan Jaminan Kebenaran