Home / OPINI

Kamis, 28 Agustus 2025 - 21:37 WIB

Makelar Jabatan : Gejala Lama, Modus Baru

Oleh: Prof. TM. Jamil, M.Si (Akademisi dan Pengamat Politik Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh)

MEDIALITERASI.ID | OPINI – Fenomena makelar jabatan bukanlah cerita baru. Ia berulang dari waktu ke waktu, di berbagai daerah, dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Modusnya bisa berubah, tetapi intinya tetap sama: jabatan publik diperdagangkan seperti komoditas.

Dari pengamatan dan penelitian saya, pola ini hanya bisa tumbuh subur ketika pemerintah daerah tidak kompak. Gubernur, wakil gubernur, bupati, wakil bupati, wali kota, dan wakil wali kota gagal menyatukan langkah, karena masing-masing sibuk mengutamakan kepentingannya sendiri. Di situlah para calo jabatan dengan wajah lama maupun gaya baru menemukan celah.

Baca Juga  Mualem Ke Bangkok Tawar Peluang Investasi Ke Pengusaha Thailand

Jika kepala daerah dan timnya bersatu, mengedepankan musyawarah dan mufakat, praktik kotor itu akan mati dengan sendirinya. Kuncinya sederhana: hentikan politik balas jasa dan hapus istilah “timses si A” atau “timses si B” dalam menentukan jabatan strategis. Selama loyalitas pribadi mengalahkan kepentingan publik, makelar jabatan akan selalu punya panggung.

Saya mengingatkan, berhati-hatilah dengan orang-orang di sekitar kekuasaan yang gemar membisikkan kepentingan pribadi. Salah langkah bisa berakibat fatal—jabatan yang dipertaruhkan, nama baik yang dipertaruhkan, bahkan kehormatan pemerintahan yang dipertaruhkan.

Saya percaya, Gubernur Muzakir Manaf (Muallem) memahami fenomena ini. Sebagai pemimpin yang dipilih langsung rakyat, ia tak seharusnya tunduk pada bisikan siapapun. Pengalaman panjangnya, termasuk saat menjadi wakil gubernur, mestinya membuat ia mampu mengambil keputusan berdasarkan nurani, akal sehat, dan aturan hukum, bukan tekanan kelompok.

Baca Juga  Mualem Gerak Cepat :  Dorong Percepatan Pembangunan Aceh di Sektor Infrastruktur dan Ketahanan Pangan

Harapan saya sederhana: hentikan budaya lama yang tidak beradab ini. Biarkan pemerintah bekerja berdasarkan kepentingan rakyat, bukan kepentingan tim sukses atau para makelar jabatan. Jika Aceh ingin maju, Muallem harus berani membuktikan bahwa jabatan tidak untuk dijual, dan sejarah kelam masa lalu tidak akan terulang hanya karena kelemahan dan kebodohan kita sendiri.

Sudut Kota Banda Aceh, 28 Agustus 2025

Share :

Baca Juga

EDUKASI

Dari Penilaian ke Asesmen, dari Hukuman ke Disiplin Positif: Menguji Wajah Baru Pendidikan Indonesia

HUKUM

Ketika Klien Bertanya: Memahami Hak dan Peran Advokat dalam Perkara Hukum

OPINI

Untuk Para Pakar Yang Dianggap Goblok, Jangan Pernah Kapok

OPINI

ANALISIS: Dua Gerbang Energi Dunia Terkunci, Indonesia Waspada Krisis Logistik Global

ACEH

Maulid Nabi di Pulo Gajah Mate Meriah dengan Zikir dan Rapai, Tgk. Asnawi Ajak Generasi Muda Teladani Rasulullah SAW

OPINI

Pergantian Menkeu Tanpa Penjelasan

OPINI

Mengembalikan Kedigdayaan Samudera Pasai Melalui Pengembangan Ekonomi Maritim 

EDUKASI

Jangan Langsung Mengajar: Mengapa Lima Menit Pertama Menentukan Semangat Belajar Siswa